04 Agu 2020
    Follow Us:  



Sirah Nabawiyah

Kisah Perjalanan Hidup Manusia Agung Rasulullah Muhammad SAW, Sirah Nabawiyah Bagian 20


Kisah Nabi Muhammad SAW

 

KISAH RASULULLAH

Bagian 20

Syahidnya Hamzah

Di kemudian hari, ketika ia sudah memeluk Islam, Wahsyi menceritakan peristiwa Uhud dengan air mata duka dan penyesalan.

"Setelah dijanjikan hadiah dan kebebasan, aku berangkat bersama pasukan Quraisy. Aku adalah orang Habasyah yang jika sudah melemparkan tombak dengan cara Habasiyah, jarang sekali meleset.

Ketika terjadi pertempuran, kucari Hamzah dan kuincar, kulihat dia di tengah-tengah orang banyak itu, seperti seekor unta kelabu sedang membabati orang dengan pedangnya.

Lalu tombak ku ayun-ayun kan, dan setelah merasa pasti sekali arah sasaran, baru kulemparkan tombak itu tepat mengenai bagian bawah perut Hamzah dan keluar di antara kedua kakinya.

Kubiarkan tombak itu sampai dia mati.

Sesudah itu ku hampiri dia dan ku ambil tombak ku itu, lalu aku kembali ke markas dan berdiam di sana sebab sudah tidak ada lagi tugas selain itu.

Kubunuh dia hanya supaya aku dimerdekakan saja dari perbudakan.

Sesudah pulang ke Mekah, aku memang dimerdekakan."

Hamzah bin Abdul Muththalib adalah pahlawan Arab yang terkenal dan paling berani.

Pada Perang Uhud itu, ia yang menjelma menjadi singa Allah yang perkasa.

Dibunuhnya Artha bin Abdul Syurahbil dan beberapa orang pemuka Quraisy lainnya.

Setiap lawan di hadapannya dirobohkan dengan pedangnya dan setelah itu dihadapinya lawan yang lain.

Pada akhir pertempuran dengan tergesa-gesa Hindun mendatangi jasad Hamzah.

Wanita itu kemudian mengambil jantung Hamzah dan memakannya begitu saja, sambil menari-nari.

Tubuh Hamzah ditemukan Rasulullah dalam keadaan tercabik-cabik.

Kaum muslimin bertempur dengan gagah, tapi tidak semuanya mendapatkan surga.

Contohnya adalah Qusman.

Ia adalah seorang munafik.

Semula, Ia tidak berangkat perang, tetapi para wanita menghinanya.

"Qusman tidak malu kau seperti perempuan saja, semua orang berangkat perang, sedang kau berdiam diri dalam rumah !"

Dengan berang Qusman mengambil panah dan pedang, lalu pergi bertempur. Ia bertempur dengan gagah dan berhasil membunuh banyak sekali lawan.

Menjelang senja, setelah membunuh paling sedikitnya 7 orang musuh, ia pun membunuh dirinya.

"Qusman, beruntung engkau mati syahid," ujar Abdul Khaidaq melihat Quzman sekarat.

"Tidak, jawab Qusman sebelum mati,

"Saya bertempur bukan demi Islam tapi sekedar menjaga kehormatan saya dan untuk menjaga nama baik keluarga kami.

Kalau tidak karena itu, saya tidak akan berperang."

Quraisy Terpukul

Kemenangan kaum muslimin dalam Perang Uhud pada pagi hari itu benar-benar di luar dugaan.

Benar sekali bahwa kemenangan pada pagi itu disebabkan kepandaian Rasulullah dalam mengatur pasukannya.

Beliau yang menempatkan pasukan panah di bukit, hingga barisan berkuda musuh tertahan tidak bisa maju.

Lebih tepat lagi jika dikatakan bahwa kemenangan pagi itu disebabkan keimanan yang sungguh-sungguh.

Pasukan muslim begitu yakin bahwa mereka berada di pihak yang benar, sehingga walaupun dengan perlengkapan yang minim, mereka dapat mendesak pasukan musuh yang hampir 5 kali lipat lebih kuat.

Inilah rahasia mukjizat kepahlawanan yang tidak bisa digunakan oleh kekuatan materi sebesar apa pun.

Kesatuan-kesatuan Quraisy yang sudah kelabakan mulai mundur.

Abu sufyan terpaksa mengumpulkan pasukannya di bagian tengah.

Sayap kiri di bawah pimpinan Ikrimah sudah berlarian mundur.

Hanya Khalid bin Walid dan pasukannya di sayap kanan yang masih menjaga diri di tempat yang agak jauh.

Kelihatannya, Khalid masih menghindarkan diri dari bentrokan dan ia menunggu kesempatan baik untuk melancarkan serangan.

Kenangan pahit akan kekalahan Badar tiba-tiba terlintas lagi di benak para prajurit Quraisy yang berlarian mundur.

Pasukan muslim mendesak terus sampai ke jantung pertahanan musuh.

Saat seorang pembawa bendera Quraisy jatuh bersimbah darah, orang lain segera menggantikannya.

Namun, Ia juga segera ditebas jatuh.

Orang ketiga tampil bertahan tetapi tidak lama kemudian Ia pun segera jatuh tak bernyawa.

Hindun berteriak-teriak memberi semangat dan berusaha mencegah orang-orang yang mundur.

Pasukan Quraisy sudah tidak ingat lagi, bahwa mereka dikerumuni para wanita.

Sudah tidak peduli lagi melihat berhala-berhala yang mereka bawa agar memberikan restunya,  tetapi malah terjatuh dari atas unta.

Pasukan Quraisy tidak lagi memusingkan kenyataan bahwa wanita-wanita mereka akan tertawan dan harta benda mereka yang jumlahnya melimpah itu akan dirampas musuh.

Semua dihantui rasa takut, Mundur !

Mundur !

Selamatkan diri ke tempat aman.

Hanya itu yang mereka pikirkan.

Sayang sekali, Justru pada saat itulah pasukan muslim melakukan kesalahan fatal.

 


اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ مُحَمد

Tergiur Harta

Kaum muslimin terus mengejar musuh ke mana pun sampai mereka meletakkan senjata. Harta benda dan rampasan berserakan di medan pertempuran. Kuda-kuda yang tangguh,  Baju besi, unta-unta tanpa tuan berkeliaran penuh muatan,  setumpuk makanan lezat, dan perhiasan-perhiasan mahal,  Belum lagi para wanita Quraisy yang dengan mudah dapat mereka tawan.

Harta sebanyak itu dalam sekejap saja membuat silau pasukan muslim. Harta yang berserakan itu membuat mereka lupa bahwa sesuai dengan perintah Rasulullah ,  mereka harus terus mengejar musuh sampai kekuatan lawan benar-benar tercerai-berai sehingga tidak mampu berkumpul lagi untuk balas menyerang.

Semua ini terlihat oleh pasukan panah di lereng gunung. Mereka tidak dapat lagi menahan keinginan untuk juga merebut harta rampasan yang bergeletakan di mana-mana.

"Mengapa kita masih tinggal di sini, saya akan tidak mendapatkan apa-apa?" tanya salah seorang.

"Allah telah menghancurkan musuh kita, mereka, saudara-saudara kita juga sudah merebut markas musuh. Ke sanalah juga kita ikut mengambil rampasan itu."

Namun salah seorang membentak:

"Bukankah Rasulullah sudah berpesan "Jangan meninggalkan tempat kita ini?"

"sekali pun kami diserang,  janganlah kami dibantu!" Bukankah demikian kata beliau?"

"Rasulullah tidak menghendaki kita tinggal di sini terus menerus setelah Allah menghancurkan kaum musyrik itu."

Abdullah bin Jubair maju untuk menengahi perdebatan itu. Ia berpidato agar mereka itu jangan melanggar perintah Rasulullah .

Akan tetapi ada sebagian besar pasukannya tidak mau patuh. Mereka pun kemudian turun dari lereng gunung yang masih tinggi. Yang masih tinggal hanya beberapa orang saja. Pasukkan yang bergegas turun itu bergabung dengan pasukan muslim yang lain. dan ikut memperebutkan harta rampasan.

Jadi sebagian besar pasukan panah sekarang sudah melupakan disiplin. Mereka lupa kalau kedisiplinan dan keimanan lah yang membuat mereka mampu memukul musuh. Kini mereka tengah melupakan iman dan memperebutkan harta dunia.

Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh seorang pemimpin Quraisy yang terkenal lihai dan gagah.

Bencana

Khalid bin Walid yang sampai saat itu telah menjaga pasukannya agar tidak bentrok dalam pertempuran, kini melihat kesempatan baik itu. Ia mengerti bahwa saatnya tiba untuk bergerak. Khalid bergerak sekuat-kuatnya memberi Komando. Pasukan berkudanya pun mulai bergerak. Semakin cepat dan semakin cepat. Mereka memutari gunung uhud yang kini tidak dijaga lagi oleh pasukan panah. Dengan ganas pasukan kavaleri Khalid menyerang pasukan muslim dari belakang.

Mendengar teriakan perang Khalid bin Walid, pasukan Quraisy yang telah berlarian mundur kini kembali lagi. Mereka melihat kesempatan untuk menyerang balik saat itu. Mereka ingat untuk tidak membiarkan harta dan kaum wanita mereka direbut pasukan muslim.

Kini keadaan jadi berbalik, giliran pasukan muslim yang mendapat pukulan sangat hebat.

Begitu tahu mereka diserang dari depan dan belakang, setiap muslim melemparkan harta yang telah mereka kumpulkan, dan kembali mencabut pedang. Namun sayang, sayang sekali! Barisan Muslim sudah pontang-panting. Komandan-komandan kesatuan muslim sudah tidak lagi melihat pasukannya, ada di dekat mereka. Pasukan muslim yang tadinya berjuang untuk menyelamatkan Iman, kini berjuang tercerai-berai untuk menyelamatkan diri. Tadinya mereka berjuang di bawah satu pemimpin yang kuat, kini berjuang tanpa pemimpin lagi.

Begitu paniknya keadaan pasukan muslim sampai beberapa dari mereka malah menghantam saudaranya sendiri dengan pedang. Keadaan tambah mengguncangkan Iman ketika mendengar ada yang berteriak-teriak,  "Rasulullah telah terbunuh, Rasulullah telah terbunuh !"

Hampir setiap orang pasukan muslim sekarang berusaha melepaskan diri dari kepungan di tempat aman. Kecuali beberapa sahabat yang tetap berjuang dengan Istiqomah dari awal, seperti Ali bin Abi Thalib dan beberapa orang lainnya.

**Di kemudian hari, Khalid bin Walid akan masuk Islam pada zaman Abu Bakar pada saat terjadi pemberontakan di mana-mana.

Abu Bakar mengangkat Khalid menjadi Panglima seraya berkata,

"Aku pernah mendengar Rasulullah bersabda bahwa sebaik-baik hamba Allah dan Kawan sepergaulan ialah Khalid bin Walid, sebilah pedang di antara pedang-pedang Allah yang ditembuskan kepada orang-orang kafir dan munafik.

 


اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ مُحَمد

Rasulullah Terluka

Begitu orang Quraisy mendengar Rasulullah . terbunuh, seperti banjir,  mereka mengalir ke tempat di mana Rasulullah berada.

Semuanya berlomba ingin mengakui bahwa merekalah yang membunuh Rasulullah   atau ikut memegang peranan di dalamnya.

Tentu hal itu akan dapat mereka banggakan sampai ke anak cucu mereka.

Ketika itulah, kaum muslimin yang berada di sekeliling Rasulullah tersentak sadar.

Mereka bergerak mengelilingi, menjaga, dan melindungi Rasulullah yang amat mereka cintai.

Iman mereka kembali tergugah memenuhi jiwa.

Semangat mereka melambung lagi untuk meraih surga.

Kekhawatiran yang amat sangat akan keselamatan Rasulullah membuat mereka kembali mendambakan mati.

Hidup di dunia ini terasa tak ada artinya lagi jika Rasulullah gugur dalam lindungan mereka.

Saat itu, sebuah batu melayang dan menghantam wajah Rasulullah .

Batu itu dilemparkan oleh Utbah bin Abi Waqqash.

Gigi geraham Rasulullah rontok dan wajah beliau berdarah.

Bibir Rasulullah pecah-pecah.

Dua keping lingkaran topi besi yang menutupi wajah beliau bengkok menghimpit pipi Rasulullah .

Melihat hal itu,  iman dan keberanian para sahabat di sekeliling Rasulullah semakin besar.

Harga diri mereka sangat terluka melihat luka yang dialami Rasulullah .

Setelah terhuyung sejenak akibat hantaman batu yang demikian keras. Rasulullah kembali dapat menguasai diri.

Beliau terus berjalan ke tempat aman dikelilingi para sahabat yang setia.

Tiba-tiba Rasulullah terperosok ke dalam sebuah lubang.

Lubang itu sengaja digali oleh Abu Amir untuk menjerumuskan kaum Muslimin.

Cepat-cepat, Ali bin Abi Tholib menghampiri, meraih dan memegang tangan Rasulullah .

Thalhah bin Ubaidillah membantu mengangkat beliau hingga dapat berdiri kembali.

Kemudian, bersama para sahabatnya, Rasulullah berjalan terus mendaki gunung Uhud.

Tempat itu merupakan satu-satunya peluang bagi beliau untuk menghindari kejaran musuh.

Keadaan mengenaskan yang menimpa Rasulullah itulah yang menghidupkan kembali semangat juang di hati para sahabat.

Rela Mati demi Rasulullah

Hari sudah menjelang tengah hari.

Saat itu, Ummu Umaroh seorang muslimah Anshar, tengah berkeliling membagikan air kepada kaum muslimin yang tengah berjuang.

Namun, begitu dilihatnya kaum muslimin mundur. Ummu Umarah melemparkan tempat airnya.

Ia mencabut pedang dan terjun ke dalam pertempuran.

Tujuannya hanya satu, melindungi Rasulullah walau harus mati.

Ummu Umarah  menebas musuh dan menembakkan panah sampai tubuhnya sendiri dipenuhi banyak luka.

Sementara itu Abu Dujanah menjadikan punggungnya sebagai perisai Rasulullah .

Beberapa panah yang melayang ke arah Rasulullah tertahan di punggung Abu Dujannah.

Di samping Rasulullah , Saad bin Abi Waqqash berdiri melepaskan panahnya untuk menahan musuh.

Rasulullah memberikan anak panah ke pada Saad sambil berkata,

"Lepaskan anak panah itu ! ."

Rasulullah sendiri terus menembakkan anak panah sampai ujung busurnya patah.


Beberapa sahabat, termasuk Abu Bakar dan Umar Bin Khattab, tidak mengetahui kalau Rasulullah masih hidup.

Mereka mengira Rasulullah   telah gugur mengingat begitu membanjirnya pasukan musuh menyerbu ke tempat Rasulullah berada.

Keduanya pergi ke arah gunung dengan kepala tertunduk pasrah.

Anas bin Nadzir bertanya kepada mereka,

"Mengapa kalian duduk-duduk di sini ?"

"Rasulullah sudah terbunuh," jawab keduanya.

"Perlu apalagi kita hidup sesudah itu ?

Bangunlah !

Dan biarlah kita juga mati untuk tujuan yang sama !"

Setelah berkata begitu Anas bin Nadzir menyerbu musuh, bertempur dengan gagah tiada taranya.

Dia baru mendapatkan Syahid setelah ditebas 70 kali.

Begitu rusak tubuh Anas bin Nadhir sampai tidak seorang pun mengenali jasad nya kecuali adik perempuannya yang mengenali Anas dari ciri yang terdapat pada ujung jarinya.

Abu Sufyan yang yakin sekali bahwa Rasulullah telah gugur, sibuk mencari-cari mayat beliau di tengah korban-korban Muslim.

Akhir Pertempuran

Ketika orang Quraisy berteriak-teriak bahwa Muhammad telah mati.

Rasulullah   menyuruh para sahabat agar tidak membantahnya.

Hal itu untuk menghindari lebih banyak lagi serbuan musuh ke arah beliau.

Namun, begitu Ka'ab bin Malik datang mendekat, ia mengenali Rasulullah .

Ketika melihat mata Rasulullah   yang berkilau di balik helm bajanya, kemudian ia berteriak,

"Saudara-saudara kaum muslimin !" teriak Ka'ab amat gembira.

"Selamat ! Selamat ! ini Rasulullah ."

Rasulullah memberi isyarat agar Ka'ab berhenti berteriak.

Kaum muslimin berdatangan dan mengangkat Rasulullah tercinta.

Kemudian bersama-sama beliau mereka mendaki gunung Uhud ke sebuah celah Bukit.

Teriakan Ka'ab terdengar juga oleh pihak Quraisy.

Sebagian besar dari mereka tidak mempercayai teriakan itu.

Namun, ada beberapa yang segera pergi mengikuti rombongan Rasulullah dari belakang.

Ubay bin Khalaf dapat menyusul rombongan Rasulullah sambil bertanya,

"Mana Muhammad, Aku tidak akan selamat kalau dia masih hidup."

Seketika itu juga Rasulullah mengambil tombak Haris bin Shimma, lalu dengan sangat cepat Rasulullah melemparnya ke arah Ubay Bin khalaf.

Ubay pun terhuyung-huyung di atas Kudanya, lalu berusaha kembali pulang dan mati di tengah jalan.

Sesampainya pasukan muslim di ujung bukit, Ali bin Abi Tholib pergi mengambil air.

Air dalam perisai kulitnya.

Ali membasuh darah di wajah Rasulullah dan menyiram kepada beliau dengan air.

Dua keping besi di pipi Rasulullah dicabut oleh Abu Ubaidah bin Al jarrah.

Begitu kerasnya sampai 2 gigi seri Abu Ubaidah tanggal.

Tiba-tiba pasukan berkuda Khalid bin Walid tiba di atas bukit, namun dengan sigap Umar Bin Khattab dan beberapa prajurit Muslim menyerang dan mengusir mereka untuk mundur.

Kaum muslimin telah begitu tinggi mendaki gunung, keadaan mereka begitu payah dan letih sampai Rasulullah memimpin mereka sholat sambil duduk.

Pihak Quraisy amat gembira dengan kemenangan mereka.

Mereka menganggap telah sungguh-sungguh membalas dendam atas kekalahan di Badar.

Abu Sufyan berkata,

"Yang sekarang ini untuk peristiwa Perang Badar.

Sampai jumpa lagi tahun depan."

 


اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ مُحَمد

Dukacita untuk Hamzah

Tidak cukup menganiaya mayat Hamzah.

Hindun binti Utbah bersama wanita-wanita lain menganiaya mayat kaum muslimin.

Melihat semua itu Abu Sufyan menghampiri seorang muslim dan berkata,

"Mayat-mayatmu telah mengalami penganiayaan.

Akan tetapi aku sungguh tidak senang juga tidak benci.

Aku tidak melarang, juga tidak memerintahkan."

Selesai menguburkan mayat-mayat temannya sendiri Quraisy pun pergi.

Sekarang, kaum muslimin kembali ke garis depan untuk menshalatkan dan menguburkan mayat-mayat para syuhada.

Rasulullah berkeliling medan tempur mencari jasad pamannya, Hamzah.

Ketika dilihatnya jasad Hamzah sudah dianiaya dengan perut yang sudah terurai,  beliau merasa sedih, sedih sekali sampai beliau berkata,

"Takkan pernah ada orang mengalami malapetaka seperti ini."

"Belum pernah aku menyaksikan suatu peristiwa yang begitu menimbulkan amarahku seperti kejadian ini."

Selanjutnya beliau bersabda,

"Demi Allah kalau pada suatu ketika Allah memberikan kemenangan kepada kami melawan mereka, akan ku aniaya mereka dengan cara yang belum pernah dilakukan oleh orang Arab."

Nah saat itulah turun firman Allah Quran surat An Nahl 16 ayat  yang artinya:

 

وَإِنْ عَاقَبْتُمْ فَعَاقِبُوا بِمِثْلِ مَا عُوقِبْتُمْ بِهِ ۖ وَلَئِنْ صَبَرْتُمْ لَهُوَ خَيْرٌ لِلصَّابِرِينَ

Dan jika kamu membalas, maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu. Akan tetapi jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang sabar. Surah An-Nahl (16:126)

 

وَاصْبِرْ وَمَا صَبْرُكَ إِلَّا بِاللَّهِ ۚ وَلَا تَحْزَنْ عَلَيْهِمْ وَلَا تَكُ فِي ضَيْقٍ مِمَّا يَمْكُرُونَ

Dan bersabarlah (hai Muhammad) dan kesabaranmu itu semata-mata dengan pertolongan Allah dan janganlah kamu bersedih hati terhadap (kekafiran) mereka dan jangan (pula) kamu bersempit dada terhadap apa yang mereka tipu dayakan. Surah An-Nahl (16:127)

 

Setelah Firman itu turun Rasulullah ﷺ memaafkan pihak musuh.

Ditabahkannya hatinya dan beliau melarang orang melakukan penganiayaan.

Di jalan, Rasulullah mendengar para wanita bani Asyhal menangisi para syuhadanya.

"Tidak ada wanita yang menangisi Hamzah," ujar Rasul.

Mendengar ini Saad bin Muadz menyuruh para wanita Bani Asyhal menangis untuk Hamzah.

Rasulullah bergegas menemui mereka dan bersabda,

"Bukan ini yang saya maksudkan.

Pulanglah, Semoga Allah memberikan rahmat dan tidak boleh menangis lagi setelah hari ini."

Abdullah bin Ubay

Rasulullah pulang ke Madinah dengan beban pikiran yang cukup berat.

Fatimah Az-Zahra putri beliau membasuh luka-luka ayahnya dengan air.

Ternyata, para tawanan perang Badar yang dulu dikasihani dan dibebaskan kembali memerangi kaum muslimin.

Rasulullah teringat lagi kata-kata Umar Bin Khattab dulu,

"Ya Rasulullah bunuh orang-orang ini agar tidak seorang pun berpidato mengobarkan api kebencian terhadap dirimu"

Rasulullah juga memikirkan belas kasihan yang diberikan kaum muslimin kepada pihak musuh.

Semua muslim menahan pedang ketika mereka menemui Hindun di medan perang.

Padahal jika dia dibunuh tidak akan terjadi Hamzah disiksa sedemikian rupa.

Pembunuh Hamzah yang berkulit hitam itu sebenarnya juga tidak tahu wajah Hamzah. Hindunlah yang menunjukkannya.

Pasukan Quraisy yang telah lari lintang pukang juga tidak akan kembali lagi untuk menyerang, apabila tidak dikejar oleh Hindun dan diberitahukan bahwa kaum muslimin tengah diserang Khalid bin Walid dari belakang.

Kemudian Rasulullah pergi ke masjid.

Di sana, beliau melihat ada tangis penyesalan pasukan panah yang telah jelas-jelas melanggar perintah Rasulullah .

Hati beliau amat lembut karena itu beliau memaafkan mereka semua.

Sebelum itu di sana beliau melihat Abdullah bin Ubay tengah berpidato agar orang-orang mencintai Rasulullah .

Inilah gembong kaum munafik yang telah membujuk 300 Orang prajurit kembali ke Madinah.

Beberapa sahabat yang ikut ke Uhud melompat ke arah Abdullah bin Ubay, lalu menarik bajunya sampai terhuyung-huyung.

"Mengapa kalian menyerangku pada saat aku menganjurkan kepada orang-orang agar patuh dan cinta kepada Muhammad ?" demikian Abdullah bin Ubay menjerit.

Umar Bin Khattab meminta izin untuk membunuh si penghianat itu, namun sekali lagi Rasulullah melarang nya.

 


اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ مُحَمد

Mengejar Musuh

Rasulullah mengetahui bahwa orang-orang penyembah berhala, kaum munafik dan orang-orang Yahudi mulai menertawakan kekalahan kaum muslimin pada perang Uhud.

"Muhammad bilang kalau perang Badar itu merupakan tanda kekuasaan Tuhan mereka atas kerasulannya maka apa pula pertanda peristiwa Uhud itu?"

Sesuatu harus dilakukan agar kewibawaan kaum muslimin akan kuat seperti sedia kala.

Sehari setelah perang Uhud Rasulullah memerintahkan seorang muadzin nya untuk kembali mengumpulkan pasukan. Namun hanya pasukan Uhud saja yang boleh ikut. Tujuannya untuk memburu pasukan Abu Sufyan yang belum lagi tiba di Mekah.

Berita keberangkatan kaum muslimin itu dengan cepat sampai ke telinga Abu Sufyan. Seketika itu juga ketakutan melanda pasukan Mekah mereka mengira kaum muslimin berangkat dari Madinah dengan bantuan baru. Padahal mereka masih berada di Rauha, jauh dari Mekkah.

Sementara pasukan Madinah sudah sampai di Hambra Al-Assad. Kemudian lewatlah Ma'bad Al Khuza'i yang saat itu belum masuk Islam. Ia baru saja melewati tempat pasukan Madinah berkemah. Abu Sufyan bertanya tentang keadaan pasukan muslim Ma'bad menjawab,

"Muhammad dan sahabat-sahabatnya sudah berangkat mau mencari kamu dalam jumlah yang belum pernah kulihat semacam itu. Orang-orang yang dulunya tidak ikut,  sekarang menggabungkan diri dengan dia. Mereka semua terdiri atas orang-orang yang sangat geram kepada orang-orang yang hendak membalas dendam!"

Kebingungan melanda Abu Sufyan Apa yang harus saya lakukan sekarang ini.

Orang Arab pasti akan mencemooh apabila sekarang pasukan Quraisy mundur begitu saja. Padahal baru saja mereka merebut kemenangan. Namun apabila mereka memaksakan diri kembali menghadapi kaum muslim, Abu Sufyan yakin mereka tidak akan mampu menghadapi kemarahan musuh. Karena itu Ia melakukan sebuah siasat licik.

Abu Sufyan menitipkan pesan kepada kafilah suku Abdul Qais yang sedang menuju Madinah, kafilah Itu diminta memberitakan bahwa pasukan Quraisy akan menemui pasukan Islam di Hambra Al-Assad dan akan menyerang habis-habisan.

Mendengar itu, Rasulullah dan para sahabatnya menunggu tiga hari sambil menyalakan api unggun. Namun pada saat yang sama orang-orang Quraisy terus pulang ke Mekah.

Pasukan Abu Salamah

Pasukan muslim kembali ke Madinah. Kewibawaan pihak muslim sedikit terangkat karena ternyata musuh tidak berani kembali untuk menghadapi mereka. Akan tetapi, segera tersiar berita bahwa Tulaihah dan Salamah bin khuwailid sedang menggerakkan Banu Assad untuk menyerang Madinah dan menggempur Rasulullah sampai ke rumahnya sendiri.

Selain itu tujuan Banu Assad adalah untuk merampas ternak kaum muslimin yang digembalakan di ladang-ladang sekeliling Madinah.

Rasulullah segera bertindak, beliau memanggil Abu Salamah bin Abdul Asad. Beliau yang memerintahkan Abu Salamah membawa 150 pasukan.

Rasulullah menyuruh agar pasukan hanya berjalan pada malam hari dan siangnya bersembunyi. Mereka harus menempuh jalan yang tidak biasa dilalui orang.

Abu Salamah berangkat dan melaksanakan perintah perang Rasulullah secermat dan secepat mungkin. Ia pun berhasil. Mereka menyergap musuh yang sedang dalam keadaan tidak siap.

Pagi buta itu rasa takut menyumbat kerongkongan Banu Assad karena tiba-tiba saja tanpa peringatan, pekik takbir membahana dan pasukan muslim menyerang tenda-tenda mereka. Banu Assad berusaha bertahan sekuat dan selama mungkin, namun gagal. Mereka mundur sambil membawa apa pun yang bisa dibawa.

Setelah menguasai perkemahan musuh, Abu Salamah mengirimkan dua pasukan pengejar.

Sementara itu ia dan pasukan ketiga menjaga perkemahan. Pasukan pengejar kembali dengan membawa harta rampasan.

Seperti yang sudah diatur dalam Islam seperlima harta rampasan itu diberikan untuk Rasulullah , orang-orang miskin, dan orang orang yang kehabisan bekal di perjalanan. Sisanya dibagikan kepada anggota pasukan. Setelah itu mereka kembali ke Madinah dengan membawa kemenangan.

Hanya saja Abu Salamah tidak hidup lebih lama, sesudah itu, luka-lukanya pada perang Uhud kembali ternganga dan ia syahid karenanya.

Judi dan Minuman Keras

Setelah Yahudi Bani Qainuqa diusir, Yahudi Bani Nadhir ingin mewarisi pasar Bani Qainuqa. Namun kesempatan itu sudah tertutup oleh pasar kaum muslimin yang berkembang sedemikian besar, maka dari itu Bani Nadhir pun melakukan cara lain untuk meraih kemakmuran. Mereka membuka rumah-rumah judi. Di tempat itu juga disediakan banyak sekali minuman keras.

Saat itu Rasulullah belum melarang judi dan khamer. Karena itu banyaklah para lelaki muslim yang datang ke rumah-rumah judi. Mereka banyak menghabiskan uang untuk berjudi, meminum khamer sampai mabuk. Para lelaki muslim ini masih terguncang oleh kekalahan pada perang Uhud dan lepasnya harta rampasan yang sudah mereka kumpulkan. (Surya)

 

Bersambung

BACA JUGA :
Sirah Nabawiyah Bagian 21




Sirah Nabawiyah TERBARU


Silahkan Buat akun atau Login untuk Berkomentar dari web!

0 Comment