08 Agu 2020
    Follow Us:  



Sirah Nabawiyah

Kisah Perjalanan Hidup Manusia Agung Rasulullah Muhammad SAW, Sirah Nabawiyah Bagian 25


Kisah Nabi Muhammad SAW

“Semua umatku selamat kecuali orang-orang yang berbuat maksiat secara terang-terangan” (Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim)

KISAH RASULULLAH

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ مُحَمد

Bagian 25

Ketidakpuasan Umar

Umar bin Khatab tidak puas dengan isi perjanjian itu. Ketidakpuasannya ini ditunjukkan setelah terjadi insiden saat penulisan perjanjian. Saat itu Ali bin Abi Thalib mendapat tugas Rasulullah untuk menulis perjanjian itu.

“Tulislah Bismillahirohmanirohim!” Sabda Rasulullah kepada Ali. “Stop!” seru Suhail. “Nama Arrohman dan arrohim ini tidak kukenal. Tulislah dengan bismika allahumma (dengan nama-mu Ya Allah)” “Tulislah dengan nama-mu Ya Allah,” Sabda Rasulullah kepada Ali. “Lalu, tulislah: “Ini adalah perjanjian damai yang ditetapkan antara Muhammad Rasulullah dengan Suhail bin Amr.”

Namun delegasi Quraisy itu kembali menolak. “Jika kami mengakui bahwa engkau Rasulullah, tentu kami tidak akan memerangimu. Karena itu tulislah namamu dan nama ayahmu.” “Baik. Hapuslah kata Rasulullah. Tulislah Muhammad bin Abdullah,” sabda Rasulullah .

Sebagaimana para sahabat lain yang hadir, Ali bin Abi Thalib sudah memuncak kemarahannya kepada delegasi Quraisy itu, sehingga ia berkata, “Tidak ya Rasulullah! Demi Allah aku tidak sudi menghapus kata itu.” Akhirnya Rasulullah sendiri yang menghapus kata-kata itu. Melihat hal itu Umar bin Khattab berkata kepada Abu Bakar yang duduk disampingnya, “Bukankah dia itu Rasulullah?”

“Memang betul,” jawab Abu Bakar.

“Bukankah kita ini orang-orang Islam?”

“Memang betul!”

“Bukankah mereka itu orang-orang musyrik?”

“Memang betul!”

“Lalu Mengapa kita mau direndahkan dalam soal agama kita?” seru Umar berapi api.

Abu bakar menenangkan Umar dengan kata-kata tegas, “Umar duduklah di tempatmu aku bersaksi bahwa dia Rasulullah.” Namun hampir semua sahabat berpendapat seperti Umar. Mereka merasa agama mereka telah dilecehkan dengan perjanjian ini. Bukan saja mereka gagal berhaji tahun ini tetapi juga harus menerima bahwa orang musyrik itu seolah merendahkan Allah dan rasulnya Rasulullah ﷺ. Kemudian terjadilah sebuah peristiwa yang membuat para sahabat semakin tidak menyukai perjanjian ini.

Kisah Abu Jandal

Belum lagi kering tinta perjanjian itu, tiba-tiba muncul Abu Jandal. Pemuda itu adalah anak Suhail bin Amr si perunding Quraisy. Para sahabat sangat terkejut menyaksikan kedua kaki Abu Jandal dalam keadaan terbelenggu sehingga ia berjalan tertatih-tatih. Rupanya ia berhasil melepaskan diri dari Mekah dan hendak menggabungkan diri dengan saudara-saudara muslimnya.

Namun begitu melihat anaknya itu, Suhail berseru,

“Ini adalah orang pertama yang ku tuntut Agar engkau mengembalikannya.”

“Kami tidak melanggar isi perjanjian ini sampai kapan pun,” jawab Rasulullah .

“Demi Allah kalau begitu aku tidak akan menuntutmu karena sesuatu apa pun” kata Suhail.

Rasulullah bersabda, “Kalau begitu, berilah dia jaminan perlindungan karena aku.”

“Aku tidak akan memberinya jaminan perlindungan karena dirimu,” tukas Suhail.

“Lakukanlah!” pinta Rasulullah lagi

“Aku tidak akan melakukannya,” jawab Suhail.

Suhail melangkah cepat ke arah Abu Jandal dan memukul keras-keras anaknya itu. Suhail mencengkeram kerah baju Abu Jandal dan menyeretnya untuk dikembalikan kepada Quraisy. Abu Jandal berseru,

“Semua orang muslim, Apakah aku akan dikembalikan kepada orang-orang musyrik yang akan menyiksaku karena Agamaku ini?”

Kaum Muslimin merasa geram. Hampir-hampir saja kaki mereka bergerak untuk datang melawan perjanjian yang sudah ditandatangani.

Rasulullah bersabda, “Wahai Abu Jandal bersabarlah dan tabahlah karena Allah akan memberikan jalan keluar kepadamu dan orang-orang yang terdzalimi seperti dirimu. Kami sudah mengukuhkan perjanjian dengan mereka. Kami telah membuat perjanjian persetujuan dengan mereka atas peristiwa seperti ini dan mereka pun sudah memberikan sumpah atas nama Allah kepada kami. Maka kami tidak akan melanggarnya.”

Rasulullah melihat ke sekeliling dan menangkap wajah pengikutnya yang tampak sangat tidak puas. Hal inilah yang membuat para sahabat tidak menuruti perintah Rasulullah sesaat setelah itu.

 


اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ مُحَمد

Nasihat Ummu Salamah

Rasulullah kemudian bersabda

"Bangkitlah dan sembelihlah hewan qurban!"

Para sahabat Saling pandang.  Apa? Jadi Rasulullah menganggap bahwa mereka telah selesai berhaji?  Bukankah mereka sama sekali belum berthawaf?  Bahkan sama sekali belum melihat Ka'bah?  Namun Rasulullah mengulangi perintahnya sampai tiga kali.

Tidak ada satu pun sahabat yang beranjak. Semua diam termangu atau menunduk. Rasulullah memerhatikan wajah mereka. Bahkan Ali bin Abi Thalib dan Umar bin Khattab juga menolak.

Dengan perasaan gundah, Rasulullah masuk ke dalam tenda Ummu Salamah, diceritakannya semua kelakuan para sahabat kepada istrinya itu. Ummu Salamah mengerti betul betapa kecewanya Rasulullah . Kemudian Ummu Salamah mengajukan sebuah saran yang menunjukkan kecerdasan dan kebijaksanaannya, persis seperti yang dulu dilakukan oleh Khotijah untuk membangkitkan Rasulullah dalam masa-masa sulit penuh kegelapan.

"Wahai Rasulullah Apakah engkau ingin mereka melaksanakan perintah itu?" tanya Ummu Salamah.

"Keluarlah tetapi jangan berbicara sepatah kata pun kepada salah seorang dari mereka. Sembelihlah ternak kurban anda sendiri, Lalu panggilan tukang cukur dan bercukurlah."

Rasulullah kemudian keluar tanpa bicara sepatah kata pun dia melaksanakan saran dari Ummu Salamah. Setelah Rasulullah menyembelih kurban dan bercukur segera saja para sahabat melakukan hal yang sama.

Suasana yang tadinya murung penuh kebingungan, kini berubah menjadi ceria. Suara gembira para sahabat terdengar saat menyembelih kurban dan saling bergantian mencukur rambut. Sebagian ada yang mencukur rambut dan sebagian lain hanya memangkas rambut.

Rasulullah tersenyum dan bersyukur kepada Allah karena telah memberinya seorang istri yang begitu cerdas dan bijak.

"Semoga Allah melimpahkan rahmat kepada mereka yang mencukur rambut," doa Rasulullah .

Sebagian orang yang mendengarnya jadi gelisah. Mereka pun bertanya

"Dan mereka yang berpangkas rambut Ya Rasulullah?"

Para Wanita Mukminah

"Semoga Allah melimpahkan rahmat kepada mereka yang bercukur rambut," doa Rasulullah lagi. Para sahabat masih gelisah, mereka bertanya lagi, "dan mereka yang berpangkas rambut, Ya Rasulullah?

"Dan  mereka yang ber pangkas rambut," jawab Rasulullah akhirnya.

"Rasulullah, mengapa doa buat yang bercukur saja yang dinyatakan, bukan buat yang berpangkas rambut?"

"Karena mereka sudah tidak ragu-ragu," demikian jawab Rasulullah .

Umar bin Khattab sangat menyesal karena sempat menyangsikan keputusan Rasulullah dalam perjanjian Hudaibiyah. Apalagi setelah itu Rasulullah membacakan surat al-fath yang menegaskan bahwa dalam perjanjian itu Allah telah memberi kemenangan yang nyata. Legalah hati Umar mendengar firman Allah ini.

 

إِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُبِينًا

Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata, Surah Al-Fath (48:1)

 

Umar berkata, "Setelah itu, aku terus-menerus melakukan berbagai amal, sedekah Shaum, sholat dan berusaha membebaskan diri dari apa yang telah kulakukan saat itu. Aku selalu dibayangi kelakuan itu. Aku selalu berharap semoga semua itu merupakan kebaikan."

Tidak lama setelah mereka tiba kembali di Madinah datanglah serombongan wanita mukmin yang melarikan diri dari Quraisy.

Kemudian menyusullah para wali mereka yang menuntut agar wanita-wanita itu dikembalikan sesuai dengan perjanjian Hudaibiyah. Akan tetapi Rasulullah menolaknya, karena dalam perjanjian disebutkan bahwa kaum wanita tidak termasuk mereka yang harus dikembalikan.

Dalam Alquran surat Al Mumtahanah membenarkan tindakan Rasulullah ini.

 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا جَاءَكُمُ الْمُؤْمِنَاتُ مُهَاجِرَاتٍ فَامْتَحِنُوهُنَّ ۖ اللَّهُ أَعْلَمُ بِإِيمَانِهِنَّ ۖ فَإِنْ عَلِمْتُمُوهُنَّ مُؤْمِنَاتٍ فَلَا تَرْجِعُوهُنَّ إِلَى الْكُفَّارِ ۖ لَا هُنَّ حِلٌّ لَهُمْ وَلَا هُمْ يَحِلُّونَ لَهُنَّ ۖ وَآتُوهُمْ مَا أَنْفَقُوا ۚ وَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ أَنْ تَنْكِحُوهُنَّ إِذَا آتَيْتُمُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ ۚ وَلَا تُمْسِكُوا بِعِصَمِ الْكَوَافِرِ وَاسْأَلُوا مَا أَنْفَقْتُمْ وَلْيَسْأَلُوا مَا أَنْفَقُوا ۚ ذَٰلِكُمْ حُكْمُ اللَّهِ ۖ يَحْكُمُ بَيْنَكُمْ ۚ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

Hai orang-orang yang beriman, apabila datang berhijrah kepadamu perempuan-perempuan yang beriman, maka hendaklah kamu uji (keimanan) mereka. Allah lebih mengetahui tentang keimanan mereka; maka jika kamu telah mengetahui bahwa mereka (benar-benar) beriman maka janganlah kamu kembalikan mereka kepada (suami-suami mereka) orang-orang kafir. Mereka tiada halal bagi orang-orang kafir itu dan orang-orang kafir itu tiada halal pula bagi mereka. Dan berikanlah kepada (suami-suami) mereka, mahar yang telah mereka bayar. Dan tiada dosa atasmu mengawini mereka apabila kamu bayar kepada mereka maharnya. Dan janganlah kamu tetap berpegang pada tali (perkawinan) dengan perempuan-perempuan kafir; dan hendaklah kamu minta mahar yang telah kamu bayar; dan hendaklah mereka meminta mahar yang telah mereka bayar. Demikianlah hukum Allah yang ditetapkan-Nya di antara kamu. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Surah Al-Mumtahanah (60:10)

 

Dalam surat yang sama pula Allah memerintahkan Rasulullah untuk mengatakan janji setia kepada para mukminah itu. Mereka harus berjanji tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu pun, tidak berzina, tidak membunuh anak-anaknya, tidak berbuat dusta, dan tidak akan mendurhakai Rasulullah . Para mukminah itu pun menerimanya.

Abu Bashir

Ada satu orang lagi yang mempunyai nasib seperti Abu Jandal namanya Abu Basir. Ia datang ke Madinah dan minta agar Rasulullah mau menerimanya, Namun, belum lama ia menikmati hidup sebagai muslim yang merdeka di Madinah, datanglah surat dari Azhar bin Auf dan Akhnas bin Syariq yang ditujukan kepada Rasulullah , yakni meminta agar Abu Bashir dikembalikan. Surat itu dibawa oleh seorang laki-laki dari bani Amir yang disertai seorang budak.

"Abu Basir," sabda Rasulullah ,

"Kita telah membuat perjanjian dengan pihak mereka seperti yang sudah kau ketahui. Penghianatan menurut agama kita tidak dibenarkan. Semoga Allah membuat engkau dan orang-orang Islam yang ditindas bersamamu memperoleh kelapangan dan jalan keluar. Pulanglah engkau kembali ke dalam lingkungan masyarakatmu."

"Rasulullah," kata Abu Bashir,

"Saya akan dikembalikan kepada orang-orang musyrik yang akan menyiksa saya karena agama saya ini."

Namun, Rasulullah mengulangi kata-kata beliau tadi. Akhirnya, Abu Basir pun dibawa oleh kedua orang tadi.

Di Dzulhulaifah, belum jauh dari Madinah, mereka beristirahat dan makan kurma. Abu Bashir berkata kepada orang dari bani Amir,

"Demi Allah aku ingin sekali melihat pedangmu yang bagus itu, hai fulan."

Tanpa curiga utusan Quraisy itu menghunuskan pedang dan memperlihatkannya kepada Abu Basir sambil berkata,

"Boleh, demi Allah memang ini adalah benda yang bagus. Ia sudah cukup kenyang malang melintang bersamaku."

"Tolong Perlihatkan kepadaku, Aku ingin melihat dan memeriksanya," kata Abu Basir.

Begitu pedang itu ada di tangannya, Abu Bashir menusukkannya ke utusan  Quraisy itu sampai meninggal dunia. Seketika itu juga budak yang menyertai mereka berlari ke Madinah sambil berteriak-teriak.

Budak itu Terus Berlari memasuki masjid. Melihat kehadirannya Rasulullah bersabda,

"Sepertinya orang itu sedang ketakutan."

Budak itu berlari ke hadapan Rasulullah sambil berkata

"Teman Tuan membunuh teman saya, saya pun agaknya akan dibunuhnya pula."

 


اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ مُحَمد

Kelompok Abu Bashir

Tidak lama kemudian datanglah Abu Bashir dengan membawa pedang terhunus. Abu Bashir tahu bahwa Rasulullah sangat teguh memegang perjanjian. Jika saat itu ia menetap di Madinah, Rasulullah ﷺ pasti akan memulangkannya kembali.

Maka Abu Bashirpun berkata,

“Rasulullah, jaminan Tuan sudah terpenuhi dan Allah sudah melaksanakannya buat tuan. Tuan menyerahkan saya ke tangan mereka dan dengan agama saya ini saya tetap bertahan supaya saya jangan dianiaya atau dipermainkan karena keyakinan agama saya ini.”

Setelah berkata begitu Abu Bashir pergi meninggalkan Madinah. Rasulullah tahu maksud Abu Bashir. Beliau pun memandang kagum orang itu karena keberaniannya. Dalam hati Rasulullah mengharapkan Abu Bashir mempunyai anak buah.

Sesuai dugaan Rasulullah Abu basir tidak kembali ke Mekah ia pergi ke daerah Al Ish. Tempat itu adalah jalur perdagangan Quraisy menuju Syam, tepat di tepi laut. Kepergian Abu Bashir ke daerah ini didengar oleh kaum muslimin yang tinggal di Mekah. Mereka juga mendengar betapa kagumnya Rasulullah pada keberanian Abu Bashir.


Maka diam-diam 70 muslim yang selama ini hidup tertindas di Mekah pergi menyusul Abu Bashir. Abu Jandal tentu saja berada di antara mereka itu.

Ketika mereka tiba, kaum muslim yang tertindas itu mengangkat Abu Bashir sebagai pemimpin. Mulai sejak itulah mereka menyerang setiap kafilah dagang Quraisy yang lewat.

Ini berbahaya! Sangat berbahaya! gerutu seorang pemimpin Quraisy,

“Kita tidak bisa menyalahkan Muhammad karena para pengikutnya itu tidak lari ke Madinah! Mau tidak mau kita harus meminta Muhammad menampung mereka ke Madinah agar jalur dagang kita aman!”

“Tapi itu tidak sesuai dengan perjanjian Hudaibiyah, ” jawab yang lain.

“Kita terpaksa mengalah, tidak ada jalan lain, bukan!”

Akhirnya orang Quraisy meminta Rasulullah menerima Abu Bashir dan pasukannya. Mereka sadar bahwa orang yang imannya sangat kuat lebih berbahaya daripada membebaskannya.

Dengan demikian, gugurlah Salah satu isi perjanjian yang mengatakan bahwa orang muslim yang melarikan diri dari Quraisy harus dikembalikan.

Kini setiap muslim Mekah bisa bergabung setiap saat dengan Rasulullah dan para sahabatnya di Madinah. Ini adalah salah satu tanda kemenangan kaum muslimin.

Istri-istri Rasulullah

Kedudukan yang telah Rasulullah berikan kepada para istrinya belum pernah didapati oleh wanita-wanita Arab sebelum mereka. Rasulullah sangat lembut, selalu tersenyum, dan penuh kasih sayang kepada para isterinya.

“Laki-laki terbaik di antara kamu adalah yang berlaku paling baik kepada isterinya,” demikian sabda beliau.

Maka wajar saja, isteri-isteri Rasulullah menjadi sedikit manja. Mereka begitu mencintai Rasulullah sehingga saling berebut perhatian Beliau. Aisyah sangat cemburu jika Rasulullah sedang memberi perhatian kepada Hafshah, demikian pula sebaliknya. Bahkan Aisyah sampai cemburu kepada almarhumah Khadijah. Hal seperti itu tentu mengganggu ketentraman hati Rasulullah .

Tidak cukup sampai di situ, para ibu kaum muslimin itu pun mengeluh kepada Rasulullah tentang keserderhanaan hidup mereka.

Dengan mata berkaca-kaca, beberapa istri Rasulullah pernah memohon agar Rasulullah juga memperhatikan pakaian mereka yang sederhana.

Para ibu kaum Muslimin itu tahu bahwa Rasulullah adalah pemimpin negara yang cukup besar saat itu. Dengan mudah, Rasulullah akan dapat memberikan mereka pakaian dari sutra, kain katun mesir, dan baju halus dari Yaman. Bahkan, Rasulullah juga bisa saja memberikan setiap isterinya perhiasan dari emas. Jadi, mengapa mereka harus hidup sederhana.

Dengan cara halus, Rasululllah berusaha menyadarkan para isteri beliau. Sebagai isteri Rasulullah , mereka tidak sama dengan wanita-wanita lain. Mereka memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki wanita lain, yaitu bersuamikan Rasulullah . Mereka harus menjadi wanita penyabar dan patuh kepada suami sehingga pantas diteladani oleh isteri-isteri sahabat. Namun, isteri-isteri beliau secara halus tetap menuntut agar Rasulullah memberi uang belanja yang lebih layak.

Karena sudah tidak ada jalan lain. Rasulullah pun memutuskan hidup terpisah dari isteri-isterinya. Masalah yang harus dihadapi masih segunung, termasuk ancaman Yahudi dari Khaibar. Para isteri yang harusnya menentramkan malah mengeruhkan batin Rasulullah .

Mengetahui hal tersebut, Abu Bakar datang dan memarahi Aisyah. Umar bin Khatab juga memarahi putrinya Hafshah.

Akhirnya para isteri Rasulullah itu menyadari kelalaian mereka. Sambil menangis, mereka memohon ampun pada Allah dan berjanji tidak akan mengulangi lagi perbuatan mereka. Rasululllah memaafkan mereka dan kembali hidup tenteram seperti semula.

 


اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سيد نا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ سيد نا مُحَمد

Seruan Rasulullah agar Bekerja

Di Madinah masih ada orang-orang muslim yang hidup tanpa rumah dan tanpa pekerjaan. Mereka ini tinggal di masjid dan hidup tenang dari harta zakat yang diberikan oleh orang lain. Setiap hari yang mereka lakukan adalah berdzikir dan sholat di masjid.

Sebagian masyarakat sangat menghormati orang-orang yang tiada henti-hentinya berdzikir, sholat, dan berdoa itu.

Rasulullah menemukan salah seorang di antara mereka yang benar-benar mengkhususkan dirinya untuk beribadah. Orang itu terlihat begitu kurus karena sholat setiap siang dan malam hari.

Rasulullah juga melihat kekaguman orang-orang kepada laki-laki tadi. Dahi Rasulullah sedikit berkerut sehingga beliau bertanya kepada orang-orang,

“Siapa yang memberi dia makan?”

“Saudaranya ya Rasulullah.” jawab seseorang.

“Saudaranya itu jauh lebih ahli ibadah daripada dia,” demikian Sabda Rasulullah .

Setelah itu Rasulullah pun menghimbau semua orang yang hidup menganggur agar mau bekerja. Jika kita masih mempunyai kaki dan tangan, tidak ada alasan untuk tidak bekerja. Yang terbaik bagi seseorang adalah makan dari hasil pekerjaannya sendiri.

Rasulullah menceritakan kisah Nabi Daud. Walaupun dia seorang raja yang berkuasa dia tetap makan dari hasil pekerjaannya sendiri.

Maka tersentaklah orang-orang, ternyata ibadah itu mempunyai arti sangat luas. Bekerja untuk menafkahi keluarga termasuk ibadah besar jika diniatkan dengan ikhlas karena Allah semata.

Sejak itu kaum muslimin pun bekerja dengan giat. Apa pun yang halal mereka kerjakan, apalagi banyak ladang-ladang gembala dan sumur-sumur peninggalan orang Yahudi yang kini menjadi milik kaum muslimin.

Bekerja sebagai gembala, pencari kayu bakar dan pembuat tembikar jauh lebih baik daripada orang yang terus berdiam diri di masjid hanya untuk berdzikir.

Rasulullah adalah teladan kesungguhan yang sempurna. Apabila beliau telah memusatkan perhatiannya pada ibadah, maka dipusatkan lah perhatiannya sepenuhnya. Dan apabila melaksanakan suatu pekerjaan lain maka takkan beliau sudahi pekerjaan itu sebelum benar-benar selesai.

Larangan Minum Khamr

Setelah itu muadzin Rasulullah berseru,

“Setelah adzan, orang mabuk jangan ikut sholat!”

Maka banyaklah kaum muslim yang mulai mengurangi minum khamr sedapat mungkin. Namun Umar kembali berkata lagi,

“Ya Allah jelaskanlah kepada kami hukum khamr itu. Jelaskanlah dengan tegas Ya Allah. Hal ini menyesatkan pikiran dan harta.”

Umar berkata begitu karena pernah ada sekelompok muslimin Anshor dan Muhajirin yang berkelahi sambil mabuk. Khamr betul-betul membuat mereka saling menarik janggut dan memukul kepala orang lain.

Akhirnya turun ayat yang melarang khamr dengan tegas,

 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْأَنْصَابُ وَالْأَزْلَامُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. Surah Al-Ma’idah (5:90)

 

إِنَّمَا يُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُوقِعَ بَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاءَ فِي الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ وَيَصُدَّكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَعَنِ الصَّلَاةِ ۖ فَهَلْ أَنْتُمْ مُنْتَهُونَ

Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu dengan jalan (meminum) khamar dan berjudi, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan dari sholat; maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu). Surah Al-Ma’idah (5:91)

 

Begitu ayat ini turun para sahabat langsung menghentikan kebiasaan minum khamr.

“Semua umatku selamat kecuali orang-orang yang berbuat maksiat secara terang-terangan” (Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim)

Termasuk orang-orang yang berbuat maksiat secara terang-terangan adalah orang yang dengan bangga menceritakan perbuatan hinanya agar mendapat pujian serta kekaguman dari teman-temannya.

Kerajaan Romawi dan Persia

Saat Rasulullah hidup, ada dua kerajaan besar yang saling bermusuhan, yaitu Romawi dan Persia. Perang di antara keduanya menghasilkan kemenangan yang silih berganti. Pada suatu saat Romawi yang menang, pada saat yang lain Persialah yang menaklukkan lawannya.

Pada mulanya Persia yang menang, mereka menguasai Palestina dan Mesir, menaklukkan Baitul Maqdis atau Yerusalem dan berhasil merebut salib besar (the truth cross) yang disucikan orang Romawi yang beragama Kristen.

Setelah itu berganti Romawi yang menang. Mereka berhasil merebut kembali Mesir, Syam, dan Palestina.

Heraklius, kaisar Romawi saat itu memenuhi nazarnya dengan berziarah ke Yerusalem sambil berjalan kaki untuk mengembalikan salib besar ke tempatnya semula.

Nama dua kerajaan besar itu benar-benar menggetarkan hati para penguasa-penguasa kecil di daerah sekitarnya. Tidak ada sebuah kerajaan kecil pun yang mempunyai pikiran untuk menentang kehendak kedua kekaisaran itu. Yang mereka inginkan adalah berdamai dengan keduanya.

Termasuk hal itulah yang selama ini telah dilakukan oleh negeri-negeri Arab.

Yaman dan Irak berada di bawah pengaruh Persia. Sementara itu Mesir sampai ke Syam dibawah kekuasaan Romawi.

 


اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ مُحَمد

Utusan Kepada Heraklius

Rasulullah tidak pernah ragu sedikit pun untuk mengajak orang kepada agama yang benar, agama yang akan menyelamatkan manusia dari kesengsaraan tiada batas di akhirat nanti. Apalagi perjanjian Hudaibiyah sudah menjamin bahwa tidak akan ada peperangan dengan orang Quraisy selama 10 tahun kecuali jika perjanjian itu dilanggar oleh salah satu pihak. Maka ini adalah saatnya menyebarkan dakwah seluas mungkin tanpa takut dihambat oleh orang Quraisy.

Rasulullah mengutus Dihyah bin Khalifa Al Kalbi untuk menyampaikan surat kepada Heraklius, yang saat itu sedang berada di Baitul Maqdis. Surat Rasulullah itu berbunyi,

 

Bismillahirrohmanirrohim

Dari Muhammad bin Abdullah kepada Heraklius pemimpin Romawi. Kesejahteraan bagi siapa pun yang mengikuti petunjuk. Masuklah Islam niscaya tuan akan selamat. Masuklah Islam niscaya Allah akan melimpahkan pahala kepada tuan dua kali lipat. Namun jika tuan berpaling maka tuan akan menanggung dosa rakyat Arisiyin.

 

قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْا إِلَىٰ كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَلَّا نَعْبُدَ إِلَّا اللَّهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا وَلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ ۚ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُولُوا اشْهَدُوا بِأَنَّا مُسْلِمُونَ

Katakanlah: Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatu pun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah). Surah Ali ‘Imran (3:64)

 

Pada saat itu kebetulan Abu Sufyan dan rombongan pedagang Quraisy sedang berada di Darussalam. Heraklius mengundang mereka dalam pertemuan yang dihadiri oleh para pembesar Romawi.

“Siapa di antara kalian yang mempunyai ikatan darah yang paling dekat dengan orang yang mengaku sebagai nabi itu?” tanya penerjemah Heraklius.

“Akulah orang yang paling dekat hubungan darahnya dengan dia,” jawab Abu Sufyan.

“Mendekatlah kemari!” minta Heraklius.

(Kisah di kemudian hari) Heraklius adalah penguasa Romawi Timur atau Byzantium yang ibukotanya di Konstantinopel.

Sepeninggal nabi, Khalifah Abu Bakar mendengar tentang gerakan pasukan Romawi yang membahayakan Negara Islam.

Abu Bakar mengirim pasukan di bawah komando Amr Bin Al As Suara, Bilal bin Hasanah dan Yazid bin Abu Sofyan beberapa hari sebelum Abu Bakar wafat. Pasukan muslim berhasil mengusir pasukan Byzantium untuk selamanya.

Heraklius dan Abu Sufyan

“Bagaimana nasibnya di tengah kalian?” tanya Heraklius melalui penterjemahnya.

“Dia adalah orang terpandang di antara kami,” jawab Abu Sufyan. Lalu Heraklius terus bertanya tentang Rasulullah yang selalu dijawab Abu Sufyan dengan jujur. Akhirnya Heraklius berkata, “Aku sudah menanyakan kepadamu, apakah kalian menuduhnya pembohong sebelum dia mengatakan apa yang dikatakannya? Engkau menjawab tidak. Memang aku tahu, tidak mungkin dia berdusta terhadap manusia dan terhadap Allah.

Aku sudah menanyakan kepadamu apakah yang mengikutinya dari kalangan orang-orang yang terpandang ataukah orang-orang yang lemah? Engkau katakan, orang-orang lemahlah yang paling banyak mengikutinya Memang begitulah pengikut para rasul.

Aku sudah menanyakan kepadamu adakah seseorang yang murtad dari agamanya karena benci terhadap agamanya itu setelah dia memasukinya? Engkau katakan tidak ada. Memang begitulah Jika iman sudah meresap ke dalam hati.

Aku sudah menanyakan kepadamu Apakah dia pernah berkhianat?

Engkau katakan tidak pernah. Memang begitulah para rasul memang tidak pernah berkhianat.

Aku sudah menanyakan kepadamu apakah yang diperintahkan’?

Engkau katakan bahwa dia menyuruh kalian untuk menyembah Allah dan tidak menyekutukan sesuatu pun dengannya, melarang kalian menyembah berhala, menyuruh kalian mendirikan shalat, bersedekah, jujur, dan menjaga kehormatan diri.

Jika yang engkau katakan ini benar, maka dia akan menguasai tempat di mana kedua kakiku berpijak saat ini. Jauh-jauh sebelumnya aku sudah menyadari bahwa orang yang seperti dia akan muncul dan aku tidak menduga bahwa dia berasal dari tengah masyarakat kalian. Andaikata aku bisa bebas bertemu dengannya, aku lebih memilih bertemu dengannya. Andaikan aku berada di hadapannya, tentu akan kubasuh kedua telapak kakinya.” Setelah itu Heraklius meminta surat Rasulullah dibacakan sampai selesai. Segera saja suara gaduh terdengar di sana-sini.

Setelah memeluk Islam, Abu Sufyan pun berkata, “Sejak saat itu aku yakin akan kemenangan Rasulullah hingga akhirnya Allah memberiku petunjuk untuk memeluk Islam.”

 

Bersambung

BACA JUGA :
Sirah Nabawiyah Bagian 26




Sirah Nabawiyah TERBARU


Silahkan Buat akun atau Login untuk Berkomentar dari web!

0 Comment