04 Agu 2020
    Follow Us:  



Kesehatan

Mengenal Tiga Jenis Pemeriksaan COVID-19 di Indonesia


Jenis Pemeriksaan COVID-19 di Indonesia

Tindakan pemeriksaan COVID-19 dilakukan untuk menentukan apakah seseorang terinfeksi atau tidak. Hasil pemeriksaan ini sangat penting karena merupakan data yang menjadi dasar bagi pengambilan kebijakan. Sementara itu, bagi individu yang menjalani pemeriksaan, proses ini tentunya sangat penting karena akan memberikan kepastian tentang kondisi yang sedang dialami.

Tiga Jenis Pemeriksaan COVID-19 dan Perbedaannya

Untuk mendeteksi keberadaan virus dalam tubuh seseorang, pasien harus menjalani pemeriksaan khusus yang dilakukan dengan cara berbeda-beda. Saat ini, Indonesia menggunakan tiga jenis tes untuk pemeriksaan penyakit infeksi COVID-19 yang kini tengah mewabah. Ketiga jenis tes ini memiliki cara dan tingkat akurasi yang berlainan.

Baca juga : Cegah Corona, Begini 4 Cara Menjaga Rumah Agar Tetap Sehat

  1. Rapid Test, Ketika terinfeksi virus, tubuh akan membentuk antibodi immunoglobulin (IgM dan IgG) yang dapat dideteksi dalam darah. Inilah prinsip yang digunakan dalam pemeriksaan COVID-19 menggunakan teknik rapid test. Rapid test dilakukan dengan mengambil sampel darah yang kemudian diperiksa dengan menggunakan kit khusus. Dalam waktu 15-20 menit, hasilnya sudah dapat diketahui.


    Rapid test hanya bersifat sebagai screening awal. Jika hasilnya negatif, tes harus dilakukan kembali 5–7 hari kemudian. Namun, jika hasilnya positif, pemeriksaan dilanjutkan dengan tes PCR yang lebih akurat.

    Rapid test bisa memberikan hasil false negative, yaitu hasilnya negatif, padahal sebenarnya positif. Hal ini terjadi jika pemeriksaan dilakukan kurang dari 7 hari setelah infeksi. Pada saat itu, tubuh belum membentuk antibodi sehingga tidak terdeteksi.
  2. Polymerase Chain Reaction (PCR),  Pemeriksaan dengan metode PCR dilakukan terhadap sampel lendir yang diambil dari hidung atau tenggorokan yang merupakan tempat virus menggandakan diri. Selain itu, tes PCR juga bisa menggunakan sampel cairan saluran pernapasan bawah atau feses.

    Pemeriksaan PCR didasarkan pada material genetika RNA dari virus SARS-Cov-2. Sampel harus diperiksa melalui dua tahap, yaitu ekstraksi dan amplifikasi sehingga membutuhkan waktu lama untuk mendapatkan hasilnya.

    Pengambilan sampel untuk tes PCR dilakukan melalui teknik swab atau dikenal dengan istilah swab test, yaitu pengambilan sampel menggunakan alat semacam cotton bud panjang yang dimasukkan ke ujung hidung atau area mulut. Sampel kemudian disimpan di dalam tabung tertutup dan dibawa ke laboratorium.

    Metode PCR ini merupakan tes diagnosis standar yang berlaku di seluruh dunia untuk menegakkan diagnosis infeksi COVID-19. Di Indonesia, tes PCR hanya dapat dilakukan di laboratorium rujukan. Jika hasilnya positif, pasien harus menjalani isolasi di rumah sakit atau isolasi mandiri di rumah jika tidak menunjukkan gejala.
  3. Tes Cepat Molekuler (TCM),  Metode TCM ini sebelumnya digunakan untuk mendiagnosis penyakit tuberkulosis (TB) melalui pemeriksaan molekuler. Sama seperti PCR, tes ini dilakukan terhadap sampel dahak melalui proses amplifikasi asam nukleat berbasis cartridge. Pada pemeriksaan COVID-19, identifikasi dilakukan terhadap RNA virus SARS-CoV-2 yang menggunakan cartridge khusus dan hasilnya akan keluar dalam waktu sekitar dua jam.

Kapan Anda Harus Melakukan Pemeriksaan?

Tidak semua orang yang merasakan gejala COVID-19 dianjurkan untuk melakukan tes karena fasilitas kesehatan dan tenaga medis sangat terbatas. Berdasarkan protokol dari Kemenkes RI, Anda dianjurkan melakukan pemeriksaan ke rumah sakit rujukan jika:

  • Mengalami gejala demam tinggi di atas 37,9° C disertai gejala sakit pernapasan, seperti batuk, sesak napas, pilek, dan sakit tenggorokan.
  • Pernah melakukan kontak dengan orang yang terkonfirmasi positif COVID-19, memiliki riwayat perjalanan, atau tinggal di daerah endemis di dalam maupun luar negeri dalam 14 hari terakhir.
Untuk melakukan pemeriksaan COVID-19, segera hubungi hotline yang disediakan. Jika memenuhi kriteria, petugas kesehatan akan menjemput dan membawa Anda ke rumah sakit rujukan terdekat. Namun, jika memiliki riwayat kontak atau tinggal/melakukan perjalanan ke tempat endemis tanpa ada gejala, lakukan isolasi mandiri selama 14 hari terhitung sejak kontak atau hari pertama bepergian.




Kesehatan TERBARU


Silahkan Buat akun atau Login untuk Berkomentar dari web!

0 Comment