13 Apr 2021
    Follow Us:  



Sirah Nabawiyah

Kisah Perjalanan Hidup Manusia Agung Rasulullah Muhammad SAW, Sirah Nabawiyah Bagian 32


Kisah Nabi Muhammad SAW

Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan.
Dan engkau melihat manusia berbondong-bondong masuk agama Allah.
Maka bertasbihlah dalam dengan Tuhanmu dan mohonlah ampunan kepada-Nya. Sungguh, Dia Maha Penerima tobat. Q.S An-Nasr 1-3

KISAH RASULULLAH

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ مُحَمد

Bagian 32

Rampasan Perang

Rampasan yang diperoleh kaum muslimin terdiri atas:

Enam ribu (6,000) orang tawanan,

dua puluh empat ribu (24,000) ekor unta,

lebih empat puluh ribu (40,000) ekor biri-biri dan

empat ribu (4,000) uqiyah emas.

Rasulullah memerintahkan agar rampasan perang ditempatkan di "Ja'ranah", dengan menunjuk Mas'ud bin Amru Ghaffari sebagai penjaganya, sampai selesai gerakan ghuzwah (invasinya) ke "Ta'if".

Setelah invasi ke Ta'if selesai, kemudian dilaksanakan pembagian rampasan perang, dibagikan sebagaimana dilakukan pada waktu-waktu sebelumnya.

HAJJAH WADA'

Haji Terakhir

Tugas dakwah Rasulullah sudah mendekati penghujung selesai, penyampaian risalah pun sudah dilaksanakan, penegakan sebuah syariat baru yang berasaskan pada konsep uluhiyah dan ketuhanan yang satu hanya kepada Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى dan tidak ada tuhan selain Allah berdasarkan risalah Muhammad telah menjadi kenyataan.

Rasulullah seakan-akan telah mendengar panggilan dari dalam hatinya yang memberitahu bahwa persinggahan Rasulullah di dunia sudah sampai pada waktu yang telah ditetapkan.

Hal ini nampak ketika Rasulullah mengutus Muaz bin Jabal ke negeri Yaman sebagai Gubernur di tahun kesepuluh (10) Hijriah.

Rasulullah bersabda kepada Muaz:

"Wahai Muaz, sebenarnya engkau mungkin tidak akan bertemu aku lagi setelah tahun ini dan semoga kau akan melalui masjidku dan kuburku".

Muaz menangis tersedu-sedu karena akan berpisah dengan Rasulullah .

Dengan izin Allah, Rasulullah berkesempatan melihat hasil kerja dakwahnya setelah mengalami berbagai kepahitan dan kesusahan selama dua puluh tahun lebih.

Di ujung bandar Mekah, Rasulullah berkumpul bersama dengan para perwakilan qabilah Arab, menyampaikan kepada mereka syariat-syariat dan hukum-hukum Islam. Rasulullah minta persaksian mereka, bahwa dia telah menyampaikan amanah dan tugas-tugasnya, menyampaikan risalah dan bertanggungjawab menasihati seluruh umat.

Pada hari itu Rasulullah mengdeklarasikan cita-citanya untuk menunaikan ibadah haji yang terakhir. Berduyun-duyun umatnya mengunjungi Madinah, mereka semua ingin menyertai dan mengikuti Rasulullah dalam ibadah hajinya.

Pada hari Sabtu empat hari terakhir bulan Zulkaedah, Rasulullah siap dengan kendaraannya, mempersiapkan dirinya, memakai minyak rambut dan menyikatnya, mengenakan pakaian dan syalnya serta menyandang senjatanya.

Setelah sholat dzuhur, Rasulullah   bergerak, sampai di Zul Hulaifah sebelum masuk waktu Ashar. Di sana Rasulullah menunaikan sholat sunat dua rakaat dan bermalam.

Keesokkan harinya setelah sholat Subuh, Rasulullah memberitahukan kepada semua sahabat yang hadir:

"Tadi Malam aku telah mendapat pemberitahuan dari Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى yang menyabdakan: Sholatlah kamu di lembah yang penuh berkat ini dan niatkanlah wahai Muhammad: Umrah dikerjakan bersama-sama Haji".

Sebelum Rasulullah menunaikan sholat dzuhur di hari itu, terlebih dahulu Rasulullah bersuci dan mengenakan pakaian ihram, kemudian Aisyah menyapukan minyak wangi dan kasturi pada diri Rasululah.

Aisyah menyapukan di badannya dan kepalanya hingga nampak berkilauan minyak kasturi di rambut dan di jenggotnya. Rasulullah membiarkan tanpa membasuhnya dan kemudian menunaikan sholat dzuhur dua rakaat.

Setelah selesai sholat, Rasulullah kemudian bertahlil di tempat sholatnya untuk memulai ibadah haji dan umrah, sebagai haji qiran.

Setelah itu barulah Rasulullah bergerak dengan menunggangi untanya yang bernama Quswa', di situ Rasulullah bertahlil lagi sedang untanya kemudian bergerak.

Rasulullah meneruskan perjalanan suci ini hingga hampir memasuki Mekah, maka Rasulullah bermalam di Tawa.

Keesokkan harinya Rasulullah memasuki Mekah setelah sholat Shubuh, di pagi hari Ahad tanggal empat hari terakhir bulan Dzulhijjah tahun kesepuluh (10) Hijriah.

Selama delapan malam Rasulullah menghabiskan waktu untuk perjalanannya yang sederhana itu dan apabila Rasulullah memasuki Masjid Haram, kemudian Rasulullah berthawaf mengelilingi Ka’bah dan melakukan Sa’i di antara Safa dan Marwah, tanpa merubah pakaian ihramnya, karena Rasulullah dalam mengerjakan haji kali ini secara qiran berserta dengan binatang sembelihannya.

Kemudian Rasulullah singgah di Hajjun tanpa mengulangi thowaf melainkan thowaf rukun haji.

Rasulullah menyuruh para sahabat yang tidak mempunyai binatang sembelihan agar menjadikan ihram mereka itu sebagai umrah, dengan berthawaf mengelilingi Ka’bah, dan bersa’i di antara Safa dan Marwah, kemudian mengganti pakaian ihram dengan pakaian biasa.

Tetapi para sahabat ragu-ragu untuk melakukan perintah Rasulullah itu.

Kemudian Rasulullah menegaskan: "Bila maju untuk berbuat sesuatu, aku tidak akan kembali atau menarik kembali qurbanku ini. Dan bila aku tidak mempunyai binatang qurban pasti aku mengganti pakaian ihramku ini. Ayo! Kamu yang tidak memiliki binatang sembelihan, pakaian ihram segera diganti ". Kemudian mereka mematuhi petunjuk Rasulullah.

Pada hari kedelapan Dzulhijjah yang dikenali juga sebagai hari Tarwiyah, Rasulullah bergerak menuju Mina. Di Mina Rasulullah telah menunaikan  Dzuhur, Ashar, Maghrib, Isya' dan Shubuh.

Rasulullah berhenti di Mina beberapa saat hingga matahari naik barulah Rasulullah berjalan menuju Arafah.

Shallu 'alan Nabi...


اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّد

Khotbah Rasulullah

Sampai di Arafah di kawasan Namirah, Rasulullah melihat sebuah kemah yang sudah didirikan untuk beliau. Rasulullah pun singgah sampai matahari terbenam di ufuk barat.

Rasulullah minta agar unta Quswa' dibawa ke tempatnya, dari situ Rasulullah pun bergerak menuju ke Batan Wadi. Di sana sudah banyak orang berkumpul kurang lebih seratus ribu empat puluh empat orang.

Rasulullah berdiri di depan mereka, kemudian menyampaikan khotbahnya:

"Wahai umatku sekalian, dengarlah kata-kataku ini, sebenarnya aku tidak tahu apakah aku masih bisa menemui kalian setelah tahun ini.

Sesungguhnya darahmu dan hartamu adalah haram seperti haramnya hari ini, bulan ini, dan tanah ini.

Ketahuilah bahwa semua urusan jahiliah sudah tertanam di bawah kakiku ini, darah-darah jahiliah telah tertanam. Darah jahiliah yang pertama kali aku hapuskan adalah darah Ibn Rabiah bin Harith, kejadiannya dia ini dibunuh, ketika sedang mengambil susuan dari ibu susuannya Bani Saad.

Riba jahiliah juga sudah dihapuskan, dan riba pertama yang aku hapuskan adalah riba Abbas bin Abdul Mutalib, bahkan semuanya telah dihapuskan sama sekali.

Bertaqwalah kamu kepada Allah swt demi untuk melaksanakan hak kaum wanita, karena kamu telah mengambil mereka sebagai isteri dalam bentuk amanah Allah , kamu halal jima' dengan mereka dengan menyebut nama Allah dan kaum wanita juga berkewajiban menjaga agar tidak ada seorang pun masuk ke kamarmu.

Sekiranya mereka berbuat demikian maka pukullah mereka dengan pukulan yang tidak parah, kepada mereka, kamu berkewajipan memberi rezeki dan pakaian dengan baik.

Sesungguhnya telah aku tinggalkan kepadamu agar kamu tidak sesat setelah ini, berpeganglah kamu dengannya, yaitu kitab Allah .

Wahai sekalian manusia, sesungguhnya tidak ada nabi setelah aku, dan tidak ada umat lain selain kamu, ingatlah agar kamu menyembah Tuhanmu, tunaikanlah fardu sholat lima waktu, berpuasalah kamu di bulan Ramadhan, tunaikan zakat hartamu dengan ikhlas, tunaikan haji ke baitullah, dan taatilah pemerintahmu niscaya kamu masuk ke dalam syurga Rabb-mu.

Besok kamu semua akan ditanya mengenai diriku, apa yang akan kamu katakan?"

Maka kata mereka semua:

"Kami menyaksikan bahwa engkau telah menyampaikan, menunaikan dan menasihati kami".

Dengan mengangkat jari telunjuknya ke arah langit kemudian berkata lagi:

"Ya Allah Ya Tuhanku, saksikanlah." (sebanyak tiga kali).

Adapun orang yang berteriak (sebagaiman pengeras suara) meneruskan ucapan Rasulullah kepada orang banyak di padang Arafah adalah Rabi'ah bin Umaiyah bin Khalaf.

Setelah selesai menyampaikan khotbah, turunlah firman Allah :

Al-Ma'idah (المائدة) / 5:3

 

حُرِّمَتۡ عَلَیۡکُمُ الۡمَیۡتَۃُ وَ الدَّمُ وَ لَحۡمُ الۡخِنۡزِیۡرِ وَ مَاۤ اُہِلَّ لِغَیۡرِ اللّٰہِ بِہٖ وَ الۡمُنۡخَنِقَۃُ وَ الۡمَوۡقُوۡذَۃُ وَ الۡمُتَرَدِّیَۃُ وَ النَّطِیۡحَۃُ وَ مَاۤ اَکَلَ السَّبُعُ اِلَّا مَا ذَکَّیۡتُمۡ ۟ وَ مَا ذُبِحَ عَلَی النُّصُبِ وَ اَنۡ تَسۡتَقۡسِمُوۡا بِالۡاَزۡلَامِ ؕ ذٰلِکُمۡ فِسۡقٌ ؕ اَلۡیَوۡمَیَئِسَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا مِنۡ دِیۡنِکُمۡ فَلَا تَخۡشَوۡہُمۡ وَ اخۡشَوۡنِ ؕ اَلۡیَوۡمَ اَکۡمَلۡتُ لَکُمۡ دِیۡنَکُمۡ وَ اَتۡمَمۡتُ عَلَیۡکُمۡ نِعۡمَتِیۡ وَ رَضِیۡتُ لَکُمُ الۡاِسۡلَامَ دِیۡنًا ؕ فَمَنِ اضۡطُرَّ فِیۡ مَخۡمَصَۃٍ غَیۡرَ مُتَجَانِفٍ لِّاِثۡمٍ ۙ فَاِنَّ اللّٰہَ غَفُوۡرٌ رَّحِیۡمٌ

 


"Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala. Dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah, (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah kefasikan. Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. Maka barang siapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."

Ketika Umar mendengar firman Allah itu dia kemudian menangis dan ketika ditanya, mengapa dia menangis?

Jawab dia: "Karena setelah kesempurnaan akan menyusul pula kekurangan".

Setelah khotbah Rasulullah itu Bilal pun melantunkan azan dan iqamah untuk sholat dzuhur. Kemudian dia iqamah pula untuk sholat Ashar tanpa melakukan sholat lain di antara kedua-duanya.

Sesudah itu Rasulullah   menaiki untanya dan bergerak hingga sampai ke suatu tempat perhentian dengan membiarkan perut untanya Quswa' menyentuh bongkahan batu di situ, sedang barisan pejalan-pejalan kaki berjalan tidak melebihi sejauh pandangan ke depan. Di situ Rasulullah menghadap ke arah qiblat,

Rasulullah kemudian berdiri sampai matahari terbenam di ufuk langit sebelah barat dan cahaya kuning berangsur-angsur hilang. Usamah pun mengendalikan unta Rasulullah sampai ke Muzdalifah, di sana Rasulullah menunaikan sholat Maghrib dan sholat Isya' dengan satu azan dan dua iqamah tanpa membaca apa-apa, tasbih sekali pun di antara kedua sholat itu.

Rasulullah beristirahat, dan tidur hingga Subuh. Rasulullah pun menunaikan sholat Subuh, kemudian Rasulullah menaiki unta Quswa' dan berjalan sampai ke kawasan Haram (masyh'ar Haram), muka Rasulullah menghadap ke arah kiblat sambil berdoa, bertakbir, bertahlil dan bertahmid. Rasulullah berdiri di situ sampai waktu pagi.

Kemudian Rasulullah bergerak lagi dari Muzdalifah ke Mina sebelum matahari naik. Di sini Fadhil bin Abbas mengikuti dari belakang unta Rasulullah sampai ke Batan Mahsar, dengan melalui jalan tengah yang menuju ke Jumrah Kubra.

Sampai di sana ada sebuah pohon yang dikenal dengan nama Jumrah Aqabah. Kemudian Rasulullah melontar tujuh batu sambil bertakbir di setiap lontarannya dari Batan Wadi.

Setelah itu Rasulullah menuju ke tempat pemotongan hewan. Sebanyak enam puluh tiga (63) ekor unta Rasulullah berkurban, kemudian diserahkannya kepada Ali bin Abi Talib tiga puluh tujuh (37) ekor unta untuk dipotong dan membagikannya, jadi jumlah semuanya ada sebanyak seratus ekor unta.

Setelah selesai penyembelihan Rasulullah menyuruh agar mengambil sebagian daging dari setiap sembelihan dan dimasaknya. Setelah masak Rasulullah dan Ali pun memakan sedikit dari masakan daging itu dan mencicipi kuahnya.

Kemudian Rasululah mengendarai untanya dan bergerak sampai ke Ka’bah, di sana

Rasulullah sholat dzuhur, setelah itu mengunjungi orang-orang Bani Abdul Muttalib yang menjaga air zam-zam dan memberi minum kepada para pengunjung.

Melihat situasi itu Rasulullah berkata:

"Ayo! Rebut Bani Abdul Muttalib, kalau tidak mengganggu orang banyak, pasti aku ikut serta merebutnya bersama-sama dengan kamu, hadirin pun mengulurkan air kepada Rasulullah dan Rasulullah pun meminumnya dengan senang hati.


اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ مُحَمد

Khotbah di Hari Nahr

Di hari penyembelihan yaitu hari kesepuluh Dzulhijjah, setelah waktu Dhuha Rasulullah menyampaikan khotbah dari atas kendaraannya, "Syahba" (jelaskan) sedang Ali bin Abi Talib menyuarakan dengan lantang kepada orang banyak.

Sidang hadirin ada yang duduk dan ada yang berdiri.

Di dalam khutbahnya Rasulullah mengulangi beberapa hal yang telah disampaikan kemarin.

Syaikhan (dua orang Syeikh Hadits: Bukhari dan Muslim) telah meriwayatkan dari Abi Bakarah dengan katanya:

Bahwa Rasulullah telah menyampaikan kepada kami di hari Nahr (penyembelihan) dengan sabdanya:

"Sesungguhnya peredaran waktu sudah berjalan pada sumbunya yang asal dan menepati putaran sesuai pada hari penciptaan langit dan bumi.  Setahun dua belas bulan, empat darinya adalah bulan haram, tiga bulan berturut-turut yaitu Zulkaedah, Dzulhijjah dan Muharam. sedang sebulan lagi ialah bulan Rajab, yang ada di antara Jamadilakhir dan Syaaban "

Sabdanyanya lagi: Ini bulan apa ?

Jawab hadirin: "Allah dan Rasulnya lebih mengetahui," Rasulullah pun diam sesaat, sampai kami mengira Rasulullah akan menamakannya dengan satu nama lain.

"Tidaklah, ini bulan Dzulhijjah?"

Jawab kami: "Benar."

Tanya Rasulullah lagi: "Negeri ini, negeri apa?"

Jawab kami: "Allah dan Rasulnya lebih mengetahui."

Sabda Rasulullah: "Tidakkah, negeri ini dikenali sebagai "Baldah" ?

Kata kami semua: "Benar.

Tanya Rasulullah lagi. "Kita ini di hari apa?"

Kata kami; "Allah dan Rasulnya lebih mengetahui."

Rasulullah berdiam sejenak hingga kami menyangka Rasulullah akan menukar dengan nama baru.

Kemudian sabda Rasulullah: "Tidakkah hari ini hari Nahr hari sembelihan qurban?."

Jawab kami: Benar"

Selanjutnya Rasulullah bersabda:

"Sesungguhnya darahmu, hartamu dan harga dirimu adalah haram di atas kamu sekalian, sama seperti haramnya harimu ini, di bumimu ini dan di bulanmu ini." "Dan kamu akan menemui Tuhanmu dan Tuhanmu akan bertanya kepadamu mengenai amal-amalmu, ingatlah agar jangan sekali-kali kamu menjadi sesat setelah kepergianku nanti di seuntukan kamu saling bunuh sendiri kepada sesama"

Tidakkah telah aku sampaikan?

Jawab mereka: Ya!.

Kata Rasululah : "Ya Allah Ya Tuhanku saksikanlah, akankah yang hadir di antara kamu ini akan menyampaikan kepada yang tidak hadir. Karena bisa jadi yang menyampaikan itu lebih memahami dari pada yang mendengar"

Rasulullah tinggal di Mina selama hari-hari tasyrik, mengerjakan ibadah dan mengajarkan hukum-hukum syariat, memberikan tazkirah, membetulkan ajaran-ajaran hidayah dari ajaran Ibrahim, menghapuskan syirik dan kesan-kesannya.

Rasulullah juga menyampaikannya di tengah hari-hari tasyrik,

Dari  Abu Daud dengan sanad hadits hasan, riwayat Sarra' binti Nubhan telah berkata: "Rasulullah telah menyampaikan sabdanya di hari tasyrik itu dengan: Tidakkah hari ini, hari tengah di antara hari-hari tasyrik.

Sabda Rasulullah itu seperti sabdanya di hari "Nahr" sabda ini disampaikan setelah diturunkan surah Nasr.

 

اِذَا جَآءَ نَصۡرُ اللّٰہِ وَ الۡفَتۡحُ ۙ

وَ رَاَیۡتَ النَّاسَ یَدۡخُلُوۡنَ فِیۡ دِیۡنِ اللّٰہِ اَفۡوَاجًا ۙ

فَسَبِّحۡ بِحَمۡدِ رَبِّکَ وَ اسۡتَغۡفِرۡہُ ؕؔ اِنَّہٗ کَانَ تَوَّابًا

Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan,

dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong,

maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat.

{An-Nasr (النصر) / 110:1 s/d 3}

Di hari Nafar Thani yaitu hari ketiga belas Dzulhijjah, Rasulullah keluar dari Mina bergerak menuju ke dataran tinggi Bani Kinanah di suatu kawasan tanah lapang. Rasulullah menghabiskan sisa hari di situ hingga ke malamnya, Rasulullah telah menunaikan sholat dzuhur, Asar, Maghrib dan Isya'. Setelah itu Rasulullah berbaring, kemudian berdiri dan berjalan menuju ke Ka’bah, di sana Rasulullah melakukan thawaf wada'.

Setelah selesai mengerjakan ibadah hajinya, Rasulullah dengan tergesa menaiki untanya dan pulang ke Madinah Mutahharah. Ini dilakukan karena akan memberi kesempatan kepada mereka untuk beristirahat, karena akan meneruskan kembali berjuang di jalan Allah.

Unit terakhir Pengiriman

Sikap keangkuhan kerajaan Roma yang tidak mau menerima kehadiran Islam di negaranya inilah yang membawa Roma membunuh rakyatnya yang memeluk agama Islam, sebagaimana tindakannya kepada Farwah bin Juzami Gubernur yang dilantik oleh Roma untuk daerah Maan, dibunuh karena memeluk Islam.

Rasulullah melihat peristiwa ini dengan sungguh-sungguh, sikap Roma yang sombong dan keras kepala itu membuat Rasulullah segera mempersiapkan satu angkatan yang besar pada bulan Safar tahun kesebelas (11) Hijriah.

Usamah bin Zaid telah diberi tanggungjawab untuk memimpin angkatan ini. Rasulullah memerintah agar Usamah memasuki perbatasan Balqa' dan Darom di bumi Palestina dengan tujuan untuk menggertak Roma dan mengembalikan kepercayaan bangsa Arab yang berbatasan dengan Roma, agar mereka mengetahui bahwa kebiadapan Roma itu tidak bisa dibiarkan terjadi begitu saja, di samping untuk menghapus sindrom, yang konon katanya memeluk Islam hanya akan membawa kematian.

masyarakat menyebut-nyebut tentang Usamah bin Zaid karena dia merupakan pemimpin tentara Islam yang masih muda, bahkan mereka mengharapkan agar ditunda keberangkatannya.

Di sini Rasulullah mengulas dengan sabdanya yang bermaksud:

"Sekiranya kamu mempersoalkan kepimpinannya berarti kamu mempersoalkan kepimpinan bapaknya yang terdahulu, demi Allah, meskipun kepimpinanya dipertikaikan namun dia adalah layak untuk tugas, bapaknya yang terdahulu adalah orang kesayanganku, dan dia juga di antara orang kesayanganku setelah bapaknya yang terdahulu".

Oleh sebab itu, masyarakat pun mulai berkumpul di sekeliling Usamah yang sedang menyertai barisan tentaranya, akhirnya mereka semua bergerak hingga sampai di persinggahan Jaraf satu Farsakh jaraknya ke Madinah.

Ketika tentara Islam ada di sana, mereka menerima berita tentang Rasulullah   jatuh sakit, berita ini telah membuat mereka ragu untuk meneruskan perjalanan ke Roma, agar mereka dapat mengetahui ketetapan Allah itu.

Dengan izin dan takdir Allah, tentara pimpinan Usamah ini merupakan pengiriman pasukan pertama kemudian, pada masa pemerintahan Abu Bakar Siddiq.

Shallu 'alan Nabi...

Bersambung

BACA JUGA
Sirah Nabawiyah Bagian 33




Sirah Nabawiyah TERBARU


Silahkan Buat akun atau Login untuk Berkomentar dari web!

0 Comment





Sirah Nabawiyah PILIHAN