24 Mei 2022
    Follow Us:  



Sirah Nabawiyah

Kisah Perjalanan Hidup Manusia Agung Rasulullah Muhammad SAW, Sirah Nabawiyah Bagian 22


Kisah Nabi Muhammad SAW

Jika menjadi pengecut, ilmu kita akan padam. Orang lain bahkan diri sendiri tidak akan mendapat manfaatnya. Orang pengecut pekerjaannya akan sia-sia. Duduknya di bawah tidak berani di atas dia hanya menjadi pengikut tidak berani diikuti.

KISAH RASULULLAH

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ مُحَمد

 

Bagian 22

Suasana Madinah

menjadi tentram setelah Bani Nadhir dikeluarkan. Hati mereka semua lega dengan suasana yang begitu tenang tentram dan aman. Al Muhajirin kini dapat hidup mandiri berkat tanah-tanah yang dibagikan dan itu membuat orang-orang Anshor turut bergembira.

Namun peristiwa Perang Uhud sudah hampir setahun berlalu, Rasulullah teringat ancaman Abu Sufyan yang diucapkan ketika Perang Uhud berakhir, “Yang sekarang ini untuk peristiwa Perang Badar. Sampai jumpa tahun depan.”

Kata-kata itu adalah tantangan untuk bertempur lagi di lembah Badar. Rasulullah mewaspadai apa yang akan dilakukan orang-orang Quraisy. Kekhawatiran beliau ternyata benar-benar terjadi karena tidak lama kemudian, tibalah seorang utusan Quraisy dan membawa sebuah pesan

Badar Terakhir

Utusan Quraisy itu bernama Nu’aim bin Mas’ud. Ia tiba di Madinah dan mengabarkan:

“orang-orang Quraisy telah mengerahkan tentaranya dalam jumlah yang begitu besar dan tidak ada taranya dalam sejarah bangsa Arab.

Tentara besar itu kini sudah bergerak ke lembah Badar, mereka siap memerangi kalian sekaligus meluluhlantakkan kalian hingga tidak bersisa. Jika kalian berani pergi ke lembah Badar.”

Mendengar berita itu banyak kaum muslimin menunjukkan keengganannya.

“Lebih baik kita abaikan saja tantangan itu.”

Akan tetapi Rasulullah menjadi marah terhadap sikap lemah dan ingin mundur itu. Rasulullah bahkan bersumpah bahwa beliau akan tetap pergi ke Badar walau seorang diri.

Melihat kemarahan Rasulullah itu, lenyaplah rasa ragu dan takut di hati kaum muslimin. Mereka segera pulang ke rumah dan menyiapkan segala sesuatunya. Bekal makanan senjata dan berpamitan kepada keluarga yang ditinggalkan.

Setelah itu 1500 orang prajurit muslim di bawah komando Rasulullah langsung berangkat meninggalkan Madinah.

Sebenarnya Abu Sofyan sendiri enggan berperang pada tahun ini, musim kering tengah mengganas. Harapan Abu Sufyan sebenarnya agar perang diadakan pada waktu lain saja. Namun ia terlanjur melepaskan kata-kata tantangan pada Perang Uhud akhir itu.

Karena itu ia tidak mungkin tidak berangkat memenuhi tantangannya sendiri. Hal itu akan membuat cemar Quraisy di mata orang-orang Arab. Akhirnya Abu Sufyan memutuskan untuk mengirim Nu’aim masuk ke Madinah. Nu’aim disuruhnya mengeluarkan kata-kata untuk menggertak kaum muslimin dan melemahkan semangat mereka.

Walaupun demikian Abu Sufyan tetap memimpin pasukan sebesar 2000 orang. Mereka keluar dari Mekkah tidak dengan semangat sebesar dulu ketika menyongsong Perang Uhud. Apalagi mereka juga mendengar bahwa kaum muslimin telah menanti mereka di lembah badar dengan semangat tinggi.

Syaja’ah adalah keberanian. Orang yang disebut berani adalah orang yang tidak gentar menghadapi bahaya dan menghindarkan bahaya yang lebih besar. Ia maju menghadapi kesulitan karena yakin bahwa dibalik kesulitan itu akan lahir sebuah kebahagiaan.

Kemenangan

Pasukan Quraisy sudah berjalan selama 2 hari dan tiba di Zahran dan bermalam di Majannah, sebuah pangkalan air di daerah itu. Namun hati Abu Sufyan semakin berat. Ia memikirkan lagi akibat perperangan dengan kaum muslimin. Ketakutan membayangi hatinya. Puncaknya Abu Sufyan berusaha mencari alasan untuk pulang.

Abu Sufyan berkata kepada teman-temannya, “Saudara-saudara Quraisy, sebenarnya yang cocok buat kita hanyalah dalam musim subur, sedang sekarang kita dalam musim kering. Saya sendiri mau kembali pulang, maka dari itu pulang sajalah kamu sekalian.”

Tidak ada yang menentang pendapat itu karena semua prajurit Mekah juga dilanda ketakutan yang sama. Akhirnya pasukan Quraisy pun kembali pulang. Sementara itu Rasulullah dan kaum muslimin terus-menerus menantikan mereka selama 8 hari.

Kesempatan itu digunakan kaum muslimin untuk berdagang. Perdagangan itu menghasilkan keuntungan yang banyak. Kaum muslimin pun kembali ke Madinah dengan gembira, karena Allah telah memberikan keberuntungan yang demikian besar.

“Berita mengejutkan, saudara-saudara!” seru seorang Arab pedalaman kepada orang-orang di sukunya.

“Orang-orang Quraisy mengundurkan diri sebelum bertempur, sementara Muhammad dan para sahabatnya menunggu mereka di Badar selama berhari-hari!”

Temannya berdiri dan meludah ke tanah,

“Pengecut! Padahal mereka telah memukul Muhammad di Uhud! Jika terus begini, kesudahan orang-orang Mekkah sudah dapat diramalkan dari sekarang!”

Dengan demikian, Perang Badar terakhir itu benar-benar telah menghapus kemenangan Quraisy pada perang Uhud. Tindakan pengecut Quraisy yang menarik diri sebelum tiba di tempat pertempuran telah membuat nama mereka tercemar melebihi ketika mereka kalah pada Perang Badar pertama.

Sementara itu walaupun pasukannya mendapatkan kemenangan. Rasulullah tetap waspada.

Terbukti, tidak lama setelah itu terdengar berita bahwa pasukan Bani Ghatafan dari Najd tengah berkumpul untuk menyerang Madinah dalam jumlah yang sangat besar.

 


اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ مُحَمد

Perang Sobekan Kain

Rasulullah menyerahkan kepemimpinan Madinah kepada Abu Dzar Al-Ghifari, kemudian Beliau berangkat bersama pasukannya secara diam-diam. Tujuannya menyergap musuh sebelum mereka sempat mempersiapkan diri.

Abu Musa Al-Asy’ari menceritakan perang itu.”Waktu itu, setiap 6 orang dari kami bergantian menaiki seekor unta. Kemudian telapak kaki pecah-pecah. Telapak kaki saya sendiri pecah dan kuku-kukunya copot. Waktu itu, kami membalut kaki-kaki kami dengan sobekan kain, karena itu aku menyebut peperangan ini dengan Dzatur Riqo atau sobekan kain.

Sejumlah 400 orang sahabat dipimpin Rasulullah berhasil melakukan serangan mendadak terhadap kumpulan pasukan Bani Ghatafan di Nakhl. Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى menurunkan rasa takut di hati pasukan musuh yang jumlahnya jauh lebih besar itu sehingga mereka lari pontang-panting tanpa bertempur sama sekali. Harta dan kaum wanita ditinggalkan begitu saja untuk ditawan pasukan muslim.

Setelah kemenangan gemilang itu Rasulullah dan para sahabatnya bersiap diri menghadapi serangan balik musuh. Dalam keadaan seperti itu Rasulullah memimpin sahabatnya melakukan shalat khauf (shalat dalam keadaan takut).

Satu kelompok berbaris bersama Rasulullah , sedangkan kelompok yang lain menghadap musuh. Kelompok pertama kemudian sholat bersama Rasulullah lalu Beliau berdiri tegak ketika kelompok pertama menyempurnakan shalatnya. Setelah itu kelompok pertama tadi mundur dan berbaris menghadapi musuh sedangkan kelompok kedua maju dan Rasulullah mengimami mereka meneruskan sholatnya yang belum selesai. Kemudian Rasulullah duduk sementara mereka menyempurnakan shalat, kemudian mereka mengikuti Rasulullah .

Dalam pertempuran ini, dua orang sahabat, satu dari Muhajirin dan satu dari Anshar mendapat giliran jaga malam, sedangkan saudara-saudara mereka yang lain beristirahat. Sahabat Muhajirin melakukan salat malam dan terkena panah musuh, tetapi dicabutnya panah itu dengan tenang dan meneruskan sholatnya. Demikian sampai tiga kali. Ketika sahabat Anshar itu mengetahuinya dia bertanya,

“Mengapa kamu tidak memberi tahu aku?”

“Engkau sedang membaca satu surat dan aku tidak ingin memutuskannya,” jawab sahabat Muhajirin.

Sifat pengecut tidak akan kita temukan dalam kisah Rasulullah dan para sahabatnya.

Jika menjadi pengecut, ilmu kita akan padam. Orang lain bahkan diri sendiri tidak akan mendapat manfaatnya. Orang pengecut pekerjaannya akan sia-sia. Duduknya di bawah tidak berani di atas dia hanya menjadi pengikut tidak berani diikuti.

Bani Musthaliq

Setelah kemenangan pada Perang Badar kedua Rasulullah memerintahkan para penyair muslim untuk menyebarkan syiar Islam tentang kemenangan dan kegagalan pasukan Quraisy. Tidak hanya sampai di situ para penyair itu juga mencela Abu Sufyan dan pasukannya.

Hal itu tidak dibiarkan oleh sekutu Quraisy yang paling kuat yaitu Bani Musthaliq. Bani musthaliq adalah penguasa perdagangan. Mereka mempunyai banyak harta dan budak-budak kulit hitam, selain itu mereka membiarkan orang-orang Quraisy menjadi pemimpin mereka karena orang-orang Quraisy-lah yang tinggal di dekat Kabah tempat patung-patung Tuhan mereka diletakkan.

Bani musthaliq mengutus para penyairnya menemui Abu Sufyan untuk menghibur pemimpin Quraisy itu. Para penyair melantunkan kata-kata cacian bagi Rasulullah dan para sahabatnya. Al Haris pemimpin Bani Musthaliq juga mengajak suku-suku di sekitar Bani Musthaliq untuk berkumpul menyusun pasukan. Semua suku yang mendukungnya adalah mereka yang bertempat tinggal di tepi laut merah.

Selanjutnya Bani Musthaliq maju sebagai komandan perang Pasukan gabungan itu. Bendera kini diserahkan orang Quraisy kepada Al Haris. Dari kemampuan tempur Al Haris memang lebih pantas menjadi Panglima dibandingkan Abu Sufyan. Di bawah kepemimpinannya semua persiapan pasukan di lakukan dengan sungguh-sungguh.

Rasulullah mengetahui bahwa pasukan ini akan menyerang Madinah, maka Rasulullah pergi meninjau wilayah musuh untuk mengetahui tempat terbaik bagi kaum muslimin apabila harus bertempur.

Setelah mengadakan musyawarah dengan para sahabatnya, Rasulullah memutuskan untuk menyambut pasukan musuh.

Yang menakjubkan adalah cara Rasulullah menjinakkan hati Abdullah bin Ubay yang sebenarnya sangat membenci kaum muslimin. Abdullah bin Ubay ditugasi pemimpin pasukan Anshor dari suku Khazraj.

Rasulullah kemudian mengundi di antara istri-istrinya, Siapakah di antara mereka yang akan diajak mengikuti pertempuran. Ternyata nama Aisyah yang keluar. Maka Aisyah bisa dinaikkan ke unta yang khusus disediakan untuk beliau.

Penyair berperan penting dalam Perang urat syaraf. Rasulullah pernah berkata kepada Hasan bin Tsabit seorang penyair.

“Wahai Hasan, engkau berjuang melawan orang kafir dan Jibril selalu bersamamu. Ketika sahabatku bertempur menggunakan senjata, engkau bertempur dengan kata-katamu.”

 


اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ مُحَمد

Juwairiyah binti Harits

Sejumlah1500 pasukan muslim diperintahkan Rasulullah untuk bergerak dengan cepat sehingga musuh kesulitan mengetahui di mana pasukan Rasulullah berada. Kemudian di sebuah tempat yang memang sudah ditetapkan oleh Rasulullah saat meninjau musuh, pasukan muslim menyerang dengan kecepatan tinggi secepat kilat. Pertempuran itu terjadi di Medan terbuka. Hujan panah jarak jauh pasukan muslim membuat musuh tercerai-berai, sehingga begitu pasukan utama muslim tiba, dengan mudah mereka membuat kocar-kacir barisan musuh.

Pada akhir pertempuran 200 orang prajurit Bani Musthaliq tertawan. Sejumlah harta berupa unta, kuda dan barang-barang lain dapat direbut. Al Haris komandan tertinggi musuh, jatuh tersungkur dihantam panah. Putrinya ikut menjadi tawanan.

Para tawanan dan harta dibagi-bagikan kepada pasukan. Putri Al Haris bernama Barrah menjadi bagian seorang muslim yang miskin. Muslim ini menghendaki keluarga Barrah menebusnya dengan harta. Namun Barrah sudah tidak mempunyai apa-apa lagi. Karena itu, Barrah menemui Rasulullah dan mengadu,

“Saya adalah Putri Al Haris pemimpin Bani Musthaliq. Lelaki yang menawan saya lebih menginginkan harta daripada menjadikan saya istri atau budaknya, bantulah saya untuk memerdekakan diri saya.”

Rasulullah berpikir dalam-dalam. Apabila Barrah dibebaskan dan kembali ke tengah kaumnya, ia sangat mungkin akan membangkitkan kaumnya untuk membalas kekalahan mereka. Rasulullah mengetahui dari wajah Barrah yang matanya memancarkan kecerdasan dan keberanian bahwa ia bukan gadis biasa. Dia akan mampu menerjang berbagai rintangan.

“Apa kamu mau jalan keluar yang lebih baik dari itu?” tanya Rasulullah.

“Apa itu?”

“Aku akan membayar uang tebusan mu, lalu akan menikahimu.”

Barras setuju dan ia masuk Islam. Setelah menjadi istri Rasulullah , namanya menjadi Juwairiyah. Kini Bani Musthaliq sekutu dekat orang quraisy, menjadi sekutu dekat Rasulullah berkat pernikahan ini. Mereka merasa terhormat tuan putrinya menjadi istri Rasulullah . Setelah itu, banyaklah kaum Bani Musthaliq yang memeluk Islam. Subhanallah.

Hasutan Abdullah bin Ubay

Setelah memetik kemenangan gemilang itu. Pasukan muslim kembali berbaris pulang ke Madinah. Di Telaga Al Muraisy mereka singgah sebentar untuk beristirahat dan memberi minum ternak. Di tempat itu terjadi pertengkaran antara pelayan Umar bin Khattab bernama Jahjah Bin Said Al Ghifari dengan Sinan bin Webr Al Jasni. Keduanya saling bertengkar hebat sampai Sinan berteriak memanggil kaumnya,

“Wahai kaum Anshar!”

Jahjah pun membalas dengan teriakan,

“Wahai kaum Muhajirin!”

Orang-orang pun berdatangan termasuk Abdullah bin Ubay, Dengan berang, Abdullah bin Ubay berkata kepada orang-orang munafik yang mengelilinginya,

“Mereka (Muhajirin) adalah menyaingi dan mengungguli kita di negeri kita sendiri. Demi Allah antara kita dan orang-orang Quraisy ini (Rasulullah dan kaum Muhajirin adalah suku Quraisy) tak ubahnya seperti yang dikatakan orang, “Gemukkan anjingmu agar menerkammu!” Demi Allah, jika kita telah sampai di Madinah, orang yang mulia pasti akan mengusir kaum yang hina (Muhajirin)!”

Zaid bin Arqam mendengar kata-kata yang sangat berbahaya ini lalu ia cepat-cepat melaporkan hal itu kepada Rasulullah . Mendengar itu Umar bin Khattab yang berada di samping Rasulullah berkata,

“Wahai Rasulullah, perintahkan saja Abbad bin Bisyr untuk membunuh Abdullah bin Ubay!”

Rasulullah menjawab,

“Bagaimana, wahai Umar jika kelak orang-orang bicara bahwa Muhammad telah membunuh salah seorang sahabatnya? tidak aku tidak akan membunuhnya!”

Seketika itu juga Rasulullah mengeluarkan perintah agar kaum muslimin segera berangkat. Walau dengan keheranan karena belum cukup beristirahat pada hari sepanas itu, kaum muslimin segera mengikuti perintah Rasulullah .

Hari itu Rasulullah dan kaum muslimin berjalan terus melampaui malam sampai keesokan harinya. Ketika Rasulullah memerintahkan pasukannya berhenti untuk beristirahat semua orang jatuh tertidur karena begitu lelah.

Rasulullah sengaja mengajak pasukannya berjalan terus sehari semalam agar kelelahan, ini akan membuat semua orang melupakan hasutan Abdullah bin Ubay yang mengatakan bahwa nanti di Madinah orang Anshar akan mengusir kaum Muhajirin.

Surat Al Munafiqun

Saat itu turunlah Surat Al Munafiqun,

 

يَقُولُونَ لَئِنْ رَجَعْنَا إِلَى الْمَدِينَةِ لَيُخْرِجَنَّ الْأَعَزُّ مِنْهَا الْأَذَلَّ ۚ وَلِلَّهِ الْعِزَّةُ وَلِرَسُولِهِ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَلَٰكِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَا يَعْلَمُونَ

“Mereka berkata: Sesungguhnya jika kita telah kembali ke Madinah, benar-benar orang yang kuat akan mengusir orang-orang yang lemah dari padanya. Padahal kekuatan itu hanyalah bagi Allah, bagi Rasul-Nya dan bagi orang-orang mukmin, tetapi orang-orang munafik itu tiada mengetahui.” Surah Al-Munafiqun (63:8)

 


اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ مُحَمد

Sesampainya di Madinah,

 putra Abdullah bin Ubay yang juga bernama Abdullah, menemui Rasulullah .

“Ya, Rasulullah,” panggil Abdullah,

“Saya dengar Tuan ingin membunuh ayahku. Jika benar Tuan ingin melakukannya, perintahkanlah aku. Aku bersedia membawa kepalanya di hadapanmu. Demi Allah, tidak ada orang dari suku Khazraj yang dikenal lebih baik sikapnya kepada orangtuanya daripada aku. Aku takut engkau akan memerintahkan orang selain aku untuk membunuhnya sehingga jiwaku tidak tahan melihat pembunuh ayahku berjalan di tengah masyarakat, lalu aku membunuhnya pula. Ini berarti aku membunuh seorang mukmin karena seorang kafir sehingga aku menjadi penghuni neraka.”


Akan tetapi, Rasulullah bersabda,

“Bahkan kita akan bertindak lemah lembut dan berlaku baik kepadanya selama dia masih tinggal bersama kita.”

Justru setelah itu, sempitlah ruang gerak Abdullah bin Ubay. Setiap kali ia mengemukakan pendapat, seketika itu pula kaumnya menentang dan mengencamnya.

Melihat keadaan itu, Rasulullah bertanya sambil tersenyum kepada Umar bin Khattab,

“Bagaimana pandanganmu sekarang, wahai Umar? Demi Allah, seandainya engkau membunuhnya pada hari kau katakan kepadaku, ‘Bunuhlah dia’ niscaya orang-orang akan ribut. Namun, seandainya aku perintahkan kamu untuk membunuhnya sekarang, apakah kamu akan membunuhnya juga?”

Rasulullah bertanya demikian karena saat itu lidah bercabang Abdullah bin Ubay sudah habis kekuatannya. Tidak usah dibunuh pun ia sudah sama sekali tidak berdaya.

Umar Bin Khattab pun mengakui pandangan jauh Rasulullah ,

“Demi Allah, aku telah mengetahui bahwa keputusan Rasulullah ﷺ lebih besar berkahnya daripada pendapatku.”

Bunda Aisyah Kehilangan Kalung

Dalam perjalanan pulang ke Madinah setelah melawan Bani Musthaliq inilah, terjadi suatu peristiwa yang mengganggu ketentraman hati Rasulullah . Kejadian ini mengenai istri Rasulullah yang ikut dalam peperangan kali ini, yaitu Aisyah.

Penuturan Aisyah kejadian ini, setelah selesai peperangan, Rasulullah bergegas pulang dan memerintahkan orang-orang agar segera berangkat pada malam hari. Pada saat semua orang sedang berkemas-kemas hendak berangkat aku keluar untuk membuang hajat, kemudian aku kembali hendak bergabung dengan rombongan. Pada saat itu kuraba raba kalung di leher ku, ternyata sudah tak ada lagi. Kemudian aku kembali lagi ke tempat aku mau buang hajat tadi, untuk mencari-cari kalung hingga dapat ku temukan.

Pada saat aku sedang mencari-cari kalung, datanglah orang-orang yang bertugas melayani unta tungganganku. Mereka sudah siap segala-galanya, mereka menduga aku telah berada di dalam haudaj (rumah kecil yang terpasang di punggung unta), sebagaimana dalam perjalanan.

Oleh sebab itu haudaj mereka angkat, kemudian diikatkan pada punggung unta. Mereka sama sekali tidak menduga bahwa aku tidak berada di dalam haudaj, karena itu mereka segera memegang tali kekang lalu mulai berangkat!

Ketika aku kembali ke tempat perkemahan tidak ku jumpai seorang pun yang masih tinggal. Semua telah berangkat.

Dengan berselimutkan jilbab Aku berbaring di tempat itu. Aku berpikir pada saat mereka mencari-cari aku tentu mereka akan kembali ke tempatku.

Demi Allah pada saat aku sedang berbaring tiba-tiba Shafwan bin Mu’atthal lewat. Agaknya ia bertugas di belakang pasukan. Dari kejauhan, ia melihat bayang-bayangku. Ia mendekat lalu berdiri di depanku. Ia sudah melihat dan mengenalku sebelum kaum wanita dikenakan wajib berhijab. Ketika melihatku, Ia berucap,

“Innalillahi wa innailaihi roojiun! Istri Rasulullah?” Aku pun terbangun oleh ucapannya itu. Aku tetap menutup diriku dengan jilbabku.

“Demi Allah, saya tidak mengucapkan satu kalimat pun dan aku tidak mendengar ucapan dari nya kecuali ucapan innalillahi wa innailaihi roojiun itu. Kemudian dia merendahkan untanya lalu aku menaiki unta itu ia berangkat menuntun unta kendaraan yang aku naiki sampai kami tiba di Nahri Adh Dhahirah tempat pasukan turun beristirahat.”

Di sinilah mulai tersiar fitnah tentang diriku. Fitnah ini bersumber dari mulut Abdullah bin Ubay bin Salul.”

Aisyah Jatuh Sakit

“Lihat Mengapa istri Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam berjalan bersama orang yang bukan muhrimnya?” seru Abdullah bin Ubay. Mungkinkah mereka ternyata saling menyukai?”

Beberapa orang muslim termakan oleh hasutan ini sehingga berita bohong itu tersiar dengan cepat. Kali ini, bukan saja oleh Abdullah bin Ubay, tetapi juga diperkuat oleh orang-orang lain. Aisyah sendiri tidak mengetahui adanya berita bohong itu karena beliau jatuh sakit begitu tiba di Madinah.

Aisyah menuturkan,

“Setibanya di Madinah, kesehatanku terganggu selama sebulan. Saat itu rupanya orang-orang sudah banyak mendesas-desuskan berita bohong itu, sedangkan aku belum mendengar sesuatu mengenainya. Hanya saja, aku tidak melihat kelembutan dari Rasulullah yang biasa ku rasakan ketika aku sakit. Beliau hanya masuk lalu mengucapkan salam dan bertanya,

“Bagaimana keadaanmu?”

Setelah agak sehat, aku keluar pada suatu malam bersama ummy Masthah untuk membuang hajat. Waktu itu kami belum membuat kakus. Pada saat kami pulang tiba-tiba kaki ummu Masthah terantuk hingga kesakitan dan terlontar ucapan dari mulutnya, “Celaka si Masthah!”

Ia pun ku tegur,

“Alangkah buruknya ucapanmu itu mengenai seseorang dari kaum Muhajirin yang turut serta dalam Perang Badar!”

Ummu Masthah bertanya,

“Apakah anda tidak mendengar apa yang dikatakannya?”

Ia kemudian menceritakan kepadaku berita bohong yang tersiar sehingga sakitku bertambah parah….

Malam itu aku menangis hingga pagi. Air mataku terus menetes dan aku tak dapat tidur.

Rasulullah meminta pendapat para sahabatnya tentang Aisyah

“Wahai Rasulullah, Para istrimu adalah keluargamu kami tidak mengetahui tentang mereka kecuali kebaikan,” jawab para sahabat.

Rasulullah memanggil Bariroh pelayan perempuan bunda Aisyah. Rasulullah bertanya,

“Apakah kamu melihat sesuatu yang mencurigakan dari Aisyah?”

Barirah berkata, bahwa ia tidak mengetahui Aisyah kecuali bahwa Aisyah adalah orang yang sangat baik, akhirnya Rasulullah berdiri di atas mimbar.

 


اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ مُحَمد

Rasulullah pun Terganggu

Rasulullah bersabda,

“Wahai kaum muslimin siapa yang akan membela ku dari laki-laki yang telah menyakiti keluargaku (dengan menyebarkan berita bohong)? Demi Allah, aku tidak mengetahui dari keluargaku kecuali yang baik. Sesungguhnya mereka orang-orang yang menyebarkan berita bohong itu telah menyebut nama seorang laki-laki (shofwan) yang aku tidak mengenal yaitu kecuali sebagai orang yang baik.”

Berita bohong tersebut telah menyakiti hati Rasulullah dan keluarganya. Kemudian Rasulullah datang mengunjungi Aisyah yang saat itu memang sedang dirawat di rumah orangtuanya.

Aisyah menuturkan. Kemudian Rasulullah datang ke rumahku. Saat itu Ayah Ibuku berada di rumah. Ayah Ibuku menyangka bahwa tangisku telah menghancurluluhkan hatiku. Sejak tersiar berita bohong itu, Rasulullah tidak pernah duduk di sisiku. Selama sebulan dia tidak mendapatkan wahyu tentang diriku. Ketika duduk Rasulullah membaca puji syukur ke hadirat Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى lalu bersabda,

“Ya Aisyah aku telah mendengar mengenai apa yang dibicarakan orang tentang dirimu. Jika engkau tidak bersalah Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى pasti akan membebaskan dirimu. Jika engkau telah melakukan dosa minta ampun kepada Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى dan bertobatlah kepada Nya.”

Selesai Rasulullah mengucapkan itu, tanpa kurasakan, air mataku bertambah bercucuran. Kemudian aku katakan kepada Ayahku,

“Ayah, berilah jawaban kepada Rasulullah mengenai diriku.”

Ayahku menjawab,

“Demi Allah aku tidak tahu bagaimana harus menjawab.”

Aku katakan pula kepada Ibuku,

“Ibuku berilah jawaban mengenai diriku”

Dia pun menjawab,

“Demi Allah aku tidak tahu bagaimana harus menjawab.”

Lalu aku berkata,

“Demi Allah Sesungguhnya kalian telah mendengarkan itu, sehingga kalian telah membenarkannya. Jika aku katakan kepada kalian bahwa aku tidak bersalah, Allah Maha Mengetahui bahwa aku tidak bersalah. Pasti kalian akan membenarkan aku. Demi Allah aku tidak menemukan perumpamaan untuk diriku dan kalian, kecuali sebagaimana yang dikatakan oleh Nabi Yusuf Alaihissalam, “Sebaiknya aku bersabar kepada Allah sajalah aku mohon pertolongan atas apa yang kalian lukiskan.”

Air mata Abu Bakar pun berlinang ketika putrinya difitnah. Dia berkata,

“Demi Allah belum pernah disebut-sebut ada persoalan semacam ini pada masa jahiliyah, padahal ketika itu orang tidak menyembah Allah. Tetapi sekarang pada masa memancarkan sinar Kemuliaan Islam orang-orang mengabarkan berita bohong seperti ini kepada keluarga kita!”

Firman Allah

Setelah itu Aisyah berbaring di atas tempat tidur, ia dalam keadaan lemah. Saat itu mendadak Rasulullah juga terkulai lemah karena Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى sedang menurunkan firmannya. Keringat beliau bercucuran karena beratnya Wahyu yang diturunkan,

 

إِنَّ الَّذِينَ جَاءُوا بِالْإِفْكِ عُصْبَةٌ مِنْكُمْ ۚ لَا تَحْسَبُوهُ شَرًّا لَكُمْ ۖ بَلْ هُوَ خَيْرٌ لَكُمْ ۚ لِكُلِّ امْرِئٍ مِنْهُمْ مَا اكْتَسَبَ مِنَ الْإِثْمِ ۚ وَالَّذِي تَوَلَّىٰ كِبْرَهُ مِنْهُمْ لَهُ عَذَابٌ عَظِيمٌ

“Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar.” Surah An-Nur (24:11)

 

لَوْلَا إِذْ سَمِعْتُمُوهُ ظَنَّ الْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بِأَنْفُسِهِمْ خَيْرًا وَقَالُوا هَٰذَا إِفْكٌ مُبِينٌ

“Mengapa di waktu kamu mendengar berita bohong itu orang-orang mukminin dan mukminat tidak bersangka baik terhadap diri mereka sendiri, dan (mengapa tidak) berkata: Ini adalah suatu berita bohong yang nyata.” Surah An-Nur (24:12)

 

لَوْلَا جَاءُوا عَلَيْهِ بِأَرْبَعَةِ شُهَدَاءَ ۚ فَإِذْ لَمْ يَأْتُوا بِالشُّهَدَاءِ فَأُولَٰئِكَ عِنْدَ اللَّهِ هُمُ الْكَاذِبُونَ

“Mengapa mereka (yang menuduh itu) tidak mendatangkan empat orang saksi atas berita bohong itu? Oleh karena mereka tidak mendatangkan saksi-saksi maka mereka itulah pada sisi Allah orang-orang yang dusta.” Surah An-Nur (24:13)

 

وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ لَمَسَّكُمْ فِي مَا أَفَضْتُمْ فِيهِ عَذَابٌ عَظِيمٌ

“Sekiranya tidak ada karunia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu semua di dunia dan di akhirat, niscaya kamu ditimpa azab yang besar, karena pembicaraan kamu tentang berita bohong itu.” Surah An-Nur (24:14)

 

إِذْ تَلَقَّوْنَهُ بِأَلْسِنَتِكُمْ وَتَقُولُونَ بِأَفْوَاهِكُمْ مَا لَيْسَ لَكُمْ بِهِ عِلْمٌ وَتَحْسَبُونَهُ هَيِّنًا وَهُوَ عِنْدَ اللَّهِ عَظِيمٌ

“(Ingatlah) di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit juga, dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal dia pada sisi Allah adalah besar.” Surah An-Nur (24:15)

 

وَلَوْلَا إِذْ سَمِعْتُمُوهُ قُلْتُمْ مَا يَكُونُ لَنَا أَنْ نَتَكَلَّمَ بِهَٰذَا سُبْحَانَكَ هَٰذَا بُهْتَانٌ عَظِيمٌ

“Dan mengapa kamu tidak berkata, di waktu mendengar berita bohong itu: Sekali-kali tidaklah pantas bagi kita memperkatakan ini, Maha Suci Engkau (Ya Tuhan kami), ini adalah dusta yang besar.” Surah An-Nur (24:16)

 

يَعِظُكُمُ اللَّهُ أَنْ تَعُودُوا لِمِثْلِهِ أَبَدًا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

“Allah memperingatkan kamu agar (jangan) kembali memperbuat yang seperti itu selama-lamanya, jika kamu orang-orang yang beriman.” Surah An-Nur (24:17)

 

وَيُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمُ الْآيَاتِ ۚ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

“dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada kamu. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” Surah An-Nur (24:18)

 

إِنَّ الَّذِينَ يُحِبُّونَ أَنْ تَشِيعَ الْفَاحِشَةُ فِي الَّذِينَ آمَنُوا لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ ۚ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat. Dan Allah mengetahui, sedang, kamu tidak mengetahui.” Surah An-Nur (24:19)

 

وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ وَأَنَّ اللَّهَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

“Dan sekiranya tidak karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu semua, dan Allah Maha Penyantun dan Maha Penyayang, (niscaya kamu akan ditimpa azab yang besar).” Surah An-Nur (24:20)

 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ وَمَنْ يَتَّبِعْ خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ فَإِنَّهُ يَأْمُرُ بِالْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ ۚ وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ مَا زَكَىٰ مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ أَبَدًا وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يُزَكِّي مَنْ يَشَاءُ ۗ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan. Barang siapa yang mengikuti langkah-langkah syaitan, maka sesungguhnya syaitan itu menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan yang mungkar. Sekiranya tidak karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorang pun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” Surah An-Nur (24:21)

 

Setelah menerima wahyu Rasulullah memandang Aisyah dengan tersenyum sambil bersabda, “Bergembiralah, ya Aisyah Sesungguhnya Allah telah membebaskan kamu.” (Surya)

 

Bersambung

BACA JUGA :
Sirah Nabawiyah Bagian 23




Sirah Nabawiyah TERBARU


Silahkan Buat akun atau Login untuk Berkomentar dari web!

0 Comment