07 Agu 2020
    Follow Us:  



Sirah Nabawiyah

Kisah Perjalanan Hidup Manusia Agung Rasulullah Muhammad SAW, Sirah Nabawiyah Bagian 17


Kisah Nabi Muhammad SAW

Katakanlah (wahai Nabi), ‘Sesungguhnya Rabbku melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan menyempitkan bagi siapa yang dikehendaki-Nya.’ Dan apa saja yang kalian nafkahkan/infakkan maka Dia akan menggantinya dan Dia lah Pemberi rezeki yang sebaik-baiknya. (Saba: 39)

KISAH RASULULLAH

Bagian 17

Masih dalam Perang Badar Kubra Peperangan Islam Pertama yang Menentukan

Meninggalnya Ruqayyah

Rasulullah meminta pendapat para sahabat tentang para tawanan. Umar Bin Khattab mengusulkan agar para tawanan itu dibunuh. Sangat berbahaya jika melepaskan mereka, walau keluarganya menebus dengan gunung harta, sebab mereka dapat kembali memerangi kaum muslimin.

Abu Bakar berpendapat lain, yang mengusulkan agar para tawanan dibiarkan ditebus keluarganya, dengan harapan mudah-mudahan suatu saat kelak mereka mau mengikuti ajaran Islam. Lagipula uang yang dibayarkan dapat digunakan untuk melengkapi persenjataan kaum muslimin.

Rasulullah cenderung pada pendapat Abu Bakar.

Beliau berdiam sementara di luar Madinah, untuk menunggu tebusan dari pihak Quraisy. Para tawanan pun ditebus dengan uang dan mereka kembali bebas, namun setelah itu Rasulullah mendapat berita, bahwa pihak Quraisy sedang mengadakan persiapan penyerbuan dengan jumlah pasukan yang jauh lebih besar. Sebagian besar para tawanan bergabung dengan pasukan baru itu.

Akhirnya Rasulullah menyadari bahwa saran Umar lebih tepat, tidak pantas bagi seorang Rasulullah mempunyai tahanan sebelum menghancurkan musuh-musuhnya di muka bumi.

Setelah itu harta rampasan perang dibagikan dengan rata kepada pasukan. Mereka pun kembali ke Madinah, Rasulullah langsung menuju masjid untuk memberitakan kemenangan serta mengumumkan nama-nama bangsawan Quraisy yang mati. Setelah itu Rasulullah pergi ke rumah Utsman bin Affan untuk menjenguk Ruqayyah putrinya yang sudah lama terbaring sakit. Utsman bin Affan memang diminta Rasulullah menjaga istri dan anaknya sehingga Usman tidak mengerti pertempuran Badar. Saat Rasulullah tiba, Usman malah menangis sambil memeluk Rasulullah , karena ternyata Ruqayyah telah wafat ketika beliau masih di luar Madinah.

Rasulullah diantar ke makam Ruqayyah, beberapa sahabat berusaha menghibur kesedihan yang membebani dada beliau. Mereka menemani pula beliau pulang ke rumah.

Di tengah perjalanan pulang, seorang Yahudi memandang Rasulullah dengan sinis, sambil berkata para bangsawan Quraisy memang tidak mempunyai keahlian dalam perang. Kalau saja kalian berperang melawan kami, Kalian baru akan mengetahui bahwa kamilah sebenar-benarnya prajurit.

Para sahabat tidak membalas perkataan sinis itu, karena tidak tega melukai kesedihan di hati Rasulullah .

Rasulullah pun tidak menghiraukan ejekan dengki itu dan terus melangkah menuju rumah.

▪Dzun Nuraini▪

Setelah duka ditinggal Ruqayyah, Utsman kemudian menikahi adik Ruqayyah, Ummu Khultsum. Ummu Khultsum juga diusir oleh kedua mertuanya, Abu Lahab dan istrinya Ummu Jamil serta suaminya Utaibah, adik Utbah. Karena menikahi dua putri nabi inilah Utsman digelari Dzun Nuraini, ‘Si Pemilik Dua Cahaya’.

Rasulullah Hampir Dikultuskan

Sudah beberapa lama putri Rasulullah, Ruqayyah terserang sakit dan tidak kunjung sembuh. Musuh-musuh Rasulullah dari kalangan Yahudi dan orang-orang munafik mulai menyebarkan desas-desus,

“Kalau memang Muhammad itu seorang nabi, tentu ia dengan mudah bisa menyembuhkan penyakit putrinya.”

“Jangan-jangan, dia memang bukan seorang nabi, melainkan tukang sihir,” timpal yang lain,

“Dulu di Mekah sihirnya berhasil memikat banyak orang, tetapi di sini ternyata tidak mempan.”

Desas-desus yang beredar gencar, membuat keimanan sebagian orang mulai goyah. Orang-orang munafik yang dipimpin Abdullah bin Ubay semakin bersemangat mengatakan ini dan itu tentang pribadi Rasulullah. Mendengar itu, sebagian Muslim bangkit amarahnya. Mereka melawan desas-desus itu dengan sanjungan pujian, dan pemujaan kepada Rasulullah.

“Jangankan menyembuhkan penyakit, menghidupkan orang mati pun tentu Rasullulah bisa,” demikian kata mereka.

Mendengar hal-hal seperti itu, Rasullulah segera datang dan berkata, “Janganlah kalian menyanjung-nyanjung diriku.”

“Bagaimana kami tidak akan menyanjung dirimu ya Rasulullah, bukankah engkau adalah pemimpin kami semua?”

Beliau menggeleng. Beliau kemudian berkata bahwa dirinya hanyalah manusia biasa, ia tidak dapat menolak atau menyembuhkan penyakit apabila hal itu memang sudah dikendaki Allah. Beliau adalah manusia yang juga dapat menangis, tertawa, kepayahan, kesegaran, tidur, marah, senang, lapar, dahaga, makan, dan perlu pergi ke pasar seperti orang lain.

Bahkan Rasulullah sendiri menderita sakit. Seorang tabib dipanggil datang untuk melakukan penyembuhan. Tabib itu melakukan pembekaman agar darah yang mengandung penyakit keluar. Namun, begitu darah Rasulullah keluar, tabib yang suka menyanjung itu menjilati darah beliau. Segera saja Rasulullah melarang tabib itu dengan keras sambil berkata,

“Semua darah haram! Semua darah haram!”

Demikianlah, di satu sisi ada orang yang membenci Rasulullah, sementara disisi lain banyak orang yang justru memuja beliau secara berlebihan.

Sehari sebelum Rasulullah tiba di Madinah, berita kemenangan dibawa oleh Zaid bin Haritsah dan Abdullah bin Rawahah dari dua jurusan yang berlainan. Kaum Muslimin segera keluar rumah dan bergembira menyambut kemenangan besar ini.

 


اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ مُحَمد

Mekah Terkejut

Sementara itu keadaan sebaliknya menimpa Mekah, Al Haisuman bin Abdullah Al Khuza'i tergesa-gesa memasuki Mekah.

Diberitakannya kehancuran pasukan Quraisy dan bencana yang telah menimpa para pemimpin, pembesar, dan bangsawan mereka.

Mulanya orang Mekah tidak percaya, tetapi setelah yakin bahwa Al Haisuman tidak mengigau, seluruh kota menjadi penuh dengan jerit tangis.

Abu Lahab yang tidak ikut berperang sangat terpukul mendengarkan berita mengerikan itu.

"Tidak mungkin !"

"Tidak mungkin !" demikian igaunya.

Keesokan harinya, ia jatuh sakit dan menderita demam selama tujuh hari sebelum akhirnya meninggal.

Para pemuka Quraisy pun berkumpul untuk memutuskan yang akan mereka lakukan.

"Ingat sesedih apa pun hati kita jangan menunjukkan duka cita secara berlebihan," demikian kata salah seorang di antara mereka.

"Jika Muhammad dan teman-temannya mendengar ini, mereka akan mengejek kita habis-habisan,"

"Jangan cepat-cepat datang membawa tebusan untuk membebaskan para tawanan," usul yang lain._

"Nanti Muhammad akan meminta harga yang terlampau tinggi !

Kita tunggu kesempatan baik untuk menebus mereka."

Setelah beberapa lama barulah orang-orang Quraisy berdatangan untuk menebus para tawanan.

Salah seorang di antaranya adalah Mikraz bin Hafz.

Dia datang untuk menebus Suhail bin Amir.

Suhail dikenal suka menjelek-jelekkan Rasulullah .

Begitu mengetahui Suhail akan dibebaskan Umar Bin Khattab menjadi sangat geram.

Ia mendatangi Rasulullah sambil berkata,

"Rasulullah ijinkan saya mencabut 2 gigi seri Suhail bin Amir supaya lidahnya tidak terjulur keluar dan tidak lagi berpidato mencercamu di mana-mana."

Namun Rasulullah menjawab permintaan Umar itu dengan kata-kata yang sangat agung,

"Aku tidak akan memperlakukannya secara kejam, supaya Allah tidak memperlakukan aku demikian, Sekali pun aku seorang nabi.

Hindun

Seberapa pun kuatnya orang-orang Quraisy menutupi kesedihannya, luka yang dalam itu tidak terbendung juga.

Para wanita Quraisy selama sebulan penuh menangisi mayat-mayat para pejuang mereka.

Mereka menggunting rambutnya sendiri, lalu membawa kuda dan unta orang yang sudah mati.

Setelah itu mereka menangis sambil mengelilinginya.

Hampir semua wanita yang kehilangan kerabatnya berlaku demikian, kecuali Hindun binti utbah, Istri Abu Sufyan.

Ketiga orang yang mati dalam duel sebelum pertempuran adalah orang-orang terdekat yang sangat disayangi Hindun.

Utbah bin Rabiah adalah ayahnya, Syaibah bin Rabiah adalah pamannya, dan Walid Bin Utbah adalah kakaknya.

Belum lagi beberapa keluarganya yang lain yang juga mati dalam pertempuran.

Bisa dikatakan di antara wanita Quraisy Hindunlah yang paling banyak kehilangan sehingga pantaslah jika ia menunjukkan duka cita lebih banyak dibanding yang lain.

Melihat Hindun tidak menangis, para wanita Quraisy keheranan.

Beberapa dari mereka mendatangi Hindun sambil bertanya,

"Kau tidak menangisi ayahmu, saudaramu, pamanmu, dan keluargamu yang lain ?"

Hindun berpaling dan menatap kawan-kawannya dengan tajam.

Para wanita itu terkejut mengetahui bahwa bukan air mata yang mereka lihat di mata Hindun, melainkan api dendam yang berkobar-kobar.

Hindun menjawab dengan kata-kata keras,

"Aku menangisi mereka supaya nanti didengar oleh Muhammad dan teman-temannya sehingga mereka bisa menyoraki kita, begitu ?

Dan supaya wanita-wanita Khazraj juga bisa menyoraki kita ?

Tidak !

Aku harus menuntut balas kepada Muhammad dan teman-temannya !

Haram bagi kita memakai minyak wangi sebelum kita dapat memerangi Muhammad."

"Sungguh kalau aku dapat mengetahui bahwa kesedihan dapat hilang dari hatiku, tentu aku menangis.

Tetapi kesedihan ini baru akan hilang, kalau mayat orang yang telah membunuh orang-orang yang kucinta itu sudah kulihat dengan mata kepalaku sendiri !"

Setelah itu, Hindun benar-benar menjalankan sumpahnya.

Ia tidak memakai minyak wangi atau mendekati suaminya.

Ia terus dan terus membakar semangat dendam orang-orang Quraisy sampai kemudian tiba saat Perang Uhud.

Abu Sufyan sendiri bersumpah tidak akan mencuci kepala dengan air sebelum ia memerangi kembali Rasulullah.

Kisah Menantu Rasulullah

Salah seorang tawanan perang Badar adalah Abul Ash bin Rabi Ia adalah menantu Rasulullah.

Karena ia menikahi Putri beliau Zainab, untuk menebus suaminya, Zainab mengirimkan Seuntai kalung peninggalan ibunya kepada Rosulullah.

Ketika melihat kalung milik Khadijah itu, Rasulullah amat terharu, air mata pun menetes di pipi beliau.

Melihat duka Rasulullah , para sahabat setuju untuk membebaskan Abul Ash bin Rabi tanpa harus membayar tebusan.

Rasulullah mengembalikan kalung Khadijah kepada Abul Ash dan meminta agar Abul Ash menceraikan Zainab.

Menurut hukum Islam, seorang wanita Mukmin memang tidak boleh menikahi laki-laki kafir.

Abul Ash menyetujui permintaan itu.

 


اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ مُحَمد

Ketika kembali ke Mekkah, keluarganya berkata,

"Biarlah engkau menceraikan istri mu itu, dan kami akan mencarikan bagimu gadis yang jauh lebih cantik daripada nya".

Namun Abul Ash amat mencintai Zainab sehingga ia berkata,

"Di Suku Quraisy tidak ada gadis yang dapat menandingi istriku,"

Walau dihalang-halangi orang Quraisy, Abul Ash melepaskan Zainab ke Madinah.

Di tengah jalan beberapa orang Quraisy mengganggu unta Zainab sehingga putri Rasulullah yang sedang hamil itu jatuh.

Ketika itulah Zainab mengalami keguguran kandungannya.

Beberapa waktu kemudian,  Abul Ash pergi membawa barang-barang dagangan Quraisy, namun saat tiba di dekat Madinah, sebuah pasukan patroli muslim memergokinya.

Mereka pun menyita semua barang bawaan.

Abul Ash diam-diam berlindung dalam gelapnya malam.

Abul Ash masuk ke Madinah dan meminta perlindungan kepada Zaenab.

Zainab pun melindunginya.

Mengetahui hal itu kaum muslimin mengembalikan barang-barang dagangan yang dibawa Abul Ash, dia pun segera pulang ke Mekah dan mengembalikan semua barang itu, kemudian berkata,

"Masyarakat Quraisy !

Masih adakah dari kamu yang belum mengambil barangnya ?"

"Tidak ada," jawab mereka.

"Engkau ternyata orang jujur dan murah hati."

Ketika itu Abul Ash pun masuk Islam dan kembali ke Madinah.

Dengan bahagia Rasulullah mengembalikan Zainab kepada Abul Ash sebagai seorang istri.

Al Qur'an Berbicara Seputar Peperangan

Berkenaan dengan peperangan tersebut turunlah surat Al Anfal.

Surat ini merupakan "komentar Ilahi" terhadap peperangan tersebut.

Komentar tersebut sangat berbeda dengan komentar-komentar yang dikemukakan oleh para raja dan panglima perang setelah meraih kemenangan.

Pertama,

Allah mengalihkan pandangan kaum muslimin untuk melihat segala kekurangan akhlak yang masih ada pada diri mereka dan sebagainya,

Agar mereka berupaya untuk menyempurnakan jiwa mereka dan membersihkannya dari kekurangan kekurangan tersebut.

Kemudian,

Allah memuji segala hal yang ada dalam kemenangan tersebut berupa Pertolongan Allah secara ghaib kepada kaum muslimin.

Hal itu dikemukakan kepada mereka agar mereka tidak terpedaya dengan keberanian mereka,

Sehingga jiwa mereka menjadi sombong.

Bahkan agar mereka bertawakkal kepada Allah, menaati-Nya dan menaati Rasulullah .

Kemudian,

Dia menjelaskan tujuan mulia yang melandasi Rasulullah terjun dalam peperangan berdarah tersebut,

Dan menunjukkan kepada mereka sifat-sifat dan akhlak yang dapat menyebabkan kemenangan dalam peperangan.

Kemudian,

Berbicara kepada kaum musyrikin, orang-orang munafik, orang-orang Yahudi, dan para tawanan perang.

Dia menasehati mereka secara baik, dan membimbing mereka untuk tunduk kepada kebenaran.

Selanjutnya, berbicara kepada kaum muslimin seputar masalah perampasan barang dan menetapkan prinsip-prinsip masalah tersebut kepada mereka.

Setelah itu

Dia menjelaskan dan menetapkan undang-undang peperangan dan perdamaian yang sangat mereka butuhkan setelah dakwah Islam memasuki fase tersebut,

Sehingga peperangan kaum muslimin berbeda dengan peperangan orang-orang jahiliyah.

Kaum muslimin memiliki kelebihan dalam hal akhlak dan nilai dan menegaskan kepada dunia bahwa Islam bukan sekedar teori namun juga mendidik penganutnya secara praktis di atas asas dan prinsip yang diserukan oleh-Nya.

Kemudian

Menetapkan beberapa ketentuan dari undang-undang negara Islam yang menjelaskan tentang perbedaan antara kaum muslimin yang tinggal di dalam batas negara Islam dan kaum muslimin yang tinggal di luar batas negara Islam.

Pada tahun kedua Hijriah diwajibkan Shaum Ramadhan, diwajibkan zakat fitrah dan dijelaskan nisab-nisab zakat yang lain.


Diwajibkannya zakat fitrah, serta meringankan beban yang dipikul oleh sejumlah besar kaum Muhajirin, karena mereka adalah kaum fuqara yang tidak dapat memenuhi kebutuhan hidupnya.

Di antara peristiwa yang terindah adalah hari raya pertama bagi kaum muslimin jatuh pada bulan Syawal tahun kedua Hijriyah setelah meraih kemenangan dalam Perang Badar.

Alangkah indahnya hari raya yang membahagiakan itu, yang Allah berikan kepada mereka setelah mereka meraih kemenangan dan kemuliaan.

Alangkah indahnya pemandangan sholat Ied yang mereka lakukan setelah mereka keluar dari rumah-rumah mereka sambil mengumandangkan takbir, tauhid, dan Tahmid.

Hati mereka penuh dengan harapan kepada Allah rindu kepada rahmat dan keridhaan-Nya.

Setelah Allah berikan berbagai nikmat kepada mereka dan didukung dengan pertolongan-Nya.

Hal itu diingatkan kepada mereka dengan firman-Nya : Quran surat

Al-Anfal (الأنفال) / 8:26

 

وَ اذۡکُرُوۡۤا اِذۡ اَنۡتُمۡ قَلِیۡلٌ مُّسۡتَضۡعَفُوۡنَ فِی الۡاَرۡضِ تَخَافُوۡنَ اَنۡ یَّتَخَطَّفَکُمُ النَّاسُ فَاٰوٰىکُمۡ وَ اَیَّدَکُمۡ بِنَصۡرِہٖ وَ رَزَقَکُمۡ مِّنَ الطَّیِّبٰتِ لَعَلَّکُمۡ تَشۡکُرُوۡنَ

"Dan ingatlah para Muhajirin ketika kamu masih berjumlah sedikit lagi tertindas di muka bumi (Mekah)

Kamu takut orang-orang Mekah akan menculik kamu maka Allah memberikan kamu tempat menetap (Madinah),

Mendukung kamu dengan pertolongan-Nya

Dan memberi rizki kamu dari yang baik-baik agar kamu bersyukur.

 


اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ مُحَمد

Berbagai Operasi Militer Antara Badar dan Uhud

Perang Badar merupakan awal pertarungan bersenjata antara kaum muslimin dan kaum musyrikin,

Dan merupakan peperangan yang menentukan,

Kaum muslimin memperoleh kemenangan besar yang diakui oleh seluruh orang Arab.

Orang yang menyesali akibat perang tersebut adalah mereka yang secara langsung memperoleh kerugian berat,

Yaitu kaum musyrikin atau orang-orang yang memandang kemuliaan dan kemenangan kaum muslimin merupakan pukulan telak terhadap eksistensi keagamaan dan perekonomian mereka yaitu kaum Yahudi.

Sejak kaum muslimin meraih kemenangan dalam Perang Badar dua kelompok tersebut menyimpan amarah terhadap kaum muslimin.

Di Madinah terdapat para pendukung dua kelompok tersebut, dan mereka berpura-pura masuk Islam tatkala tidak ada tempat lagi untuk meraih kewibawaan mereka.

Mereka adalah Abdullah bin Ubay dan teman-temannya,  kelompok ketiga ini lebih besar lagi kemarahannya daripada dua kelompok di atas.

Di samping itu terdapat kelompok keempat, mereka adalah orang-orang Baduy yang tinggal di sekitar Madinah.

Masalah kekufuran dan keimaman mereka tidaklah menjadi perhatian bagi mereka, tetapi mereka adalah para perampok dan perampas.

Mereka mulai goncang karena kemenangan yang diraih kaum muslimin.

Mereka khawatir akan tegak di Madinah suatu negara yang kuat, yang akan menghalangi mereka untuk meraih kesuksesan atau kekuatan melalui perampokan dan perampasan.

Sehingga mereka pun membenci kaum muslimin dan menjadi musuh mereka.

Perang Bani Sulaim

Berita pertama yang disampaikan oleh utusan dari Madinah kepada Nabi setelah Perang Badar adalah Bani Sulaim.

Bani Sulaim ini berasal dari kabilah Ghathafan.

Mereka menggalang kekuatannya untuk menyerang Madinah.

Nabi dengan pasukan kavaleri yang berkekuatan 200 personel mendatangi kabilah tersebut di perkampungannya.

Sesampainya beliau di wilayah mereka di daerah al-Kudr, Bani Sulaim melarikan diri dan meninggalkan 500 ekor unta.

Mereka meninggalkan untanya di suatu lembah yang dikuasai oleh pasukan Madinah.

Beliau juga mendapatkan seorang budak yang bernama Yasar yang kemudian dibebaskan.

Di perkampungan Bani Sulaim tersebut Nabi   tinggal selama tiga hari.

Kemudian beliau kembali ke Madinah.

Peperangan tersebut terjadi pada bulan Syawal tahun kedua Hijriyah 7 hari setelah pulang dari Perang Badar.

Dalam peperangan tersebut Nabi   menyerahkan urusan Madinah kepada Siba' bin Arfatah.

Persekongkolan untuk Membunuh Nabi Muhammad

Kekalahan kaum musyrikin dalam Perang Badar menimbulkan dampak yang mendalam.

Kaum Quraisy di Mekah menjadi marah dan mulai meluap-luap emosinya terhadap Nabi Muhammad .

Ada dua orang tokoh Quraisy yang melakukan persekongkolan untuk membunuh nabi Muhammad .

Tidak beberapa lama seusai Perang Badar, Umair bin Wahab Al jami' dan Safwan Bin Umayyah duduk bersama di sebuah batu.

Umair adalah salah seorang "Syaithan" Quraisy yang selalu menyakiti Nabi Muhammad dan para sahabat beliau ketika masih berada di Mekkah.

Sedangkan anaknya yang bernama Wahab bin Umair menjadi tawanan Badar.

Umair menyebutkan para tokoh korban perang Badar, lalu Sofwan berkata,

"Sesungguhnya setelah kematian mereka akan datang kehidupan yang baik."

Umair berkata kepadanya,

"Sungguh, kamu benar.

Demi Allah, seandainya aku tidak mempunyai tanggungan hutang, dan tidak khawatir terlantar setelah aku mati, pasti aku akan mendatangi Muhammad dan membunuhnya.

Aku mempunyai alasan  yaitu anakku yang menjadi tawanan mereka."

Safwan pun menjawab,

_"Utangmu aku tanggung, aku yang akan melunasinya, dan keluargamu

bersama keluargaku selama mereka masih hidup._

Hal itu tidak berat bagiku".

Umair kemudian berkata,

"Rahasiakanlah persoalan ini, Akan kulakukan,"

Selanjutnya Umair mengambil pedangnya, lalu dia berangkat ke Madinah.

Ketika sudah sampai di pintu masjid dia menderumkan untanya.

Terlihat olehnya Umar Ibnul Khattab yang sedang berbincang-bincang dengan beberapa orang dari kaum muslimin tentang kemenangan perang Badr.

Maka Umar berkata,

"Ini musuh Allah."

"Umair tidaklah datang kecuali untuk maksud jahat."

Kemudian Umar masuk mendatangi Nabi Muhammad seraya berkata,

"Wahai nabi Allah, Umair musuh Allah telah datang dengan menyandang pedangnya."

Nabi menjawab,

"Suruhlah masuk menemui aku."

Umar pun menemui Umair, dan sambil menarik tali pedang Umair ia berkata kepada beberapa orang dari kaum Anshor,

"Masuklah, temui Rasulullah   dan duduklah di sisi beliau, serta jagalah beliau dari orang jahat ini, karena dia perlu diwaspadai."

 


للَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ مُحَمد

Umar kemudian membawa masuk Umair kepada Rasulullah .

Setelah melihatnya dan Umar memegang tali pedang yang berada di lehernya, Nabi   berkata,

"Lepaskanlah wahai Umar, dan mendekatlah hai Umair."

Umair kemudian mendekat dan berkata,

"Selamat pagi."

Nabi   menjawab,

"Allah telah memuliakan kami dengan suatu penghormatan yang lebih baik dari penghormatanmu hai Umair,

Yaitu dengan salam penghormatan penduduk surga."

Beliau kemudian bertanya,

"Hai Umair, ada keperluan apa kamu datang ?"

Umair menjawab,

"Aku datang karena anakku menjadi tawananmu."

"Perlakukanlah ia secara baik."

Nabi bertanya,

"Lalu untuk apa pedang yang ada di lehermu itu."

Umair menjawab,

"Semoga Allah memperburuk pedang tersebut.

Apakah pedang ini berguna bagi kami ?"

Nabi berkata,

"Berkatalah secara jujur, kamu datang dalam rangka apa ?"

Umair menjawab,

"Aku tidaklah datang kecuali untuk keperluan tersebut."

Nabi berkata,

"Tidak, kamu dengan Safwan bin Umayyah telah duduk di sebuah batu, dan kalian telah menyebut-nyebut tentang para korban Perang Badar dari kaum Quraisy, kemudian kamu berkata,

"Seandainya aku tidak mempunyai tanggungan hutang dan keluarga, aku akan keluar untuk membunuh Muhammad."

Kemudian Sofwan menanggung hutang dan menjamin keluargamu dengan syarat kamu membunuhku.

Allah pasti menghalangi rencanamu itu."

Umair berkata,

"Saya bersaksi bahwa Engkau adalah Rasulullah wahai Rasulullah, sebelumnya aku mendustakan berita-berita langit yang Kau bawa kepada kami dan wahyu yang diturunkan kepadaMu.

Rencanaku ini tidak ada yang mengetahui selain aku dan Sofwan,  demi Allah aku mengetahui tidak ada yang memberitahukan padaMu kecuali Allah."

"Segala puji bagi Allah yang telah menunjukkan aku kepada Islam dan membawa aku ke tempat ini kemudian mengucapkan syahadat secara benar."

Rasulullah lalu berkata

"Ajarilah saudara kalian ini tentang agama, ajarkan Al quran kepadanya dan bebaskanlah tawanannya."

Adapun Sofwan mengatakan,

"Bergembiralah dengan suatu peristiwa yang datang kepada kalian sekarang, pada hari-hari yang akan melupakan kalian dari peristiwa Badar."

Dia bertanya tentang Umair kepada orang-orang yang berpergian, sehingga salah seorang yang berpergian memberitahukan kepadanya tentang keislaman Umair.

Sofwan bersumpah untuk tidak berbicara kepadanya selamanya, dan tidak akan memberikan suatu manfaat kepadanya selamanya.

Umair kembali ke Mekah dan tinggal di sana menyerukan Islam.

Kemudian banyak orang yang masuk Islam melalui dakwahnya.

Perang Bani Qainuqa

Pada perjanjian yang lalu yang diadakan oleh Rasulullah dengan orang-orang Yahudi, telah disebutkan bahwa beliau dan kaum muslimin sudah berusaha untuk melaksanakan isi perjanjian tersebut.

Tetapi sebaliknya orang-orang Yahudi tak ada seorang pun yang mematuhi isi perjanjian.

Mereka selalu melakukan penghianatan sehingga meresahkan kaum muslimin.

Ibnu Ishaq berkata Syas bin Qais seorang tokoh Yahudi yang sangat kufur dan sangat membenci serta dengki kepada kaum muslimin melewati beberapa orang sahabat Rasulullah ﷺ  dari kabilah Aus dan Khazraj yang berada dalam suatu majelis yang telah menyatukan mereka.

Mereka sedang berbincang-bincang di dalam majelis tersebut.

Melihat persatuan dan hubungan baik sesama mereka di atas dasar Islam, telah membangkitkan kemarahan Syas bin Qais.

Dia berkata dalam hati,

"Para tokoh telah bersatu di negeri ini.

Demi Allah, saya tidak akan bersama mereka Apabila para tokoh mereka bersatu di negeri ini karena suatu ketetapan".

Ia kemudian menyuruh seorang pemuda Yahudi yang ikut bersamanya untuk mendatangi mereka dengan mengatakan,

"Datanglah kepada mereka dan duduklah bersama mereka, kemudian Ingatkan akan peristiwa Bu'ats dan peristiwa-peristiwa sebelumnya, dan alunkan kepada mereka beberapa syair yang berisi tentang pertengkaran mereka."

Pemuda Yahudi itu pun melakukannya, maka kaum muslimin ketika itu menjadi bertengkar sampai dua orang dari dua kabilah itu melompat ke atas suatu kendaraan lalu terjadi perang mulut.

Dua kelompok tersebut menjadi marah semuanya dan berkata,

"Telah kami lakukan janji kalian yang menyakitkan."

"Senjata, senjata."

Mereka lalu keluar mendatangi lawannya dan hampir terjadi peperangan.

Peristiwa tersebut sampai kepada Rasulullah lalu Beliau bersama para sahabat mendatangi mereka seraya mengatakan,

"Wahai kaum muslimin, ingat Allah, Allah !

Apakah kalian menyerahkan seruan jahiliyah sementara aku masih di tengah-tengah kalian,

Setelah Allah menunjukkan kalian kepada Islam dan memuliakan kalian dengannya,

Memutuskan kalian dari perkara jahiliyah, menyelamatkan kalian dari kekufuran dan menyatukan hati kalian ?"

Mendengar itu semua, akhirnya kaum muslimin pun sadar bahwa apa yang terjadi itu merupakan tipu daya setan dari musuh mereka. (Surya)

 

Bersambung

BACA JUGA :
Sirah Nabawiyah Bagian 18




Sirah Nabawiyah TERBARU


Silahkan Buat akun atau Login untuk Berkomentar dari web!

0 Comment