24 Mei 2022
    Follow Us:  



Nasional

Alasan Tidak Mudik di Tengah Serangan Wabah Corona


Jangan mudik di tengah Corona Virus

Mudik bagi sebagian besar masyarakat Indonesia merupakan sebuah keharusan dan juga dianggap hal yang fenomenal. Banyak rute yang bisa dilalui bagi pemudik pada umumnya, karena di Indonesia sendiri sudah banyak fasilitas transportasi yang bisa kita manfaatkan seperti kereta api dan bus untuk perjalanan darat.

Meskipun pada musim mudik harga transportasi mengalami kenaikan, namun tidak menyurutkan minat mereka. Hal itu dilakukan agar bisa bertemu dengan keluarga, orang tua, kerabat dekat, teman. Dan terlebih untuk melepas kangen, yang disertai jabat tangan, sungkem kepada orang tua, serta pelukan erat.


Namun bagaimana dengan musim wabah virus corona atau COVID-19, apakah kita masih berkeinginan untuk mudik? Seperti kita ketahui bahwa COVID-19 merupakan sebuah virus yang menjadi ancaman terhadap kesehatan manusia. Selain itu COVID-19 yang sudah mewabah dengan sangat cepat di seluruh dunia harus segera kita hentikan penyebarannya.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) telah memperpanjang status darurat COVID-19 menjadi 91 hari, mulai dari 29 Februari 2020 hingga 29 Mei 2020. Hal ini menandakan bahwa wabah virus ini mengalami peningkatan sehingga pemerintah sendiri membutuhkan waktu tambahan untuk mengatasinya.

Lalu bagaimana dengan bulan Ramadhan atau Hari Raya idul fitri yang menurut kalender jatuh pada tanggal 23 Mei 2020 apakah kita harus mudik? berikut merupakan alasan mengapa mudik di tengah wabah COVID-19 justru berpotensi membawa celaka daripada bahagia.

  1. Potensi penyebaran COVID-19 meningkat berkali lipat. Pada saat mudik setiap orang berpotensi menjadi carrier atau pembawa virus terlebih apabila mereka berasal dari zona merah, bahkan ketika mereka melewati zona merah potensi penyebaran akan lebih meningkat lagi. Carrier di sini bisa jadi tidak memiliki keluhan atau gejala penderita COVID-19 bahkan bisa dibilang pemudik masih tampak sehat sehingga pemudik sekaligus carrier ini bisa jadi lolos proses screening. Sehingga ketika mereka mudik hal itu tentu membahayakan banyak orang terutama keluarga dan teman-teman di kampung halaman.
  2. Himbauan physical distancing gagal pada saat mudik. jarak minimal terdekat antara penderita dengan yang sehat minimal 1,5 m. Hal ini juga sedang gencar diumumkan oleh pemerintah kepada masyarakat melalui physical distancing. Namun bagaimana pada saat mudik? bisa dipastikan program physical distance gagal direalisasikan, terutama warga yang menggunakan transportasi umum.
  3. Ancaman Orang Dalam Pengawasan (ODP) di tengah pemudik. Orang-orang yang ditetapkan sebagai ODP merupakan pemudik yang berasal dari daerah Zona Merah, yang berpotensi sebagai carrier COVID-19. Sehingga pemudik dengan status ODP harus mengikuti serangkaian protokol pencegahan seperti wajib melakukan isolasi mandiri selama 14 hari.
  4. Minimnya fasilitas kesehatan terutama di daerah-daerah. Hingga hari ini banyak dari kalangan dokter dan perawat yang mengeluhkan kondisi kesiapan fasilitas kesehatan di daerahnya. Baik itu Puskesmas, Klinik, atau Rumah Sakit. Tidak tersedianya Alat Pelindung Diri (APD), Alat untuk melakukan tes, seperti Rapid Test, dll. Kebanyakan pihak rumah sakit sudah mengeluhkan hal ini kepada pemerintah setempat, namun belum ada titik terang terkait permasalahan ini. Sehingga hal itu akan sangat mempersulit penanganan dalam penyebaran COVID-19, bahkan tidak tanggung-tanggu banyak juga dari kalangan dokter yang justru menjadi korban dari keganasan COVID-19.
Jadi, marilah kita lebih bijaksana dalam menyikapi setiap keadaan. Sayangilah orang-orang terdekat Anda dengan tidak mudik di tengah penyebaran COVID-19.




Nasional TERBARU


Silahkan Buat akun atau Login untuk Berkomentar dari web!

0 Comment