23 Okt 2020
    Follow Us:  



Sirah Nabawiyah

Kisah Perjalanan Hidup Manusia Agung Rasulullah Muhammad SAW, Sirah Nabawiyah Bagian 19


Kisah Nabi Muhammad SAW

nilai seseorang tidaklah ditentukan oleh harta kekayaan yang dimilikinya, tetapi tergantung pada kemampuannya untuk menyebarkan kebahagiaan kepada orang lain. Kebajikan akan membuat seseorang menjadi kekal. Orang yang terus-menerus melakukan kebaikan, akan menghasilkan buah kebaikan pula untuk selama-lamanya.

KISAH RASULULLAH

Bagian 19

Abdullah Bin Ubay

Semua keberhasilan Rasulullah itu membuat hati Abdullah bin Ubay berubah semakin sesak karena dengki.

“Jika ini dibiarkan, lenyap sudah impianku untuk menjadi pemimpin Madinah lagi seperti dulu!” demikian pikirnya.

“Aku harus mencari jalan untuk menjauhkan Muhammad dari umatnya.”

Abdullah bin Ubay mulai menyebarkan desas-desus,

“Mengapa Rasulullah memberi bagian harta rampasan kepada Utsman bin Affan? Padahal, Utsman tidak ikut ke Perang Badar! Ini pasti karena Utsman lebih dicintai dari kita semua!”

“Namun para sahabat Rasulullah segera mendatangi Abdullah bin Ubay dan memberinya peringatan agar tidak menyebarkan desas-desus.

“Utsman sudah berkeras ingin pergi, tetapi Rasullullah memerintahkan agar tinggal di rumah dan merawat Rukayah, putrinya yang sedang sakit! Jadi, sebenarnya Utsman juga berhak atas rampasan perang!” demikian kata beberapa sahabat.

Abdullah bin Ubay terdiam, tetapi ia pun mencari jalan lain. Kemudian disebarkannya desas-desus,

“Muhammad itu mengajarkan agar kita berpaling dari harta dunia, tapi sebenarnya harta tebusan yang banyak itu ia gunakan untuk makan dan minum enak serta memiliki perabotan rumah yang mewah layaknya Kaisar Persia!”

Sambil menebarkan desas desus itu Abdullah bin Ubay diam-diam mendatangi seorang wanita Anshor dan menyuruhnya memberikan permadani yang indah dan sangat mahal kepada Aisyah.

Tanpa ada rasa curiga, Aisyah yang masih muda dan lugu pun menerimanya dengan senang.

Ketika Rasulullah mendengar berita ini, beliau segera pulang dan menemui istrinya Aisyah yang sedang duduk-duduk di atas permadani yang mahal itu. Wajah Aisyah berseri-seri memiliki perabotan seindah itu.

“Aisyah, apa ini?” tanya Rasulullah

“Seorang wanita Anshor datang ke sini dan melihat tikarmu,” jawab Aisyah.

“Ia kemudian mengutus orang agar menyampaikan permadani ini kepadaku.”

Rasulullah menyuruh Aisyah untuk mengembalikan permadani itu. Kemudian beliau tidur di atas tikarnya yang biasa kembali.

Abdullah bin Ubay walaupun telah menyatakan diri sebagai Muslim dia tetap bersikap keras kepada Rasulullah , dan menganggap Rasulullah tidak adil karena dianggap telah merampas kekuasaannya yang dipegangnya sebelum Rasulullah datang ke Madinah.

Abdullah bin Ubay pun selalu berusaha memalingkan manusia dari ajaran Islam.

Tidur di atas Tikar

Umar Bin Khattab bergegas mendatangi rumah Rasulullah . Ia ingin membuktikan bahwa desas-desus yang disebarkan orang tentang Rasulullah yang memiliki perabot mewah itu sama sekali tidak benar.

Ketika Umar sampai di rumah Rasulullah , sama sekali tidak dilihatnya perabot-perabot mewah yang didesas-desuskan itu. Rumah Rasulullah tetap seperti dulu, tidak ada sama sekali yang berubah.

Mengetahui Umar Bin Khattab datang, Rasulullah bangun dari atas tikarnya. Seketika itu, Umar melihat bekas-bekas tikar yang kasar membekas pada tubuh Rasulullah . Tidak kuat menahan haru akhirnya Umar menangis.

Rasulullah berpaling heran lalu beliau bertanya lembut,

“Ya Umar, Apa yang menyebabkan engkau menangis?”

“Bagaimana aku tidak akan meneteskan air mata jika aku melihat bekas-bekas tikar itu melekat pada tulang rusukmu. Hanya inilah harta kekayaanmu yang aku tahu. Sedangkan Kaisar Romawi dan Persia hidup dalam gelimangan harta benda.”

Rasulullah merasakan betul kesedihan Umar. Beliau lalu menghibur Umar dengan memberikan pelajaran bahwa nilai seseorang tidaklah ditentukan oleh harta kekayaan yang dimilikinya, tetapi tergantung pada kemampuannya untuk menyebarkan kebahagiaan kepada orang lain. Kebajikan akan membuat seseorang menjadi kekal. Orang yang terus-menerus melakukan kebaikan, akan menghasilkan buah kebaikan pula untuk selama-lamanya.

Sabda Rasulullah agar kita selalu bersyukur:

“Apabila di antara kamu sekalian melihat orang yang dianugerahi harta dan rupa, maka hendaklah ia melihat orang yang lebih rendah dari mereka, karena hal itu lebih pantas agar kamu tidak merasa kekurangan nikmat yang Allah berikan kepadamu.”

 


اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ مُحَمد

Kesedihan Umar

Setelah perang Badar, beberapa wanita menjadi janda karena suaminya gugur.

Rasulullah berusaha meringankan beban para wanita itu dengan memberikan santunan dari hasil rampasan perang.

Bagi wanita yang masih muda, Rasulullah berusaha menikahkan mereka dengan sahabat lain yang mampu.

Hafshah putri Umar Bin Khattab, adalah salah seorang wanita muda yang ditinggali suaminya yang telah syahid.

Umar tentu sangat sedih memikirkan nasib putrinya.

Maka, ia pun pergi menemui Utsman bin Affan dan bertanya apakah Utsman bersedia menikahi Hafshah ?

"Maaf, saya sedang tidak bersedia untuk menikah lagi." demikian jawab Utsman.

Umar kemudian mendatangi Abu Bakar dan bertanya apakah Abu Bakar bersedia menikahi Hafshah.

Namun, Abu Bakar diam saja.

Dengan sedih, Umar Bin Khattab menemui Rasulullah dan mengadukan nasib Hafshah serta penolakan kedua sahabatnya itu.

Rasulullah tersenyum menghibur,

"Hafshah akan menikah dengan orang yang lebih baik daripada Abu Bakar dan Utsman."

Umar Bin Khattab menatap Rasulullah tidak mengerti.

Siapakah yang lebih baik daripada Abu Bakar dan Utsman ?

Ternyata, Rasulullah sendiri yang melamar Hafshah.

Subhanallah, saat itu juga, perasaan Umar Bin Khattab meluap dengan kegembiraan yang tidak terlukiskan.

Di tengah perjalanan pulang, ia bertemu Abu Bakar dan menyampaikan berita gembira itu.

Abu Bakar berkata :

"Memang, Rasulullah sudah pernah membicarakan hal itu kepadaku.

Karena itu, aku tidak ingin membuka rahasianya.

Andaikata saja beliau tidak meminang Hafshah, sudah tentu akulah yang akan memperistrinya," demikian jawab Abu Bakar.

Setelah Hafshah menjadi istri Rasulullah maka saat itu Ibu kaum muslimin pun menjadi tiga orang :

Saudah, Aisyah, dan Hafshah.

Rasulullah menetap di tempat ketiganya secara bergantian.

Pada pagi hari, mereka semua berkumpul untuk mendengar nasihat Rasulullah .

Pada Sore harinya, mereka kembali berkumpul dan menceritakan semua yang mereka alami hari itu.

Hal demikian menambah indah suasana rumah Rasulullah .

Sejak saat itu Umar Bin Khattab dengan gencar menganjurkan para sahabat yang lain agar mau menikahi para janda syuhada.

Persiapan Perang Quraisy

Rasa geram dan gelisah terus menghantui perasaan orang-orang Quraisy di Mekah sejak kekalahan Badar.

Akhirnya para pembesar mereka berkumpul di Darun Nadwah.

"Kafilah dagang yang tersisa lebih baik kita jual !

Sebagian keuntungannya kita sisihkan untuk menyiapkan Angkatan Perang agar kita bisa memukul Muhammad !" demikianlah usul seorang pembesar.

Usul itu pun diterima dengan suara bulat.

Rapat-rapat perang terus diadakan.

Ada yang berpendapat supaya kaum wanita diajak ikut.

"Biar kaum wanita bertugas membakar kemarahan dan mengingatkan kepada korban-korban Badar.

Kita adalah masyarakat yang sudah bertekad mati tidak akan pulang sebelum sempat melihat mangsa kita atau kita sendiri mati untuk itu !"

"Saudara-saudara Quraisy," demikian sahut yang lain,

"melepaskan wanita-wanita kita ke hadapan musuh bukanlah suatu pendapat yang baik,

Apabila kalian mengalami kekalahan wanita-wanita kita pun akan tertawan."

Tiba-tiba Hindun bin Utbah Istri Abu Sufyan berteriak,

"Kamu yang selamat dari Perang Badar bisa kembali bertemu istrimu, itu sebabnya kamu tidak berjuang mati-matian.

Ya kami kaum wanita akan berangkat dan ikut menyaksikan peperangan.

Jangan ada orang yang menyerukan pulang seperti gadis-gadis kita dulu dalam perjalanan ke Badar.

Mereka disuruh pulang ketika sudah sampai di Juhfah.

Akibatnya orang-orang kesayangan kita terbunuh karena tidak ada orang yang dapat memberikan semangat kepada mereka !"

Demikianlah, akhirnya kaum wanita Quraisy diizinkan ikut dalam peperangan.

Maka Hindun memanggil Wahsyi seorang budak hitam dari Habasyah.

Wahsyi terkenal sebagai pelempar tombak yang lihai.

"Kau akan kuberikan banyak harta jika berhasil membunuh Hamzah," demikian kata Hindun.

Majikan Wahsyi Jubair bin Mut'im juga berkata,

"Kau juga akan ku bebaskan jika berhasil membunuh Hamzah.

Paman ku telah dibunuh orang itu dalam Perang Badar."

Pasukan Quraisy Berangkat

Setelah semua persiapan matang, pasukan Quraisy pun berangkat.

Mereka terdiri atas 3000 orang dengan 3000 unta.

200 di antaranya menunggang kuda dan 700 orang berbaju besi.

Di barisan belakang para wanita Mekah dan budak-budak perempuan yang cantik berjalan mengiringi.

Mereka memakai perhiasan-perhiasan indah dengan wewangian semerbak.

Di tengah-tengah barisan wanita itu, berjalan Hindun binti Utbah dialah yang memegang komando dari barisan wanita untuk menabuh rebana dan menyanyi.

"Kalian tidak boleh mendekati kami wahai kaum laki-laki," teriak Hindun. Sorot matanya memancarkan kobaran api.

"Kami bersumpah bahwa kaum laki-laki tidak boleh mendekati kami sebelum mereka menumpas Muhammad dengan semua pasukannya sehingga kami dapat pulang sambil menjinjing kepala Hamzah !"

 


اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ مُحَمد

Semangat Quraisy

Semangat membalas dendam menyala berkobar-kobar di hati setiap tentara Quraisy.

Apalagi, mereka ingin memamerkan kemampuan tempur di hadapan bunga-bunga Quraisy yang kini terus menyanyi mengorbankan semangat.

Genderang bertalu-talu dan wewangian nan semerbak merebak.

Belum pernah sebelumnya orang-orang Quraisy berangkat perang dengan tekad sekuat ini.

Di depan, Abu Sufyan memegang komando.

Dua pasukan berkuda kavaleri yang dipimpin Khalid bin Walid dan Iqlima Bin Abu Jahal mengawali Sisi kiri dan kanan.

Di dusun Abwa, beberapa prajurit Quraisy hampir saja membongkar kuburan Aminah, ibunda Rasulullah .

Untung para Pembesar Quraisy segera datang dan melarang.

"Nanti mereka juga akan membongkar makam-makam kita," cegah pembesar itu.

Pasukan tersebut terus bergerak semakin dekat ke Madinah, mereka sudah siap beraksi bagai angin puyuh yang akan menerjang.

Angin puyuh yang diliputi nyala api kemarahan dan angan-angan kemenangan yang memabukkan.

Mereka mendekati Madinah dari dataran tinggi.

Di tempat itu, gunung Uhud yang kasar menggunduk bagai makhluk besar yang siap menerkam.

Kaum muslimin di Madinah pasti akan sangat terkejut, jika mereka tidak mengetahui meningkatnya pasukan yang jumlahnya tiga kali lebih banyak daripada pasukan yang pernah mereka taklukan di Badar.

Apakah kaum muslimin  mengetahui gerakan ini ?

Jika mereka mengetahui, strategi apa yang akan dilakukan Rasulullah ?

Akankah beliau memimpin kaum muslim bergerak menyongsong musuh atau bertahan di Madinah ?

Kaum Muslimin Bermusyawarah

Paman Rasulullah , Abbas bin Abdul Muthalib ikut dalam pasukan Quraisy itu.

Ia memang masih mencintai agama nenek moyangnya, tapi hatinya sudah semakin kagum kepada keponakannya itu.

Abbas ingat ketika ia diperlakukan dengan baik sebagai tawanan pada Perang Badar.

Karena itulah sebelum pasukan Quraisy berangkat, diam-diam Abbas mengirimkan surat kepada seorang Bani Ghifar untuk disampaikan kepada Rasulullah .

Surat ini berisi berita pemberangkatan pasukan Quraisy.

Seorang utusan Abbas memberitakan keberangkatan Quraisy kepada Rasulullah .

Rasulullah   segera mengajak para sahabat bermusyawarah.

Kita akan pergi ke luar kota atau menyongsong di dalam kota.

Abdullah bin Ubay mengatakan ingin bertahan di dalam kota.

Musyawarah membuat semua orang jadi mengetahui sepenuhnya bahaya dan kesulitan yang mereka hadapi.

Hal itu akan membuat anggota pasukan saling mempercayai.

Setiap orang akan menganggap dirinya benar-benar bagian dari pasukan, sehingga mampu berjuang saling bahu-membahu.

Keberanian Para Pemuda

Para sesepuh Anshor angkat bicara,

"Ya Rasulullah, tetaplah tinggal di Madinah.

Jangan pergi menghadapi musuh karena itu berarti musuh sudah menang.

Andaikata musuh yang datang menyerbu, kita pasti yang menang.

Biarkan saja mereka di sana mengepung kita.

Jika mereka memaksakan diri bertahan, berarti mereka justru berada dalam keadaan merugikan diri sendiri."


Sebetulnya, Rasulullah ingin agar kaum Muslimin menyepakati usul ini.

Para sesepuh Anshor yang telah berjuang mempertahankan kota selama puluhan tahun tentu tahu benar bahwa mereka lebih baik bertahan di dalam kota.

Namun tidak demikian halnya dengan para pemuda Muslim yang semangatnya sedang menyala-nyala.

Mereka terpukau atas kemenangan 300 orang sahabat Rasulullah menghadapi 1000 orang musuh pada Perang Badar.

Sebenarnya, Rasulullah memang cenderung pada pendapat para sesepuh Anshar itu.

Akan tetapi, di balik itu, Rasulullah juga mengetahui bahwa apabila mereka bertahan di dalam kota, sangat mungkin akan terjadi penghianatan dari kaum munafik atau orang Yahudi.

Tiba-tiba Bilal mengumandangkan adzan.

Rapat perang pun dihentikan dan Rasulullah memimpin mereka melaksanakan shalat Jum'at.

Khutbah Rasulullah kali itu berisi ajakan agar kaum muslimin menabahkan hati untuk memperoleh kemenangan.

Kemudian dimintanya kaum muslimin bersiap menghadapi musuh.

Setelah sholat Jumat, rapat dilanjutkan lagi, Saad bin Khaitsama berkata,

"Semoga Allah memberikan kemenangan atau mati syahid.

Dalam perang Badar saya amat mendambakan mati syahid, tapi ternyata meleset.

Justru anak saya yang mendapatkannya.

Semalam, saya bermimpi bertemu dengan anak saya dan dia berkata,

"Ayah susullah kami dan kita bertemu di dalam surga."

Sudah saya dapatkan apa yang dijanjikan Allah kepada saya."

"Ya Rosulullah, sungguh rindu saya akan menemui anak saya di dalam surga.

Saya sudah tua, tulang sudah rapuh.

Saya ingin bertemu Allah."

Kata-kata itu semakin menguatkan semangat kaum Muslimin untuk menyongsong musuh ke luar kota.

"Saya khawatir kamu akan kalah jika pergi ke luar kota," demikian Sabda Rasulullah .

Namun suara terbanyak kaum muslimin adalah agar mereka menyongsong musuh.

Rasulullah pun segera mengetahui keputusan mana yang akan diambil.

Setiap pemuda tentulah tidak sama.

Pemuda masa kini yang berangan-angan memiliki mobil mewah uang yang banyak dan hidup berfoya-foya dengan pemuda yang bertekat bulat dan kuat untuk mewujudkan kemenangan serta kemuliaan Islam.

 


اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ مُحَمد

Baju Perang Rasulullah

Selepas sholat Asar, Rasulullah masuk ke rumah untuk mempersiapkan diri. Abu Bakar dan Umar membantu Rasulullah mengenakan sorban, pedang, dan baju besi. Ketika Rasulullah ﷺ di rumah para sahabat di luar sedang ramai kaum muslimin bertukar pikiran.

Usaid bin Hudair dan Saad bin Muadz adalah orang yang berpendapat bahwa lebih baik bertahan di dalam kota.

Mereka pun berkata kepada kaum muslimin yang berniat menyongsong musuh ke luar.

“Tuan-tuan mengetahui, Rasulullah berpendapat mau bertahan dalam kota namun tuan-tuan berpendapat lain lagi dan memaksa beliau bertempur ke luar. Padahal lihatlah Rasulullah agak enggan melaksanakan strategi itu. Serahkan sajalah soal ini ke tangan Beliau. Apa yang diperintahkan-nya kepadamu, jalankanlah!”

Mendengar kata-kata itu, sikap para pemuda yang ingin menyongsong musuh pun melunak. Mereka sadar bahwa mereka telah menentang pendapat Rasulullah , padahal sangat mungkin pendapat Rasulullah itu datang dari Allah. Maka ketika Rasulullah telah keluar rumah sambil mengenakan baju besi, mereka berkata,

“Rasulullah bukan maksud kami hendak menentang tuan. Lakukanlah apa yang tuan kehendaki. Juga kami tidak bermaksud memaksa tuan. Kami tahu bahwa kehendak tuan mungkin berasal dari Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى.

“Ke dalam pembicaraan semacam inilah saya ajak tuan-tuan, tetapi tuan-tuan menolak,” demikian jawab Rasulullah .

“Tidak layak bagi seorang nabi yang apabila sudah mengenakan pakaian besinya lalu akan menanggalkannya kembali sebelum Allah memberikan putusan antara dirinya dan musuhnya. Perhatikanlah apa yang saya perintahkan kepada kamu sekalian, kemudian ikuti. Atas ketabahan hatimu, kemenangan akan berada di tanganmu.”

Demikianlah, Rasulullah selalu memegang keputusan hasil musyawarah, keputusan seperti itu tidak dapat dibatalkan oleh keinginan-keinginan tertentu. Keputusan hasil musyawarah harus dilaksanakan dengan cara sebaik-baiknya.

Lalu berangkatlah kaum muslimin dipimpin oleh Rasulullah ke arah Uhud. Di suatu tempat bernama Syaikhan dia berhenti. Dilihatnya dari kejauhan di atas pasukan tentara yang belum dikenal, siapakah mereka itu? lawan atau kawan?

Kaum Muslimin Berangkat

Seseorang kemudian memberitahu Rasulullah ,

“Itu adalah orang-orang Yahudi sekutu Abdullah bin Ubay.”

Rasulullah bersabda,

“Jangan meminta pertolongan orang-orang kafir dalam melawan orang-orang musyrik sebelum mereka masuk Islam.”

Rasulullah memerintahkan pasukan Yahudi itu pulang ke Madinah. Sebelum pulang, orang-orang Yahudi itu berkata kepada Abdullah bin Ubay,

“Kau sudah menasehati Muhammad dan Kau Berikan pendapatmu berdasarkan pengalaman orang-orang tua dahulu. Sebenarnya, dia sependapat denganmu lalu ia menolak dan menuruti kehendak pemuda-pemuda yang menjadi pengikutnya.”

Abdullah bin Ubay senang sekali mendengar pendapat itu.

“Memang betul,” demikian pikir Abdullah bin Ubay, aku sudah menasehati Muhammad dan dia tidak menurut, jadi sudah sepantasnya jika aku tidak ikut dalam perang ini.

Kemudian Abdullah bin Ubay mulai menghasut dan menyebarkan desas-desus untuk membuat hati sebagian orang menjadi ragu.

Keesokan harinya Abdullah bin Ubay berhasil mempengaruhi 300 pengikutnya agar menarik diri dari pasukan Rasulullah dan kembali ke Madinah menyusul pasukan Yahudi.

Kini tinggal Rasulullah beserta 700 orang sahabat yang melanjutkan perjalanan ke gunung Uhud untuk menyongsong musuh.

“Bersabarlah, Bersabarlah,” demikian nasihat Rasulullah kepada para sahabat yang tetap bersamanya.

Saat itu pasukan muslimin sebenarnya sangat membutuhkan kuda, tapi Abdullah bin Ubay telah menggiring sebagian besar kuda dan dibawa pulang. Kini mereka semakin dekat ke Uhud.

Pagi-pagi sekali, sebelum musuh terbangun, pasukan muslimin bergerak maju ke Uhud dan memotong jalan sedemikian rupa, sehingga musuh berada di belakang mereka.

Dengan strategi itu pasukan muslimin lebih dulu tiba di Gunung Uhud sehingga bisa lebih leluasa menempatkan pasukan.

“Bersabarlah, Bersabarlah,” demikian nasehat Rasulullah kepada para sahabat yang tetap bersamanya.

Dalam Perang Badar pihak muslim hanya memiliki 3 ekor kuda ini berarti satu kuda untuk setiap 100 orang namun berkat usaha keras Nabi dalam waktu 7 tahun pasukan muslim memiliki 10.000 ekor kuda untuk setiap 30.000 tentara berarti satu kuda untuk setiap 3 orang.

Penempatan Pasukan Panah

Rasulullah segera mengatur barisan para sahabat. Beliau menempatkan 50 pemanah di lereng gunung, kepada mereka Rasulullah memberi perintah,

“Lindungi kami dari belakang. Bertahanlah kamu, jangan pernah meninggalkan tempat ini. Kalau kalian melihat kami dapat menghancurkan mereka sehingga dapat memasuki pertahanannya, kamu jangan meninggalkan tempatmu. Jika kamu melihat kami yang diserang, jangan pula kami dibantu, juga jangan kami dipertahankan. Tugas kamu adalah menghujani pasukan berkuda mereka dengan panah. Dengan serangan panah itu pasukan berkuda tidak dapat maju.”

Selain pasukan pemanah, Rasulullah memerintahkan agar pasukan yang lain tidak menyerang siapa pun, sebelum Beliau memberi perintah menyerang.

Pasukan Quraisy yang tiba belakangan, juga segera menyusun barisan. Sayap kanan dipimpin oleh Khalid bin Walid, sedangkan sayap kiri dikomando Ikrimah bin Abu Jahal. Pasukan utama di tengah dipimpin oleh Abu Sufyan dan benderanya dipegang oleh Abdul Uzza Talhah bin Abi Talhah.

Wanita-wanita Quraisy yang memukul genderang dan rebana berjalan di tengah-tengah barisan itu. Kadang mereka di depan dan kadang di belakang. Hindun binti Utbah Istri Abu Sufyan berteriak-teriak,

“Ayo Banu Abdul Dar, Ayo! ayo! Pengawal barisan belakang! hantamlah dengan segala yang tajam!”

 


للَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ مُحَمد

Kedua belah pihak kini  sudah siap bertempur.

Masing-masing sudah menyiapkan seluruh kekuatan terbaiknya kepada lawan.

Yang selalu teringat oleh orang-orang Quraisy adalah peristiwa Badar dan korban-korbannya.

Sementara itu yang selalu teringat oleh kaum Muslimin adalah Allah serta pertolongan-Nya.

Rasulullah berpidato di hadapan pasukannya dan memberi semangat dalam menghadapi pertempuran.

Beliau berjanji bahwa pasukannya akan mendapatkan kemenangan, asalkan mereka tabah.

Beliau kemudian mencabut sebilah pedang, mengacungkannya, dan bertanya,

"Siapa yang sanggup memegang pedang ini agar diperlakukan sesuai dengan tugasnya ?"

Beberapa orang tampil, tetapi pedang itu tidak pula diberikan Rasulullah .

Siapakah kiranya pendekar muslim yang mendapatkan kehormatan untuk menggunakan pedang Rasulullah tersebut ?

Abu Dujanah

Kemudian tampillah Abu Dujanah Simak bin Kharasyah dari Banu Sa'idah. Ia bertanya,

"Apa tugasnya, ya Rasulullah ?"

"Tugasnya ialah menghantamkannya kepada musuh sampai bengkok !" demikian jawab Rasulullah ."

Ketika Abu Dujannah menyanggupi, Rasulullah pun memberikan pedang itu kepadanya.

Abu Dujanah adalah laki-laki yang sangat berani.

Ia mengeluarkan pita merah, lalu teman-temannya bergumam,

"Lihat Abu Dujanah telah mengeluarkan pita mautnya !"

Semua orang mengetahui bahwa Abu Dujanah sudah siap bertempur apabila ia telah mengeluarkan pita merahnya itu.

Pita itu diikatkan di kepala, kemudian ia berjalan dengan angkuh dan berlagak di tengah-tengah pasukan seperti yang biasa ia lakukan apabila sudah siap menghadapi pertempuran.

Rasulullah melihat perilaku Abu Dujanah itu kemudian bersabda,

"Cara berjalan seperti itu sangat dibenci Allah, kecuali dalam pertempuran seperti ini."

Rasulullah memberikan kepercayaan kepada Mushab bin Umair untuk memegang bendera pasukan.

Hamzah bin Abdul-Muththalib berada di barisan terdepan didampingi Abu Dujanah, Ali bin Abi Thalib,  Saad bin Abi Waqqash, Umar bin Khattab, dan Abu Ubaidah bin Jarrah.

Orang pertama yang mencetuskan pertempuran adalah Abu Amir Abdul Hamid bin Shaifi Al Ausi.

Ia sebenarnya berasal dari suku Aus, tetapi sengaja pindah dari Madinah ke Mekkah untuk mengobarkan semangat Quraisy agar memerangi Rasulullah .

Ia tidak ikut dalam Perang Badar.

Kini a terjun dalam Perang Uhud dengan membawa limabelas orang dari suku Aus.

Selain itu beberapa budak penduduk Mekah juga bergabung dengan regunya.

Abu Amir maju ke depan dan memanggil-manggil kaum muslimin dari golongan Aus.

Menurut dugaannya, orang-orang Islam dari Aus itu akan menuruti panggilannya dan memihak Quraisy.

"Saudara-saudara dari Aus !

Saya adalah Abu Amir !" demikian panggilnya berkali-kali.

Akan tetapi, kaum muslimin dari kalangan Aus membalas dengan teriakan pula,

"Allah tidak akan memberikan kesenangan kepadamu, durhaka !"

Kemudian pertempuran pun pecah !

Rasulullah bersabda,

"Ditempatkan di bagian terdepan dari jalan Allah selama 1 hari lebih baik daripada dunia dan segala isinya !" Beliau juga berkata,

"Setiap orang yang gugur telah menyelesaikan tugas sepenuhnya, kecuali orang yang berada di bagian terdepan dari jalan Allah karena amalnya akan terus bertambah sampai hari kebangkitan."

Pertempuran

700 orang beriman melawan 3000 orang musyrik !

Sayap kiri Quraisy yang terdiri atas pasukan Pemuda dan Kavaleri pimpinan Ikrimah bin Abu Jahal pun bergerak maju.

Mereka berusaha menyerang pasukan muslim dari samping.

Namun,  pasukan pemanah muslim menghujani mereka dengan panah dan batu.

Abu Amir dan para pengikutnya dibuat mundur tunggang-langgang.

Saat itu Hamzah bin Abdul-Muththalib terjun ke tengah pertempuran sambil meneriakkan teriakan tempur Uhud yang terkenal.  "Mati ! Mati !"

Tholhah bin Abu Talhah yang membawa Bendera Quraisy berteriak,

"Siapa yang akan berduel denganku ?"

Ali bin Abi Thalib pun maju.

Dengan tangkas dan sangat cepat.

Ali mengalahkan lawannya itu.

Melihat hal itu Rasulullah menjadi lega.

Seketika, takbir pun berkumandang dari barisan muslimin.

Rasulullah memerintahkan pasukan muslim melancarkan serangan.

Abu Dujanah mengamuk !

Ditaklukkannya setiap lawan.

Barisan orang musyrik jadi kacau balau.

Kemudian ia melihat seseorang sedang mencincang tubuh seorang muslim dengan amat keji.

Amarah Abu Dujanah bangkit !

Ia melompat dan hendak menebas orang itu dengan sekali ayunan.

Tapi saat itu dilihatnya sasarannya ternyata Hindun bin Utbah.

Abu Dujanah mundur dan menyerang ke arah lain.

Terlalu mulia rasanya apabila Pedang Rasulullah dihantamkan pada seorang wanita.

Orang-orang Quraisy pun balas menyerang dengan sangat keras.

Darah mereka mendidih mengingat kematian para pemimpin mereka pada Perang Badar.

Di belakang mereka, kaum wanita mengorbankan semangat.

Tidak sedikit para budak yang akan dijanjikan kebebasan apabila berhasil membalaskan dendam kematian seorang bapak, saudara suami, atau orang orang tercinta dari majikan mereka.

Hindun bin Utbah sangat mendendam kepada Hamzah.

Ia telah menjanjikan hadiah besar dan kebebasan kepada seseorang budak apabila berhasil membunuh Hamzah.

Kini, Wahsyi mulai menjalankan tugasnya.

Ia mengendap dengan lincah kesana kemari untuk mencari di mana Hamzah bin Abdul-Muththalib berada. (Surya)

 

Bersambung

BACA JUGA :
Sirah Nabawiyah Bagian 20




Sirah Nabawiyah TERBARU


Silahkan Buat akun atau Login untuk Berkomentar dari web!

0 Comment