Kisah Nabi Muhammad SAW
(Masa) diutusnya aku dan (hari terjadinya) Kiamat seperti dua (jari) ini`.(Anas Radhiyallahu `Anhu) berkata, Dan beliau Shallallahu `Alaihi wa Sallam merapatkan jari telunjuk dengan jari tengahnya. (HR. Muslim).
KISAH RASULULLAH ﷺ
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ مُحَمد Bagian 23 Ibu Aisyah berkata,“Berdiri dan berterimakasihlah kepada Rasulullah ﷺ. Aisyah menjawab, “Tidak. demi Allah aku tidak akan berterima kasih kepada Rasulullah ﷺ, Sebab aku tidak akan memuji siapa pun kecuali Allah. Karena Dia-lah yang menurunkan pembebasanku.” Sebelum peristiwa itu Abu Bakar membiayai Masthah karena kekerabatannya dan kemiskinannya. Namun setelah peristiwa itu Abu Bakar berkata, “Demi Allah saya tidak akan membayarnya lagi karena ucapannya kepada Aisyah.” Allah ﷻ berfirman وَلَا يَأْتَلِ أُولُو الْفَضْلِ مِنْكُمْ وَالسَّعَةِ أَنْ يُؤْتُوا أُولِي الْقُرْبَىٰ وَالْمَسَاكِينَ وَالْمُهَاجِرِينَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ۖ وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا ۗ أَلَا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ “Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang,” Surah An-Nur (24:22) Mendengar firman ini Abu Bakar berkata, “Demi Allah sungguh aku ingin mendapat ampunan Allah.” Setelah itu ia kembali membiayai Masthah. Sementara itu Rasulullah ﷺ segera membacakan firman Allah ﷻ itu kepada kaum muslimin. Para penyebar fitnah yaitu Masthah bin Utsatsah, Hasan bin Tsabit dan Hamnah binti Jahsy, dihukum hadd (didera) sebanyak 80 kali cambukan. Yahudi Menghasut Selain orang Quraisy yang menyembah berhala, pihak lain yang paling keras memusuhi kaum muslimin adalah orang Yahudi. Para pemuka Yahudi Bani Nadhir yang telah terusir tidak tinggal diam dari tempat tinggal mereka yang baru di Khaibar, mereka mulai melancarkan permusuhan. Rencana baru para Yahudi ini adalah menghasut orang-orang Arab agar memerangi Madinah. Para pemuka Bani Nadhir datang ke Mekah menemui para Pembesar Quraisy. “Pasukan kami akan bergabung dengan tuan-tuan untuk menyerang Madinah,” kata para pemuka Yahudi. “Bagaimana dengan Yahudi Bani Quraizhah yang masih tinggal di Madinah” tanya seorang Pembesar Quraisy. Mereka tinggal di Madinah sekedar untuk mengelabui Muhammad. Kalau tuan-tuan sudah datang mereka akan bergabung dengan tuan-tuan.” Orang-orang Quraisy masih terlihat ragu. Perselisihan mereka dengan Rasulullah ﷺ dimulai karena ajaran Islam mengajak orang menyembah Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى dan melarang bersujud pada berhala. Bukankah orang Yahudi juga mengaku bahwa Tuhan mereka adalah Allah ﷻ? Orang Quraisy ingin mengetahui pendapat Yahudi tentang ajaran Islam. “Tuan-tuan Yahudi,” “Tuan-tuan adalah golongan ahli kitab yang mula-mula, lebih dulu dari orang Nasrani dan muslim. Menurut tuan-tuan Siapakah yang lebih baik, agama kami yang menyembah berhala atau agama Muhammad?” Seharusnya orang Yahudi menjawab bahwa agama Rasulullah ﷺ lebih baik karena orang Yahudi juga menyembah Allah ﷻ. Namun karena kebenciannya yang sangat kepada kaum muslimin orang Yahudi Bani Nadhir menjawab, “Tentu agama tuan-tuan yang lebih baik, sebab tuan-tuan yang lebih benar dari dia,” Allah ﷻ menurunkan Firman dalam surat An-Nisa ayat 51-52 yang mengecam pernyataan orang Yahudi itu. أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ أُوتُوا نَصِيبًا مِنَ الْكِتَابِ يُؤْمِنُونَ بِالْجِبْتِ وَالطَّاغُوتِ وَيَقُولُونَ لِلَّذِينَ كَفَرُوا هَٰؤُلَاءِ أَهْدَىٰ مِنَ الَّذِينَ آمَنُوا سَبِيلًا “Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang diberi bagian dari Al kitab? Mereka percaya kepada jibt dan thaghut, dan mengatakan kepada orang-orang Kafir (musyrik Mekah), bahwa mereka itu lebih benar jalannya dari orang-orang yang beriman.” Surah An-Nisa’ (4:51) أُولَٰئِكَ الَّذِينَ لَعَنَهُمُ اللَّهُ ۖ وَمَنْ يَلْعَنِ اللَّهُ فَلَنْ تَجِدَ لَهُ نَصِيرًا “Mereka itulah orang yang dikutuki Allah. Barang siapa yang dikutuki Allah, niscaya kamu sekali-kali tidak akan memperoleh penolong baginya.” Surah An-Nisa’ (4:52) Pasukan Ahzab Setelah itu, para pemuka Yahudi itu pergi berkeliling menemui para pemimpin kabilah Ghatafan serta semua pihak yang ingin membalas dendam kepada kaum muslimin. Orang-orang Yahudi ini sangat aktif menghimpun dukungan, mereka memuji-muji berhala Quraisy dan menjanjikan bahwa kali ini pasukan muslim pasti akan bisa di habisi sampai ke akar-akarnya. Usaha keras ini berhasil. Puncaknya berangkatlah 10000 orang Pasukan gabungan berbagai suku Arab yang memusuhi kaum muslimin. 4000 orang di antaranya adalah orang-orang Quraisy, selebihnya adalah dari suku-suku Qois Ailan, Banu Fazarah, Asyja Sulai, Banu Saad, dan lain-lain.اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ مُحَمدSebelum Khandaq Pemimpin seluruh pasukan ini adalah Abu Sufyan dengan kesepakatan bahwa jika sudah tiba di Madinah tampuk kepemimpinan akan digilir setiap hari kepada setiap pemimpin suku yang lain. Orang-orang Mekah termasuk anak-anak dan kaum wanitanya bersorak-sorai mengiringi kepergian pasukan raksasa itu. Abu Sufyan kini bisa tersenyum. “Muhammad dan Madinah akan tumpah,” pikir Abu Sufyan. “Tidak ada suatu kekuatan pun yang bisa membendung pasukan sebanyak ini. Cuma dua pilihan bagi Muhammad, bertahan sampai mati di kotanya atau pergi mengungsi ke tempat yang jauh!” Ketika mengetahui keberangkatan pasukan musuh, kaum muslimin merasa amat terkejut. Kini seluruh kabilah Arab sudah bersatu untuk memusnahkan mereka. Apa yang harus dilakukan kaum muslimin rasanya sudah tidak mungkin melawan dengan ke luar kota seperti pada perang Uhud. Kini jumlah lawan yang datang lebih banyak lagi, tiga kali lipat dari dahulu yang mereka hadapi. Ribuan manusia bersenjata lengkap ditunjang dengan barisan berkuda dan unta tak mungkin dihadapi dengan cara berhadap-hadapan muka secara langsung. Rasulullah ﷺ segera mengajak para sahabat berunding. Semuanya sepakat bahwa mereka harus bertahan di Madinah tidak ada cara lain. Namun itu saja belumlah cukup, sebab pasukan musuh sebesar itu akan mampu merebut rumah demi rumah dan jalan demi jalan di Madinah yang akan dipertahankan kaum muslimin. Apa lagi keberadaan kaum wanita anak-anak dan orang orang tua akan menambah beban pasukan yang bertahan. Seorang sahabat Rasulullah ﷺ akhirnya menemukan jawabannya. Menggali Parit “Ya Rasulullah” demikian sahabat itu mengajukan usul. “Dulu jika kami orang-orang Persia sudah dikepung musuh, kami membuat parit di sekitar kami.” Orang yang mengajukan usul itu adalah Salman Al Farisi. Salman si orang Persia. Usul cerdik itu segera diterima oleh Rasulullah ﷺ, dan para sahabat segera mulai menggali parit di sekitar kota Madinah. Jumlah kaum muslimin ada 3000 orang, setiap 10 orang ditugasi menggali parit sepanjang 40 Hasta. Karena itulah Perang ini disebut perang Khandaq atau perang Parit atau perang Ahzab atau Perang sekutu. Disebut Perang sekutu karena pasukan yang dihadapi kaum muslimin adalah pasukan persekutuan beberapa Kabilah Arab. Maka dimulailah perlombaan itu. Manakah yang lebih dulu kaum muslimin menyelesaikan parit ataukah pasukan ahzab tiba di Madinah. Menyadari bahwa waktu sangat penting dalam keadaan ini, semua orang pun bekerja keras. Rasulullah ﷺ sendiri terjun dalam penggalian itu, begitu kerasnya Rasulullah ﷺ ikut bekerja, seorang sahabat bernama Al Barra bin Azib berkata: ‘Pada waktu perang Ahzab Saya melihat Rasulullah ﷺ menggali parit dan mengusung tanah galian sampai saya tidak dapat melihat dada beliau yang berbulu lebat karena tebalnya tanah yang menempel dan melumurinya.’ Kaum Muhajirin dan Anshor bekerja sambil melantunkan syair penuh semangat. ‘Kami adalah orang-orang yang telah berbaiat kepada Muhammad untuk setia kepada Islam selama kami masih hidup.’ Ucapan ini dijawab oleh Rasulullah ﷺ. ‘Ya Allah Sesungguhnya tiada kebaikan kecuali kebaikan akhirat, maka Berkatilah kaum Anshor dan Muhajirin.’ Tiba tiba di suatu bagian, galian tertunda karena ada sebuah batu besar yang begitu kuat dan tak bisa dipisahkan oleh para sahabat. Mereka pun melapor, “Rasulullah, sebuah batu menghambat kelancaran kami dalam penggalian parit.” “Biarkan aku yang turun,” sabda Rasulullah ﷺ. Beliau pun turun dan menghancurkan batu sambil mengucapkan “Bismillah, ….” Batu yang keras itu pun hancur seperti pasir. Pada saat itu Allah ﷻ memberi Rasulullah ﷺ penglihatan tentang masa depan kaum muslimin. Roti dan Kurma Setelah pukulan pertama Rasulullah ﷺ bersabda, “Allahuakbar! aku diberi kunci-kunci Syam. Demi Allah aku benar-benar bisa melihat istana-istana yang bercat merah saat ini.” Setelah itu, beliau menghantam untuk kali keduanya batu keras yang tersisa sampai sebagiannya hancur menjadi pasir. Saat itu, Rasulullah ﷺ bersabda, “Allahu akbar aku diberi tanah Persia, demi Allah saat ini aku bisa melihat istana Madain yang bercat putih.” “Bismillah, … sambil mengucapkan itu Rasulullah ﷺ menghantam sisa terakhir batu itu sampai hancur menjadi pasir. Beliau pun bersabda, “Allahu akbar! aku diberi kunci-kunci Yaman. Demi Allah dari tempatku ini aku bisa melihat pintu pintu gerbang Shan’a.” Di kemudian hari, setelah Rasulullah ﷺ wafat semua negeri yang beliau sebut itu takluk dalam pelukan Islam. Saat menggali Rasulullah ﷺ mengganjal perut beliau dengan 2 buah batu untuk menahan lapar. Para sahabat yang lain pun melakukan hal yang sama. Melihat ini Jabir bin Abdullah meminta izin kepada Rasulullah ﷺ untuk pulang sebentar. Sampai di rumah Jabar bertanya kepada istrinya. “Aku tidak akan membiarkan Rasulullah ﷺ kelaparan. Apakah kamu mempunyai sesuatu? “Ya aku punya gandum dan seekor anak kambing.” Kemudian Jabir memasak daging kambing dalam priuk dan memasukkan tepung gandum ke dalam pembakaran roti. Setelah itu ia menemui Rasulullah ﷺ dan berkata, “Ya Rasulullah aku ada sedikit makanan. Datanglah engkau bersama seorang atau dua orang sahabatmu.” Rasulullah ﷺ bertanya, ” berapa banyakkah makanan itu?” Jabir menyebutkan jumlah makanannya yang sedikit itu. Rasulullah ﷺ bersabda, “Itu cukup banyak dan baik. Katakanlah kepada istrimu jangan diangkat masakan itu dari atas tungku dan jangan mengeluarkan roti dari bahan bakarnya, sebelum aku datang ke sana,” Kemudian Rasulullah ﷺ memanggil para sahabat Anshar dan Muhajirin. “Wahai para penggali parit mari kita datang, sesungguhnya Jabir memasak makanan besar. Mendengar itu, Jabir sampai mengangakan mulut. Bagaimana makanan sedikit itu cukup buat seluruh orang? Ternyata makanan itu cukup untuk membuat semua orang kenyang, bahkan masih tersisa. Pada saat lain, Rasulullah ﷺ juga membagikan setangkup kurma kepada begitu banyak orang.
للَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ مُحَمدSerangan Gencar Dalam penggalian itu orang-orang munafik menunjukkan rasa enggan, mereka sengaja menampakkan diri seperti orang lesu dan tidak memiliki kemampuan. Banyak yang diam-diam melarikan diri ke rumah masing-masing. Sementara setiap Sahabat Muslim pasti meminta izin kepada Rasulullah ﷺ jika mempunyai suatu keperluan. Kemudian setelah selesai kembali lagi bekerja pada penggalian. Parit telah selesai digali, ketika pasukan musyrik datang. Melihat jumlah musuh sebesar itu orang-orang munafik dan mereka yang lemah jiwanya seketika menggigil ketakutan. Mereka langsung berprasangka buruk kepada Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى dan rasulnya sampai mereka berkata dalam hati, “Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى dan rasul-nya tidak menjanjikan kepada kami selain tipu daya.” Pasukan musyrik terkejut sekali ketika melihat ada parit yang terlalu lebar di depannya untuk diseberangi. Ini perbuatan orang pengecut! Jadi mereka sambil berputar-putar mencari rongga parit yang sempit untuk dilompati, Amarah mereka menggelegak bukan main. Belum pernah dalam sejarah peperangan orang Arab melakukan strategi seaneh ini. Sambil tersenyum, pasukan muslim mewaspadai gerakan musuh. Dengan tangkas mereka menghujani anak panah, lawan yang mencoba mendekati parit.
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ مُحَمدKaum Muslimin Sangat Terkejut Tentu saja Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya terkejut setelah mendengar Yahudi Bani Quraizhah telah membelot ke pihak musuh. Ini berarti pasukan muslim yang jumlahnya jauh lebih sedikit itu harus membagi pasukan dalam dua kelompok pertempuran. Keadaan ini benar-benar memberatkan. Rasulullah ﷺ mengutus Saad bin Muadz pemimpin suku Aus yang pernah menjadi sekutu sekaligus pelindung bani Quraizhah ditemani Sa’ad bin Ubadah pemimpin suku Khazraj dan beberapa orang sahabat Rasulullah ﷺ meminta mereka mengecek keadaan bani Quraizhah. Para sahabat itu kemudian pergi menemui bani Quraizhah yang telah mengurung diri dalam benteng mereka. Saad bin Muadz mencoba mengingatkan perjanjian damai yang berisi saling bantu antara kaum muslimin dan bani Quraizhah. “Antara kami dan Muhammad tidak ada ikatan apa-apa dan tidak ada perjanjian apa-apa,” jawab bani Quraizhah kepada Saad bin Muadz Saad berusaha menyadarkan bani Quraizhah terhadap risiko yang akan mereka hadapi karena membelot dari perjanjian dengan kaum muslimin. Saad meminta mereka agar tetap mau menjadi sekutu dengan segala kejujuran sebagaimana pada masa-masa lalu dan tetap menjaga hak kedua belah pihak agar tidak mengecewakan Rasulullah ﷺ pada saat-saat sulit seperti ini. Namun jawaban bani Quraizhah sangat kasar dan menghina. Saad bin Muadz marah sekali sampai terjadi perang mulut antara Saad bin Muadz dan bani Quraizhah. Akhirnya Saad dan para sahabat yang lain pulang dengan hati kesal. “Biarkan mereka menentang dirimu, sebab jika dilayani hanya akan menambah ramai pertengkaran antara kita dan mereka,” hibur Sa’ad bin Ubadah kepada Saad bin Muadz. Saad bin Muadz menemui Rasulullah ﷺ dan melapor, “Ya Rasulullah, mereka telah melanggar perjanjian sebagaimana dulu dilakukan suku Adhal dan Qarah.” Mendengar itu Rasulullah ﷺ bersabda, “Allahu akbar, Bergembiralah wahai kaum muslimin!” Saad masuk Islam pada usia 31 tahun. Pada usia 37 tahun Ia pergi menemui Syahidnya. Hari-hari keislaman sampai wafatnya diisi semua dengan karya-karya gemilang dalam berbakti kepada Allah ﷻ dan rasulnya ﷺ. Suara Kaum Munafik Kata-kata hiburan Rasulullah ﷺ yang penuh semangat itu tidak ditanggapi dengan baik oleh orang-orang munafik dan mereka yang lemah Iman. Memang benar, keadaan seperti itu membuat hampir seluruh sahabat dilanda kecemasan. Al-Qur’an melukiskan bahwa keadaan kaum muslimin waktu itu sedang diuji dengan guncangan yang amat dahsyat sampai-sampai tidak tetap lagi penglihatan mereka. Terasa sesak naik sampai ke tenggorokan dan mereka menyangka bermacam-macam terhadap Allah. Akan tetapi bagaimanapun keadaannya orang yang imannya kuat tidak beranjak dari sisi Rasulullah ﷺ. Berbeda halnya dengan orang-orang munafik. Mereka berkata, “Muhammad berjanji kepada kita semua bahwa suatu saat kita akan merebut kekayaan Kaisar Persia dan Romawi. Nyatanya? Hari ini saja tidak seorang pun dari kita merasa aman, bahkan untuk sekedar pergi ke jamban.” Suara-suara Sumbang yang lain juga terdengar, “Muhammad rumah kami saat ini sedang kosong tak berpenghuni. Ijinkanlah kami keluar dari barisan tempur untuk pulang ke rumah masing-masing karena rumah kami terletak di luar Madinah.” Para sahabat setia menjadi marah, “Mereka sungguh-sungguh penghianat. Ya Rasulullah, ijinkanlah kami memenggal leher-leher mereka!” Rasulullah ﷺ tidak ingin memaksa seseorang untuk bertempur. Beliau mengijinkan orang-orang lemah iman itu untuk pulang, biarlah hanya orang-orang yang mampu menghadapi bahaya dan benar-benar menginginkan mati syahid saja yang tetap bertahan di barisan pasukan. Orang-orang lemah iman justru akan menularkan rasa takutnya kepada banyak orang. Dan penilaian Rasulullah ﷺ ini tepat sekali. Setelah perginya orang-orang pengecut, barisan tempur yang tersisa justru semakin bulat tekadnya untuk bertempur dan berjuang. Rasulullah ﷺ menyampaikan wahyu Allah ﷻ bahwa, jika orang melarikan diri dari kematian, seandainya pun bisa hanya akan mengecap kesenangan dunia sebentar saja. Tak layak seorang lari dari bencana, padahal bencana itu datang atas izin Allah ﷻ dan Allah ﷻ -lah yang satu-satunya sumber pertolongan dan perlindungan. Pasukan Quraisy Mulai Putus Asa Rasulullah ﷺ merancang suatu strategi baru. Beliau ingin menawarkan kepada pasukan Ghathafan sepertiga hasil perkebunan Madinah jika mereka mau kembali pulang. Tidak ragu lagi. Orang Ghathafan pasti akan menyambut baik dan jika mereka pulang pasukan musuh yang tersisa tinggal 4 ribu prajurit Quraisy. Rasulullah ﷺ meminta pendapat terlebih dahulu kepada Saad bin Muadz dan Sa’ad bin Ubadah sebagai pemimpin penduduk asli Madinah. “Ya Rasulullah Jika Allah yang memerintahkan kami pasti tunduk dan patuh” demikian jawab keduanya, “namun jika ini pendapat Tuan kami tidak sependapat. Dulu orang Ghathafan tak pernah merasakan kurma Madinah, kecuali dengan membeli atau sedang diundang jamuan padahal waktu itu kami semua masih musyrik. Lalu mengapa kini setelah Allah memuliakan kami dengan Islam kami harus menyerahkan harta kami seperti itu? Demi Allah kami tidak akan memberikan sesuatu kepada mereka kecuali tebasan Pedang.” Rasulullah ﷺ mengangguk setuju, “ini memang pendapatku sendiri sebab aku melihat orang-orang Arab menyerang kita dengan panah.” Pertempuran dilanjutkan, Rasulullah ﷺ memerintahkan agar prajuritnya tidak menampakkan diri kecuali dengan berbaju besi lengkap. Namun Saad bin Mu’adz terkena panah hingga menembus urat tangannya. Saat itu ia hanya mengenakan baju besi yang pendek. Doa Saad pada waktu itu adalah, “Ya Allah Sesungguhnya engkau tahu bahwa aku amat mencintai Jihad melawan orang-orang yang mendustakan Rasulullah dan mengusirnya. Ya Allah, jika engkau masih menyisakan sedikit peperangan melawan orang-orang Quraisy, berikanlah sisa kehidupan kepadaku agar aku bisa memerangi mereka karena Engkau semata.” Nah pada suatu malam pasukan Quraisy yang sudah hampir kehilangan akal untuk menerobos parit mencoba kembali menyeberangi parit dengan pasukan berkuda pimpinan Ikrimah bin Abu Jahal. Pasukan muslim menebarkan hujan panah. Dalam gelap Rasulullah ﷺ berhasil memanah Ikrimah sehingga pasukan musuh terperosok dan kembali mundur. Abu Sufyan mengirim surat kepada Rasulullah ﷺ yang isinya menuduh Rasulullah ﷺ sebagai pengecut, Abu Sufyan menantang muslimin untuk bertempur di lapangan terbuka. Rasulullah ﷺ tersenyum dan membalas surat itu. Isinya mengatakan bahwa dalam waktu dekat ini beliau memang akan keluar menemui mereka untuk mengikis habis berhala-berhala Quraisy di Mekah. Pada hari-hari ini kesabaran memang menjadi senjata terampuh untuk meraih kemenangan.
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ مُحَمدRasulullah Mengutus Nu’aim bin Mas’ud Bersabar bukan berarti berdiam diri. Rasulullah ﷺ memanggil Nu’aim bin Mas’ud yang baru saja masuk Islam dan hal itu tidak diketahui oleh musuh. Pada masa jahiliyah Nu’aim sangat erat bersahabat dengan bani Quraizhah dan Ghathafan. “Ya Rasulullah, sesungguhnya kaum saya tidak mengetahui keislaman saya. Karena itulah silahkan kalau mau berbuat apa saja yang engkau inginkan terhadap diri saya,” kata Nu’aim. Rosululloh ﷺ menjelaskan rencananya kepada Nu’aim, setelah itu Rasulullah ﷺ bersabda, “Laksanakanlah rencana ini, Nu’aim karena suatu pertempuran itu memang penuh tipu daya.” Apa yang dilakukan Rasulullah ﷺ adalah strategi yang luar biasa untuk memecah-belah musuh. Atas perintah Rasulullah ﷺ, Nu’aim pergi menemui bani Quraizhah. Nu’aim berkata, “Kalian semua telah tahu betapa aku sangat mencintai kalian,” “Kami memang tidak menaruh curiga sama sekali kepada-mu,” jawab bani Quraizhah. Nu’aim melanjutkan, “Sebenarnya orang-orang Quraisy dan Ghathafan tidak sama dengan kalian sebab ini adalah negeri kalian. Di sini lah kalian menyimpan harta dan istri-istri kalian. Sementara itu harta dan istri-istri orang Quraisy serta kekuatan ada di tempat masing-masing. Lagipula pengepungan sudah berjalan terlalu lama. Orang Quraisy dan Ghathafan mulai kehabisan bekal. Kuda-kuda dan unta-unta mereka sudah semakin kurus karena rumput di sekitar Madinah telah menggundul. Sebentar lagi mereka akan pulang, sementara kalian akan ditinggalkan sendiri untuk menghadapi Muhammad dan pengikutnya. Mengapa kalian sampai hati menghianati Muhammad? Bukankah kalian mengetahui bahwa Muhammad itu sangat jujur dan setia? Ia pasti akan membela kalian jika kalian dalam kesulitan seperti yang tertera dalam perjanjian di antara kalian dan Muhammad. Jika pasukan al-Ahzab datang posisi kalian akan terjepit. Yang pasti kalian tidak akan mampu menghadapi Muhammad dan para pengikutnya, jika kalian dan mereka saling berhadapan langsung.” “Apa yang harus kami lakukan?” tanya orang Yahudi itu bingung. “Minta sandera dari pihak Quraisy dan Ghathafan. Dengan demikian keduanya tidak akan pulang melainkan bertempur bersama kalian. Janganlah kalian mau disuruh menyerang sebelum sandera-sandera dari pihak Ahzab ada di tangan kalian,” jawab Nu’aim bin Mashud. Bani Quraizhah menyetujui usul yang menurut mereka sangat baik ini. Musuh Terpecah Belah Kemudian secara diam-diam Nuaim melanjutkan visinya, ia pergi ke perkemahan bani Ghathafan yang juga sahabatnya. Kepada mereka Nuaim berkata, “Sebenarnya bani Quraizhah merasa menyesal telah memusuhi Muhammad. Mereka enggan meneruskan pertempuran di pihak kalian. Hati-hati, mereka akan berpura-pura meminta sandera kepada kalian, padahal sandera itu akan diserahkan kepada Muhammad, agar Muhammad memaafkan perbuatan mereka.” Mendengar itu para pemimpin Ghathafan dan Quraisy jadi ragu-ragu terhadap bani Quraizhah. Abu Sufyan pun menulis surat kepada Kaab pemimpin bani Quraizhah. “Kami sudah cukup lama tinggal di tempat ini dan mengepung Muhammad. Menurut hemat kami, besok kalian harus sudah menyerbu Muhammad dari belakang dan kami akan menyusul.” “Besok hari Sabtu,” tulis Kaab. “Pada hari Sabtu kami tidak dapat berperang atau bekerja apa pun.” “Cari hari Sabtu lain saja sebagai pengganti Sabtu besok,” geram Abu Sufyan dalam surat balasannya. “Sebab besok Muhammad sudah harus diserbu. Kalau kami sudah mulai menyerang Muhammad sedang kamu tidak turut serta dengan kami, persekutuan kita dengan sendirinya bubar dan kamulah yang akan kami serbu lebih dahulu sebelum Muhammad!” Bani Quraizhah tidak berani melanggar pantangan pada hari Sabtu. Mereka mengulangi jawaban itu dengan tambahan bahwa ada golongan mereka yang dapat kemurkaan Tuhan karena telah melanggar hari Sabtu, sehingga berubah menjadi monyet dan babi. Kemudian bani Quraizhah malah meminta sandera dari pihak Ahzab untuk ditahan di benteng mereka agar yakin bahwa orang Quraisy dan Ghathafan tidak akan pergi begitu saja. Mendengar itu, yakinlah pasukan Ahzab bahwa apa yang dikatakan Nu’aim benar. Keraguan besar segera melanda pasukan Ahzab. Jika bani Quraizhah tidak menyerang dari belakang, mereka terpaksa harus menyerang dari depan melalui parit. Padahal parit itu tidak akan diseberangi dengan cara bagaimanapun. Karena orang Quraisy menolak menyerahkan sandera. Yakinlah bani Quraizhah bahwa mereka akan ditinggalkan. (Surya) Bersambung
0 Comment