07 Agu 2020
    Follow Us:  



Sirah Nabawiyah

Kisah Perjalanan Hidup Manusia Agung Rasulullah Muhammad SAW, Sirah Nabawiyah Bagian 14


Kisah Nabi Muhammad SAW

 

KISAH RASULULLAH

 

اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّد

 

Bagian 14

Tempat Rasulullah Menginap

Semua keluarga di Yatsrib berebut menawarkan diri menjadi tuan rumah kepada Rasulullah . Semuanya ingin agar Rasulullah bersedia tinggal di lingkungan mereka. Rasulullah mengetahui bahwa jika ia menentukan pilihan, keluarga yang tidak terpilih akan malu dan kecewa. Karena itu, beliau memasrahkan pilihan itu kepada Allah . Dengan halus, beliau berkata kepada semua kepala keluarga,

“Biarkanlah untaku ini berjalan karena ia diperintah oleh Allah dan akan berhenti ditempat yang Allah kehendaki.”

Kaum Muslimin mengikuti Al Qushwa yang berjalan perlahan-lahan. Di suatu tempat milik dua orang anak yatim, unta Rasulullah itu berhenti dan merebahkan perutnya ke pasir. Rasulullah mengajak Al Qushwa berjalan lagi. Namun, tidak lama kemudian, ia kembali ke tempat semula dan merebahkan perutnya lagi ke pasir.

“Inilah tempat kediamanku, in syaa Allah,” demikian sabda Rasulullah . Kemudian, beliau berdoa empat kali,

“Ya Allah, semoga Engkau menempatkan aku di tempat kediaman yang diberkahi dan Engkaulah sebaik-baik yang memberi tempat kediaman.”

Rasulullah membeli tanah dari kedua anak yatim tersebut.

Rasulullah turun dan bertanya,

“Di mana rumah saudaraku yang paling dekat dari sini?”

Dengan penuh gembira,

“Abu Ayyub segera menjawab, “Saya, ya Rasulullah! Itu rumah saya!”

Rasulullah tersenyum dan berkata,

“Baiklah Abu Ayyub, jika Anda berkenan, aku akan tinggal di rumah Anda untuk sementara waktu. Silahkan sediakan tempat untukku.”

Abu Ayyub tergopoh-gopoh memasuki rumahnya karena begitu gembira. Disiapkannya tempat untuk Rasulullah serapi mungkin. Kemudian, ia kembali menghadap Rasulullah dan berkata,

“Ya Rasulullah, sungguh saya sudah menyediakan tempat beristirahat bagi Tuan. Dengan berkah Allah, silahkan berdiri dan masuk ke dalam.”

Gentong Pecah

Rasulullah tinggal di rumah Abu Ayyub. Abu Ayyub ingin Rasulullah tinggal di lantai atas, tetapi Rasul menolak. Suatu ketika gentong Abu Ayyub pecah dan airnya tumpah. Abu Ayyub dan istrinya segera menggunakan selimut satu-satunya untuk menyerap air agar tidak menetes ke tempat tinggal Rasulullah . Setelah itu, Abu Ayyub mendesak Rasulullah agar tinggal di atas. Akhirnya Rasulullah pun bersedia tinggal di atas.

Mendirikan Masjid

Tujuh bulan lamanya, Rasulullah dan keluarganya tinggal di rumah Abu Ayyub. Selama itu, Abu Ayyub, Sa’ad bin Ubadah, As’ad bin Zurarah, dan yang lainya mengirim makanan untuk keluarga Rasulullah secukup-cukupnya. Setiap pagi dan petang, Ummu Ayyub memasak makanan dan tidak mereka makan sebelum terlebih dahulu mereka sajikan kepada Rasulullah dan keluarganya. Demikianlah budi Abu Ayyub dan keluarganya kepada Rasulullah .

Rasulullah tinggal di rumah Abu Ayyub sampai beliau mendirikan masjid dan rumah sendiri. Ketika akan mendirikan masjid, Rasulullah memgumpulkan Bani Najjar yang menjadi pemilik tanah ditempat itu.

“Wahai Bani Najjar,” demikian sabda Rasulullah ,

“hendaklah kalian tawarkan harga kebun-kebun ini kepadaku karena aku akan membelinya.”

“Ya Rasulullah, kami tidak akan menghargai kebun-kebun itu karena mengharap ridha Allah saja.”

Namun, Rasulullah tetap meminta mereka memberikan harga walaupun rendah. Akhirnya, Abu Bakar membayar harganya sebesar sepuluh dinar.

Setelah itu, bersama para sahabat, Rasulullah membenahi tanah itu, membersihkan pohon, dan membongkar serta memindahkan kuburan yang sudah rusak. Setelah itu barulah mendirikan masjid.

Rasulullah meletakkan batu pertama, lalu beliau meminta Abu Bakar meletakkan batu selanjutnya, kemudian beliau menyuruh Umar bin Khattab, setelah itu Utsman bin Affan, dan terakhir Ali bin Abu Thalib. Beliau bersabda,

“Mereka itulah khalifah-khalifah setelah aku.”

Setelah itu, semua orang bekerja keras dengan gembira dan penuh semangat. Sambil bekerja, Rasulullah bersyair,

“Ya Allah sesungguhnya pahala itu pahala akhirat,

maka kasihilah sahabat-sahabat Anshar dan Muhajirin.”

 

Para sahabat menjawab syair Rasulullah ,

 

“Jika kami duduk termenung, padahal Nabi bekerja,

yang demikian itu sungguh perbuatan yang tidak pantas.”

 

Batu diangkat, diletakkan, disusun, dan disisipkan sampai akhirnya masjid pun selesai. Pagarnya dari batu dan tanah, tiangnya dari batang-batang kurma, atapnya pelepah kurma. Kiblatnya menghadap ke Baitul Maqdis. Ketika itu, Ka’bah belum menjadi kiblat.

Di sisi masjid, didirikan dua buah kamar untuk tempat tinggal Rasulullah dan keluarganya. Sungguh, sebuah masjid sederhana yang penuh berkah.

Warna Masjid

Umar bin Khattab pernah berkata tentang bagaimana sebuah masjid dibangun. Kata beliau,

“Lindungilah orang-orang dari tampias hujan. Janganlah kalian mewarnai (dinding masjid) dengan warna merah atau kuning sehingga dapat menimbulkan fitnah.”

 


اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ مُحَمد

Nama Yatsrib Menjadi Madinah

Yatsrib berasal dari nama Yatsrib bin Mahlail.

Ia adalah keturunan raja-raja Amaliqah yang dahulu pernah berkuasa di kota itu.

Setelah Rasulullah hijrah, beliau mengganti nama Yatsrib menjadi Madinah.

Cuaca di Kota Madinah sangat kering.

Pada musim dingin suhunya sangat rendah dan pada musim panas suhunya jauh lebih panas dari pada Mekah.

Banyak sahabat Muhajirin yang tidak kuat dengan cuaca tersebut dan jatuh sakit.

Mereka dilanda demam tinggi yang melemahkan tubuh.

Abu Bakar, Bilal, dan Amir bin Fuhairah termasuk yang jatuh sakit.

Saat sakit, Abu Bakar sering berkata,

"... mati itu lebih dekat dari pada tali sepatu kita."

Sementara itu, Bilal tidak suka berkata apa-apa jika sedang sakit.

Namun, ketika sakitnya hilang, ia sering menangis karena merindukan Mekah sambil berkata,

"Apakah aku dapat berjalan malam hari di lembah yang di sekelilingku ada pohon-pohon idzkir dan jalil (nama pohon yang banyak terdapat di Mekah).

Dan apakah pada suatu hari aku dapat sampai lagi ke tempat air Majinnah dan apakah dapat terlihat lagi olehku Gunung Syamah dan Gunung Thafil (dua buah gunung dekat Mekah)."

Akan halnya dengan Amir bin Fuhairah, jika menderita demam tinggi sering bersyair,

"Sungguh aku mendapati mati sebelum merasakannya ..."

Rasulullah amat prihatin dengan sakit beberapa orang sahabat akibat cuaca panas tersebut.

Beliau juga mendengar keluhan-keluhan mereka.

Karena itu, Rasulullah pun berdoa kepada Allah,

"Ya Allah, berikanlah kami rasa cinta pada Kota Madinah sebesar rasa cinta kami pada Mekah, atau bahkan lebih !

Ya Allah, berilah berkah pada pekerjaan kami untuk mencari nafkah, sehatkanlah Kota Madinah ini untuk kami, dan pindahkanlah panasnya ke tempat lain yang Engkau kehendaki."

Allah mengabulkan doa Rasulullah itu dan memindahkan panas Kota Madinah ke Dusun Juhfah yang letaknya 82 mil dari Madinah.

Selain berdoa dan mengatasi masalah cuaca, Rasulullah pun melakukan hal lain yang sangat indah agar kaum Muhajirin yang berasal dari Mekah tumbuh rasa cintanya pada Madinah.

Tabarruk

Tabarruk adalah mengaharapkan berkah.

Suatu ketika, saat Rasulullah tidur, datanglah Ummu Sulaim.

Melihat keringat Rasulullah yang sangat harum menetes, Ummu Sulaim menadahnya.

Tidak lama kemudian, Rasulullah bangun dan bertanya,

"Apa yang sedang kamu lakukan, wahai Ummu Sulaim ?"

Ummu Sulaim menjawab,

"Kami mengharap berkahnya untuk anak-anak kecil kami,"

Rasulullah kemudian berkata,

"Engkau benar."

Saling Bersaudara

Suatu hari, Rasulullah mengumpulkan para sahabat Muhajirin dan Anshar.

Di hadapan mereka, beliau bersabda,

"Hendaklah kalian bersaudara dalam agama Allah dua orang - dua orang."

Para sahabat saling pandang.

Beberapa di antara mereka tersenyum.

Kemudian, Rasulullah bersabda,

"Hamzah bin Abdul Muthalib, singa Allah dan singa Rasul-Nya, bersaudara dengan Zaid bin Haritsah, putra angkat Rasulullah."

Kemudian Rasulullah menyebut nama-nama sahabat lain yang saling dipersaudarakan.

Seorang Muhajirin dipersaudarakan dengan seorang dari Anshar.

Tercatat dalam sejarah, ada seratus orang yang saling dipersaudarakan.

Lima puluh dari Anshar dan lima puluh dari Muhajirin.

Tujuan Rasulullah mempersaudarakan para sahabatnya adalah untuk menghilangkan rasa asing dalam diri sahabat Muhajirin di Kota Madinah.

Selama itu, persaudaraan ini ditujukan untuk menunjukkan bahwa semua orang Islam bersaudara.

Selain itu, juga agar setiap Muslim menjadi saling menolong yang kuat menolong yang lemah, yang mampu menolong yang kekurangan.

Buah persaudaraan ini akan dirasakan terus selama tahun-tahun sulit yang kelak ditempuh Rasulullah dan para sahabatnya di Madinah.

Ternyata, kalangan Anshar memperlihatkan sikap ramah yang luar biasa kepada saudara-saudara Muhajirin mereka.

Sudah sejak semula golongan Anshar menyambut gembira kaum Muhajirin.

Mereka begitu mengerti bahwa kaum Muhajirin meninggalkan segala yang mereka miliki, termasuk harta benda dan seluruh kekayaan di Mekah.

Sebagian besar dari mereka memasuki Madinah dengan perut lapar tanpa ada lagi yang dapat dimakan.

Apalagi mereka memang bukan orang berada dan berkecukupan.

Tentu saja sebagai kaum yang berbudi, kaum Muhajirin tidak begitu saja terlena dengan bantuan saudara-saudara Anshar mereka.

Kaum Muhajirin berusaha melakukan banyak pekerjaan agar mereka bisa kembali mandiri secepatnya.

Persaudaraan Sejati

Aqidah Islamiyah adalah dasar persaudaraan sejati.

Tidak mungkin dua orang yang berlainan agama bisa bersaudara seerat dua orang yang sama agamanya.

Rasulullah menghimpun hati para sahabatnya begitu dekat, sehingga tidak ada perbedaan di antara mereka kecuali ketakwaan dan amal shalih.

 


اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ مُحَمد

Bertani dan Berdagang

Pada awal kehidupan mereka di Madinah, kaum Muhajirin benar-benar mengalami masa yang sulit.

Sampai suatu hari, pernah paman Rasulullah, Hamzah bin Abdul Muthalib, datang kepada beliau dengan perut lapar sambil bertanya kalau-kalau Rasulullah punya sesuatu untuk dimakan.

Berdagang adalah salah satu pekerjaan yang banyak dikuasai kaum Muhajirin.

Abdurrahman bi Auf yang sudah dipersaudarakan Rasulullah dengan Sa'ad bin Rabi pernah ditawari Sa'ad separuh hartanya.

Namun, Abdurrahman menolak pemberian itu.

Ia hanya minta ditinjukkan jalan ke pasar.

Di sana, mulailah Abdurrahman berdagang mentega dan keju.

Dalam waktu tidak terlalu lama, berkat kepandaiannya berdagang, Abdurrahman bin Auf berhasil meraih kekayaannya kembali.

Dapat pula ia menikahi dan memberikan mas kawin kepada seorang Muslimah dari Madinah.

Sesudah itu, Abdurrahman bin Auf pun memiliki kafilah-kafilah yang pulang dan pergi membawa barang perdagangan.

Selain Abdurrahman, banyak pula kaum Muhajirin yang melakukan pekerjaan serupa.

Begitu pandainya penduduk Mekah berdagang sampai orang mengatakan bahwa dengan perdagangan, orang Mekah dapat mengubah pasir menjadi emas.

Sementara itu, kaum Muhajirin yang lain, seperti Abu Dzar, Umar, dan Ali bin Abu Thalib memilih pekerjaan sebagai petani.

Keluarga-keluarga mereka terjun menggarap tanah milik orang-orang Anshar bersama pemiliknya.

Selain mereka, ada pula kaum Muhajirin yang tetap mengalami kesulitan hidup.

Sungguh pun begitu, mereka tidak mau menjadi beban orang lain.

Mereka membanting tulang melakukan pekerjaan apa pun yang halal.

Ada lagi segolongan orang Arab yang datang ke Madinah dan menyatakan masuk Islam.

Namun, keadaan mereka amat miskin dan serba kekurangan sampai ada yang tidak mempunyai tempat tinggal.

Rasulullah menyediakan tempat tinggal untuk mereka di selasar masjid yang di sebut shuffah.

Mereka yang tinggal di tempat itu di sebut ahli Shuffah.

Belanja mereka diberikan oleh kaum Muslimin yang berkecukupan, baik dari kaum Muhajirin maupun dari kaum Anshar.

Di Madinah kaum Muslimin sudah mengerjakan shalat lima waktu.

Namun, dengan jumlah yang semakin banyak, sulitlah semua orang tahu bahwa waktu shalat telah tiba.

Riwayat Adzan

"Kita gunakan saja bendera, ya Rasulullah," usul seorang sahabat.

"Bendera tidak membangunkan orang tidur, gunakan saja terompet," usul yang lain.

"Terompet mungkin terlalu keras, bagaimana dengan lonceng ?" tambah sesorang.

"Mungkin tidak perlu semua itu, cukuplah menyuruh seseorang berseru, 'Ash Shalah !" usul sahabat yang lain.

Rasulullah pun menyetujui usul terakhir ini.

Lalu beliau bersabda, "Ya Bilal, bangunlah dan panggillah orang dengan 'Ash Shalah !"

Maka, apabila waktu shalat tiba, Bilal pun berseru-seru,

"Ash shalatu jami'ah !

Shalatlah berjamaah !

Shalatlah berjamaah !"

Sampai suatu malam, Abdullah bin Zaid yang berada dalam keadaan setengah tertidur melihat seorang laki-laki membawa genta.

_Abdullah ingin membelinya untuk memanggil shalat.

Orang itu berkata,_

"Akan kutunjukkan yang lebih baik daripada itu.

Berserulah Allahu Akbar !

Allahu Akbar !

Asyhadu allaa ilaaha illallah !

Asyhadu allaa ilaaha illallah !

Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah !

Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah !


Hayya 'alasshalah !

Hayya 'alasshalah !

Hayya 'alal falah !

Hayya 'alal falah !

Allahu Akbar !

Allahu Akbar !

Laa ilaaha illallah !"

 

Kemudian, orang tersebut berdiri ke tempat yang agak jauh dan mengajarkan bacaan iqamat.

Keesokan harinya, Abdullah bin Zaid mengabarkan mimpinya kepada Rasulullah.

Dengan wajah berseri, Rasulullah bersabda,

"Itu mimpi yang benar, Insya Allah.

Pergilah engkau menemui Bilal karena Bilal itu suaranya lebih tinggi dan lebih panjang.

Ajarkanlah Bilal segala apa yang diucapkan orang dalam mimpimu itu.

Hendaklah Bilal memanggil orang shalat dengan cara demikian itu !"

Bilal pun kemudian mengumandangkan adzan dan iqamat seperti yang diajarkan Abdullah bin Zaid kepadanya.

Mendengar Bilal, Umar bin Khattab datang tergopoh-gopoh menemui Rasulullah sambil berkata,

"Ya Rasulullah !

Demi Zat yang telah mengutus engkau dengan benar, sungguh semalam saya telah bermimpi bertemu seseorang dan berseru sebagaimana yang diucapkan Bilal."

Rasulullah pun bersabda,

"Segala puji bagi Allah, demikian itulah yang lebih tetap."

Seorang Laki-Laki Penduduk Syurga

Semakin lama, Bilal semakin dekat di hati Rasulullah, yang kemudian menyatakan Bilal sebagai seorang laki-laki penduduk surga.

Akan tetapi, sikap Bilal tidak berubah.

Ia tetap seorang yang mulia, besar hati, dan selalu memandang dirinya tidak lebih dari seorang Habasyah yang pernah menjadi budak belian.

Perjanjian dengan Kaum Yahudi

Sejak dari dulu Madinah bukan hanya dihuni oleh orang-orang Arab saja, melainkan juga kaum Yahudi.

Ada tiga keluarga besar Yahudi yang menetap di Madinah.

Bani Quraizhah, Bani Nadhir, dan Bani Qainuqa.

Orang-orang Arab yang tinggal di Madinah dari suku Aus dan suku Khazraj pernah saling bermusuhan selama puluhan tahun.

Setiap suku dipengaruhi oleh orang-orang Yahudi.

Namun, ketika Islam datang mempersaudarakan mereka, lenyaplah rasa permusuhan itu untuk selamanya.

Sejak saat itu, kaum Yahudi kehilangan pengaruh mereka atas orang Arab di Madinah.

Semakin hari, semakin gemilang dan majulah kaum Muslimin.

Hal itu tidak diterima dengan rela oleh kaum Yahudi.

Mereka pun mendirikan persatuan sendiri untuk menghalangi kemajuan Islam.

Melihat gelagat tidak baik ini, Rasulullah pun mengirimkan surat perjanjian kepada orang Yahudi.

Isinya kurang lebih sebagai berikut :

1. Janganlah kaum Yahudi dan Muslimin saling mendengki.

2. Janganlah kaum Yahudi dan Muslimin saling membenci.

3. Hendaklah kaum Yahudi dan Muslimin hidup bersama satu bangsa.

4. Hendaklah kaum Yahudi dan Muslimin mengerjakan ajarannya masing-masing dan tidak saling mengganggu.

5. Jika kaum Yahudi di serang musuh dari luar, Muslimin wajib membantunya.

6. Jika kaum Muslimin yang diserang, Yahudi wajib datang membantu.

7. Jika Kota Madinah diserang dari luar, kaum Yahudi dan Muslimin harus mempertahankannya bersama-sama.

 

Pada bagian akhir perjanjian disepakati bahwa apabila timbul perselisihan antara kedua belah pihak, Rasulullah akan menjadi hakimnya.

Demikian dalam perjanjian ini tercantum kebebasan beragama, keselamatan harta benda, dan kebebasan mengutarakan pendapat.

Kota Madinah dan sekitarnya menjadi tempat yang terhormat bagi seluruh penduduk karena penghuninya saling menghormati dan saling membela.

Perjanjian ini menunjukkan bahwa Rasulullah adalah pemimpin yang sangat cerdas.

Perjanjian ini belum pernah dilakukan oleh rasul-rasul terdahulu.

Suka Menipu dan Berkhianat

Perjanjian antara kaum Muslimin dan Yahudi ini kemudian dirusak oleh tabiat kaum Yahudi yang suka menipu dan berkhianat.

Makanya kaum Yahudi tidak senang dengan isi perjanjian yang telah disepakati tersebut, lalu mereka melanggarnya dengan berbagai penipuan dan pengkhianatan.

 


اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ مُحَمد

Menikah dengan Aisyah

Suasana damai dan tentram menyelimuti Kota Madinah.

Pada saat itulah Rasulullah yang sudah menikahi Aisyah binti Abu Bakar di Mekah, merayakan pernikahan beliau tersebut.

Ketika itu, Aisyah sudah menjelang remaja.

Beliau adalah seorang gadis yang lemah lembut dengan air muka yang manis dan sangat disukai banyak orang karena pandai bergaul.

Pernikahan ini membuat persahabatan Rasulullah dengan Abu Bakar Ash Shiddiq semakin erat.

Setelah menikah, Aisyah berpindah dari rumah ayahnya ke rumah Rasulullah di samping masjid.

Tidak terkira rasa bahagia Aisyah.

Ia melihat pada diri Rasulullah ada sesuatu yang lain dibandingkan kebanyakan orang.

"Rasulullah adalah suami sekaligus ayahku," demikian pikir Aisyah dalam hati.

"Beliau adalah suami yang penuh cinta kasih tapi juga tidak berkeberatan ikut bermain-main bersamaku.

Subhanallah, beliau benar-benar manusia yang luar biasa.

Aku benar-benar mencintainya setulus hatiku untuk selamanya, dari dunia sampai akhirat kelak."

Setelah menikah dengan Aisyah yang cerdas dan periang, beban pikiran Rasulullah terkurangi.

Mengurus umat satu kota penuh memerlukan konsentrasi yang amat tinggi hingga menyebabkan rasa lelah yang luar biasa.

Namun, jika beliau pulang ke rumah dan bertemu Aisyah, segala lelah dan beban berat terasa hilang.

Canda, senyum, dan bakti Aisyah menumbuhkan rasa riang dan semangat baru dalam hati Rasulullah.

Tidak terkira besarnya kasih sayang Rasulullah kepada Aisyah.

Suasana hati Rasulullah yang tenteram mengimbas luas kepada penduduk Madinah.

Mereka merasakan kehidupan bersama Rasulullah jauh lebih baik daripada kehidupan mereka dahulu.

Mungkin saat ini sebagian orang justru dalam keadaan lebih miskin dari dahulu.

Akan tetapi, ketenangan  dan kebahagiaan hidup bersama Islam jauh lebih mahal daripada apa pun, tidak akan terbeli oleh seberapa besar pun harta yang dapat dikumpulkan.

Maka dari itu, kaum Muslimin pun melaksanakan tugas-tugas agama dengan penuh semangat.

Mereka mulai menunaikan zakat dan mengerjakan shaum.

Sedikit demi sedikit, ajaran Islam mulai menemukan kekuatannya.

Ummu Abdillah

Untuk menghibur Aisyah dari kesedihan karena tidak memiliki putra dan agar istri tercintanya itu merasa diperhatikan dan disayang, Rasulullah mengizinkan Aisyah mengangkat putra saudarinya, Asma binti Abu Bakar.

Keponakan Aisyah itu bernama Abdillah sehingga Aisyah dikenal orang dengan panggilan Ummu Abdillah.

Akhlaq dan Budi Pekerti Rasulullah

Rasulullah mengajarkan bahwa kehidupan dalam Islam itu dilandasi oleh rasa persaudaraan.

Beliau bahkan mengatakan bahwa tidak sempurna iman seseorang sebelum ia mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya sendiri.

_Seseorang bertanya kepada Rasulullah,

"Perbuatan apakah yang baik dalam Islam ?"_

Beliau menjawab,

"Sudi memberi makan dan memberi salam kepada orang yang engkau kenal dan yang tidak engkau kenal."

Rasulullah menjadikan dirinya teladan tertinggi bagi setiap Muslim.

Beliau amat rendah hati dan tidak mau diagung-agungkan walaupun beliau adalah manusia terbaik.

Beliau bersabda,

"Jangan memujaku seperti orang-orang Nasrani yang memuja anak Maryam. Aku adalah hamba Allah.

Sebut saja aku hamba Allah dan utusan-Nya."

Pernah suatu ketika, beliau mengunjungi para sahabat yang sedang berkumpul.

Serempak mereka berdiri menyambutnya seperti layaknya orang lain menyambut orang yang mereka hormati.

Namun, Rasulullah tidak menyukai hal itu. Beliau bersabda,

"Jangan kamu berdiri seperti orang-orang asing yang mau saling diagungkan."

Setiap kali mengunjungi para sahabatnya, Rasulullah tidak pernah memilih-milih tempat duduk.

Beliau duduk begitu saja di mana pun ada tempat luang.

Ia bergurau dengan para sahabat, bergaul erat dengan mereka, diajaknya mereka berbincang-bincang.

Jika para sahabat kebetulan disertai anak-anak mereka, Rasulullah mengajak anak-anak itu bermain-main.

Kemudian, didudukkannya anak-anak itu dipangkuan beliau.

Rasulullah tidak pernah menolak undangan.

Beliau selalu datang apabila diundang, baik oleh orang merdeka, budak sahaya, maupun orang miskin.

Dikunjunginya orang yang sakit walaupun letaknya jauh di ujung kota.

Orang yang datang minta maaf selalu beliau maafkan.

Beliau selalu yang memulai memberi salam kepada orang yang dijumpai.

Beliau pasti selalu yang lebih dulu mengulurkan tangan menjabat sahabat-sahabatnya.

Tidak akan pernah lagi kita menjumpai seorang pemimpin yang begitu lembut dan begitu menyayangi rakyatnya, pemimpin yang hidup sederhana seperti kebanyakan rakyatnya, pemimpin yang mampu memberi nasihat dan teladan, pemimpin yang selalu siap memberi dan mendapat tempat di lubuk hati terdalam setiap orang yang mengenalnya.

 

لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

 

"Sungguh telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaan yang kamu alami, (dia) sangat menginginkan (keimanan dan keislaman) bagimu, penyantun dan penyayang terhadap orang-orang yang beriman." Surah At-Taubah (9:128)

 

Shalat Rasulullah

Shalat Rasulullah adalah shalat yang paling indah dibanding semua sahabatnya.

Beliau melakukan shalat seakan sedang berjumpa dengan orang yang paling ia sayangi sehingga sulit rasanya untuk berpisah.

Shalat beliau seakan-akan merupakan suatu pertemuan terakhir dengan orang yang dicintainya.

Shalat beliau begitu khusyuk, seolah-olah beliau sedang bercakap-cakap dan memandang Allah.

 


اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّد

Rasa Sayang Rasulullah

Rasulullah adalah orang yang paling penyayang. Apabila beliau tahu ada orang yang sedang menunggu, padahal beliau sedang shalat, beliau percepat shalat itu dan beliau tanya apa keperluannya. Sesudah beliau memenuhi keperluan orang tadi, beliau lanjutkan kembali ibadahnya.

Dalam rumah tangga, Rasulullah ikut memikul beban keluarga. Beliau ikut mencari pakaian, menambal baju yang berlubang, serta memerah susu kambing. Beliau juga membetulkan sendiri sepatunya yang rusak. Beliau penuhi sendiri semua keperluan beliau, mulai mengambil minum sampai mengurus unta.

Beliau duduk dan makan bersama dengan para pembantu dan mengurus keperluan orang yang lemah, menderita, dan miskin. Apalagi melihat ada orang yang membutuhkan sesuatu, beliau dan keluarganya mengalah, sekali pun beliau saat itu juga dalam kekurangan. Tidak ada sesuatu yang disimpan untuk esok, bahkan kelak ketika beliau wafat. Baju besi beliau sedang tergadai di tangan seorang Yahudi karena beliau memerlukan uang untuk belanja keluarga.

Beliau sangat baik hati, mudah tersenyum, dan selalu memenuhi janji. Suatu ketika ada delegasi dari Raja Najasyi dari Habasyah datang berkunjung. Beliau sendiri yang melayani mereka. Para sahabat datang menegur, “Wahai Rasulullah, sudah cukuplah, bukankah ada orang lain untuk mengerjakannya?”

“Mereka sangat menghormati sahabat-sahabat kita ketika berhijrah ke tempat mereka,” jawab Rasulullah . “Saya ingin membalas sendiri kebaikan mereka.”

Begitu setianya beliau sehingga selalu ada yang menyebut nama Khadijah, kenangan indah muncul bagai pelangi menghiasi hati beliau. Suatu ketika, ada seorang wanita datang. Beliau menyambutnya begitu gembira dan beliau tanyai wanita itu baik-baik. Ketika wanita itu sudah pergi, beliau berkata, “Ketika masih ada Khadijah, ia suka mengunjungi kami. Mengingat hubungan baik masa lampau adalah termasuk iman.”

Begitu halus perasaan Rasulullah , begitu lembut hatinya, sampai beliau biarkan cucunya bermain-main dengannya ketika beliau sedang shalat. Bahkan beliau shalat dengan membawa Umamah, cucu beliau dari Zainab. Umamah beliau taruh di atas bahu. Saat beliau sujud, beliau letakkan Umamah, jika beliau berdiri, Umamah ditaruh lagi keatas bahunya.

Rasulullah Menyayangi Binatang

Kebaikan dan kasih sayang Rasulullah tidak terbatas kepada sesama manusia saja, tetapi juga kepada binatang. Suatu ketika, beliau pernah bangun dan membukakan pintu untuk seekor kucing yang sedang berlindung di tempat itu. Beliau juga pernah merawat seekor ayam jantan yang sedang sakit-sakitan.

Rasulullah juga mengelus-elus seekor kuda penuh rasa sayang dengan lengan baju beliau. Suatu ketika, dilihatnya Aisyah menaiki seekor unta. Aisyah merasa sukar mengendalikan unta yang agak bandel itu sehingga Aisyah menarik-narik tali kekang dengan tidak sabar. Kemudian, Rasulullah mendekat dan menegur lembut,

“Hendaknya engkau berlaku lemah lembut, ya Aisyah.”

Meskipun demikian, kasih sayang, kelembutan, dan rasa persaudaraan yang Rasulullah ajarkan bukan berarti menunjukkan kelemahan. Rasa kasih sayang dan kelembutan selalu harus bersama sikap yang adil. Rasulullah mengajarkan bahwa tanpa keadilan, persaudaraan sejati tidak mungkin ada.

 

Sabda beliau,

“Barang siapa menyerang kamu, seranglah dengan seimbang, seperti mereka menyerang kamu.”

 

Pada saat lain, Rasulullah juga berkata,

“Hukum qishas (membalas perbuatan dengan seimbang, misalnya pembunuh yang terbukti bersalah harus dibalas dibunuh pula) berarti kelangsungan hidup bagi kamu, hai orang-orang yang mengerti.”

Jadi, kasih sayang yang diajarkan Rasulullah juga mengandung unsur kekuatan. Oleh sebab itu, seorang Muslim bisa bersikap lemah lembut sekaligus tegas jika memang diperlukan. Jika seseorang tidak dapat bersikap tegas, ia akan menjadi bulan-bulanan orang-orang berhati jahat.

Rasulullah mengajarkan bahwa jiwa seorang Muslim harus kuat, tidak mengenal kata menyerah kecuali kepada Allah . Seorang Muslim yang taat kepada Allah tidak merasa lemah apabila menghadapi rintangan.

Menangkap Burung untuk Permainan

Dalam hadist riwayat Nasa’i dan Ibnu Hibban, Rasulullah ﷺ bersabda,

“Barang siapa menangkap seekor burung hanya untuk bermain-main, kelak pada hari kiamat, burung itu akan mengadu kepada Allah , “Wahai Tuhanku, orang itu telah membunuh aku untuk mainan belaka, tidak untuk mengambil manfaat dariku.”

Keseharian Rasulullah

Rasulullah mengajarkan kepada kita bahwa, tidak boleh ada rasa takut dalam hati seorang Muslim, kecuali jika ia melakukan perbuatan maksiat dan dosa. Jiwa itu tidak akan menjadi kuat jika berada dalam kekuasaan orang lain. Karena itulah, Rasulullah mengajak para sahabatnya berhijrah ke Madinah.

Jiwa akan jadi lemah jika sudah dikuasai oleh hawa nafsu. Nafsu akan harta, kendaraan, pakaian, makanan, dan banyak lagi. Jika seseorang sudah mencintai harta dunia seperti itu, kekuatan rohaninya melemah dan tidak lagi mampu berjuang, beribadah, serta berbakti layaknya seorang Muslim sejati.

Rasulullah adalah contoh yang sangat ideal dalam mengendalikan hawa nafsu. Jiwa Rasulullah sudah begitu kuat sehingga tidak begitu peduli jika segala yang dimilikinya akan habis akibat beliau sangat suka memberi kepada orang lain. Sampai-sampai, ada orang yang berkata,

“Dalam memberi, Rasulullah seperti sudah tidak takut kekurangan.”

Rasulullah mengajarkan agar kitalah yang menguasai kehidupan dunia, bukan kehidupan dunia yang menguasai kita. Beliau tidak menganjurkan kita agar hidup miskin, tetapi hidup sederhana dan tidak berlebihan.

Alas tidur Rasulullah bukanlah kasur yang empuk, melainkan hanya terdiri atas kulit yang dilapisi serat. Tidak pernah beliau makan sampai kenyang. Beliau selalu menyudahi makannya sebelum kenyang. Tidak pernah Rasulullah makan roti dari tepung gandum dua hari berturut-turut. Sebagian besar makanan beliau adalah bubur.

Pada hari lain, Rasulullah makan kurma. Jarang sekali beliau dan keluarganya dapat makan roti sop (roti yang dibasahi kuah kaldu dan daging). Bahkan sering sekali beliau harus menahan lapar. Beliau pernah mengganjal perutnya dengan batu yang dikaitkan dengan ikat pinggangnya agar rasa laparnya tertahan.

Namun, bukan berarti Rasulullah berpantang makan makanan enak. Beliau dikenal suka sekali makan kaki kambing muda, labu, madu, dan manisan walupun amat jarang beliau dapatkan. Begitulah cara Rasulullah mengendalikan diri terhadap makanan. (Surya)

 

Bersambung

BACA JUGA :
Sirah Nabawiyah Bagian 15




Sirah Nabawiyah TERBARU


Silahkan Buat akun atau Login untuk Berkomentar dari web!

0 Comment